Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kebakaran


__ADS_3

POV Riana


Pada malam hari setelah makan malam bersama kami berbincang sejenak, lalu kami memutuskan untuk tidur. Didalam kamar aku sama sekali tidak bisa terpejam, rasanya banyak sekali masalah yang menganjal di pundak ini hingga tiba tiba aku mendengar suara teriakan dari luar. Lekas aku keluar kamar, dan menghampiri asal suara itu.


Aku membuka kunci dan memutar knop pintu


Cklek cklek


Kreekkk


Pintu berderit pelan, setelah pintu terbuka aku melihat ibu disusul oleh eyang berjalan tergesa gesa.


"Ibu, eyang ada apa?" tanyaku menghentikan langkah mereka


"Kami tidak tau nduk, ini ibu sama eyang mau ngecek keluar." sahut ibuku


"Bapak mana bu?" tanyaku lagi


Belum sempat ibuku menjawab, terlihat bapak menghampiri dengan wajah pucat pasi.


"Pak.. ada apa ini pak." tanya ibuku mewakili pertanyaan kami


"Ada orang yang menyerang kita bu, beberapa pengawal kita sudah tumbang. Dan sekarang, mereka ingin membakar rumah kita. Sebaiknya kalian semua lekas pergi dari pintu belakang, panggil semua abdi di di rumah ini dan ajak mereka." ucap bapak tegang


(Abdi/Art/Pembantu.)


"Ta...tapi bapak kemana toh pak, kita bareng saja." ucap ibuku yang di angguki oleh kami semua


"Tidak bisa bu, bapak harus membantu beberapa centeng kita." ucap bapak tegas


"Tapi pak." sahutku menimpali

__ADS_1


"Sudah lebih baik kalian pergi sekarang, bapak janji akan selamat." ucap bapak seraya berjalan kembali keluar


Kami pun lekas menjalankan perintah bapak, setelah memanggil semua pekerja di rumah ini kami lekas keluar lewat pintu belakang. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikit pun, mereka hanya menurut saja.


Setelah keluar, kami berjalan agak jauh menghindari mereka. Namun, kami masih bisa melihat mereka yang sedang bertarung sengit, disaat bapak lengah salah satu pria berjubah hitam menikam bapak untung nya bapak mengelak dengan membalikkan tubuhnya dan hanya melukai lengan nya saja.


"Arghhhh." teriak bapak


Tapi pria berjubah hitam itu tak membiarkan bapak sedikitpun, disaat ia hendak menyerang bapak kembali tiba tiba dari arah belakang mas Damar menendang punggung pria berjubah hitam itu.


"Arghhh." teriak pria berjubah hitam itu


"Dasar bed*bah." teriak nya lagi


Aku bisa melihat mas Damar berbicara sama bapak, namun aku tidak tau apa yang mereka bicarakan lantaran jauh. Namun, aku melihat bapak hendak kesini mungkin mas Damar menyuruh bapak pergi.


"Bapak tidak apa apa?" tanya ibuku cemas begitu bapak sampai ketempat kami


Dengan sigap aku langsung merobek sedikit bajuku untuk mengikat lengan bapak, agar darah nya terhenti. Kami kembali fokus ke mas Damar yang sangat lihai berkelit, dan menerjang punggung pria itu.


Setelah melumpuhkan pria itu, mas Damar lekas berlari menghampiri kami.


"Kamu tidak apa apa le?" tanya eyang


"Tidak apa apa kok eyang." sahut mas Damar seraya tersenyum kepada kami


Seketika wajah kami seolah terkena terpaan sinar matahari, kami mendongak kedepan. Betapa terkejut nya kami kala melihat rumah kami sudah terbakar, rumah panggung yang memang berbahan kayu papan menyebabkan api yang langsung besar.


"Ya Allah Gusti piye iki." ucap ibuku terisak menangis dan meraung sejadi jadinya


(Ya Tuhan bagaimana ini)

__ADS_1


"Dasar bed*bah siapa yang telah melakukan ini." ucap bapak dengan rahang yang mengeras dengan gigi bergemlutuk seraya mengepalkan tangan nya sampai kuku kuku melukai tangan bapak


"Mengapa bisa terjadi begini, siapa yang tega melakukan ini semua." ucap eyang seraya menangis pilu


Beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian ini langsung menghampiri kami


"Yang sabar ya eyang, mbak yu, Riana, dan pak lurah." ucap salah satu warga


Semua warga mengangguk setuju


"Yang sabar, ini sudah takdir." ucap beberapa warga lagi


"Sekarang kita akan tinggal dimana." ucap ibuku ditengah isak nya


"Di rumah saya saja mbak yu." ucap salah satu warga namun bapak menolak dengan halus, bukan tanpa alasan tapi rumah salah satu warga itu sangat ramai anggota keluarga nya


"Bagaimana jika kerumah saya saja pak lurah." ucap mas Damar


Kami semua mendongak menatap mas Damar, namun bapak menolak karna malu. Setelah cukup lama mas Damar meyakinkan kami semua, kami pun menyetujui. Dikarenakan rumah mas Damar kecil, beberapa para pekerja kami akan tinggal dengan beberapa para warga, para pekerja kami yang ikut bersama kami hanya mbok Sri saja.


...****************...


Setelah sampai di rumah mas Damar, ibu dan adik nya menyambut kami dengan baik.


"Apa yang terjadi toh mbak yu?" tanya bude Ratna - ibu mas Damar kepada ibu ku


Ibuku pun menceritakan semua nya dengan berlinang air mata, seketika bude Ratna terkejut mendengar penuturan ibuku.


"Ya Gusti, siapa yang melakukan ini? Mbak yu dan keluarga yang sabar yo, pasti mereka akan mendapatkan balasan nya dari Sang Maha Kuasa." ucap bude Ratna seraya mengelus tangan ibuku


Setelah berbincang sesaat, kami pun beristirahat. Dikarenakan rumah nya kecil hanya terdapat dua kamar, kami membagi kelompok dengan aku, Hayati - adik Damar, dan mbok Sri tidur bersama di kamar milik mas Damar. Sementara eyang, ibuku, dan bude Ratna tidur di kamar bude Ratna. Sementara yang lelaki, tidur di ruang depan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2