
Waktu begitu cepat berputar, tidak terasa hari sudah malam. Seperti biasanya, desa Ketang tampak seperti desa mati. Rumah rumah warga tampak tertutup rapat, padahal waktu masih menunjukkan pukul 19:15.
Semilir angin yang berhembus sangat mensusuk tulang, beberapa warga sudah meringkuk dibalik selimut yang tebal. Suara lolongan hewan yang berasal dari hutan ditambah bunyi jangkrik di desa menambah kesan mencekam, satupun warga tidak ada yang berani keluar.
Tidak dengan salah satu pemuda tampan andalan desa, tampak pemuda tampan itu tengah duduk santai didepan teras disalah satu kursi kayu yang memanjang. Dengan ditemani secangkir kopi, tampak kopi itu masih mengepulkan asapnya dan membumbung keatas.
"Kamu tidak masuk le?" tanya pria tua yang berdiri di pintu yang dibuka sedikit ialah mbah Sastro
"Belum mengantuk mbah, mbah tidur saja dulu." sahut Pangeran Segoro
Bukannya menuruti ucapan Pangeran Segoro, mbah Sastro tampak berjalan keluar mendekati Pangeran Segoro. Kemudian duduk bersebelahan karena kursi nya yang memanjang, sementara Pangeran Segoro terlihat tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
"Opo sing kowe pikirke?" tanya mbah Sastro
(Apa yang sedang kamu pikirkan)
"Tidak ada mbah." sahut Pangeran Segoro yang sudah jelas berbohong dan mbah Sastro tahu akan hal itu
"Tidak perlu terlalu memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi le, cukup jalani saja sebagaimana takdir membawamu." ucap mbah Sastro menatap lekat lekat manik mata Pangeran Segoro yang menoleh kearahnya
__ADS_1
"Tapi ini aku yakin sekali pasti akan terjadi mbah, Nyi..." belum sempat Pangeran Segoro menyelesaikan ucapannya, mbah Sastro lekas memotong.
"Jangan sebut namanya jika tidak ingin terjadi sesuatu, bukan berarti karena kalian pernah memiliki hubungan dimasa lalu jadi kamu berfikir kamu akan baik baik saja. Ingat le, dia sudah berubah dia sudah menjadi Ienge Jagad ratu nya kegelapan." ucap mbah Sastro cepat
Pangeran Segoro tampak menghela nafas panjang, kemudian ia mengangguk.
"Aku yakin mbah dia sedang melakukan sesuatu yang akan membahayakan desa nantinya, sementara aku disini hanya duduk diam dan menunggu tanpa tahu apa apa. Aku merasa tidak adil mbah, bagaimana jika aku tidak bisa menghentikan nya." ucap Pangeran Segoro
Mbah Sastro tampak berfikir, karena apa yang dikatakan Pangeran Segoro adalah kebenaran.
"Kita memang punya banyak pasukan laut Segoro, tapi jangan lupakan mbah. Dia jauh lebih kuat dibandingkan kita, pasukan nya juga sudah pasti jauh lebih banyak." ucap Pangeran Segoro lagi kala mbah Sastro hanya diam saja
"Segara getih." gumam Pangeran Segoro
"Iyo, segara getih sedikit sama dengan kawah getih tempat kamu bertapa. Hanya saja, kawah getih hanyalah aliran sungai kecil yang keramat yang hanya membantu memulihkan kondisi kita. Dan, kawah getih juga berada di istana kita...
Sementara segara getih adalah lautan darah yang paling dikeramatkan, letaknya juga lumayan jauh. Wong namanya juga laut toh, segara getih lautan yang paling tinggi diatas lautan lainnya." sahut mbah Sastro menjelaskan
"Aku akan bersemedi mbah." ucap Pangeran Segoro cepat
__ADS_1
"Kamu kuat toh bersemedi sampai sebulan?" tanya mbah Sastro ragu
"Yakin kuat mbah, demi warga desa ini." sahut Pangeran Segoro
Mbah Sastro hanya tersenyum seraya mengangguk anggukan kepalanya.
'Tidak salah aku memilihmu sebagai titisanku le.' batin mbah Sastro masih dengan senyum teduhnya
...****************...
Sementara Nyi Danuwati kini tengah bersemedi, ia telah menyelesaikan satu hari pertapaan nya. Satu hari semalam ia selesaikan dengan baik, karena memang hari pertama sampai hari ketiga tidak terlalu parah hambatan nya.
Sementara setelah hari ketiga hambatan nya akan semakin parah dan banyak, sedangkan Nyi Danuwati harus bersemedi selama dua bulan lamanya. Karena ilmu yang ingin ia dapatkan sangatlah bahaya dan tidak mudah, ia bersemedi ditempat paling keramat di alam manusia.
Sama halnya dengan Pangeran Segoro jika masih ingin bersemedi, ia juga akan bersemedi di alam manusia. Jadi, perputaran waktu sudah pasti mengikuti waktu di alam manusia.
Hari ini masih hari kedua Nyi Danuwati bersemedi, hambatan nya masih terlalu kecil seperti tampak sebuah tangan mencengkram erat pergelangan kaki Nyi Danuwati yang duduk bersila.
Namun Nyi Danuwati masih mencoba untuk fokus, hingga setelah beberapa menit tangan tangan itu berhenti mencengkram dan menghilang. Hingga sampai pagi tidak ada gangguan, sebab itu Nyi Danuwati mampu menyelesaikan pertapaan nya namun entah hari hari berikutnya.
__ADS_1
...****************...