
POV Damar
Hari ini, aku pulang dari kebun milik pak lurah Pramono sudah malam. Dikarenakan, aku harus mengecek semua hasil panen di kebun yang berbeda beda. Terakhir, aku mengecek di desa Sukar.
Aku mengayuh sepeda ku dengan sangat kencang, takut jika ibu dan adikku khawatir karna aku tak kunjung pulang. Lagi pun, hari sudah sangat malam. Aku sudah tak fokus mengayuh sepeda lantaran ingin cepat sampai, tiba tiba.
Bruuaakkk
"Apa itu?" gumamku
Lekas aku turun dari sepeda dan mengecek sesuatu yang aku tabrak tadi, mataku seketika terbelalak lebar menyaksikan seseorang yang sangat aku rindukan berada di semak semak dengan posisi telungkup.
"Riana." ucapku seraya membalikkan tubuhnya
Aku lagi lagi terkejut karna melihat kondisi Riana yang terluka, leher nya yang tersayat hingga mengeluarkan darah yang merembes ke rerumputan. Dahi, dan lengan nya tegores, bahkan hidung nya mengeluarkan darah.
"Mas.. To...tolong." ucapnya terbata bata
"Maksud kamu apa Riana?" tanyaku
Belum sempat ia menjawab ia sudah tak sadarkan diri, aku bingung bagaimana caranya membawa Riana dengan mengunakan sepeda. Tak ingin menunggu lama, takut jika kondisi Riana semakin parah aku lekas mengangkat tubuhnya menuju sepeda.
Namun, aku melihat cahaya obor semakin mendekat. Gegas aku meletakkan tubuh Riana kembali, karena takut jika mereka berpikiran buruk mereka berhenti di depanku.
"Nuwun sewu mas." ucap salah satu dari mereka
( Permisi mas )
"Monggo mas." sahutku
__ADS_1
( Silahkan mas )
"Ehh... Mas lihat tidak perempuan lewat sini, ciri ciri nya tinggi, putih, rambut panjang, hidung nya pesek tapi cantik." tanya nya
Seketika aku langsung memikirkan Riana, apa jangan-jangan Riana lari dari mereka.
"Tidak mas, saya tidak liat." sahutku
"Oh ya sudah kalau begitu mas, kami permisi dulu matur nuwun." ucapnya seraya mengangguk dan menaiki sepeda kemudian pergi
( Matur nuwun / Terimakasih )
Aku lekas kembali menghampiri Riana, dan membawa nya menuju rumah nya. Sesampainya di depan rumah nya, aku mengetuk pintu.
Tok tok tok
Namun tidak ada jawaban, aku memperhatikan sekitar namun sepi. Centeng nya saja tidak ada, mungkin sudah beristirahat mengingat hari sudah larut malam.
Tok tok tok
"Ada apa ini, kenapa anak saya." ucapnya cemas seraya mengambil alih Riana dalam gendongan ku dan membaringkan nya di kursi yang terbuat dari rotan
"Saya tidak tau pasti apa yang terjadi, tapi tadi saya menemukan Riana di tengah jalan." ucapku
Aku pun menceritakan semua yang terjadi tanpa ada satupun yang kututupi. Mendengar penuturan ku, seketika wajah mereka tampak panik
"Ya sudah saya pamit dulu, ini sudah malam." ucapku sopan seraya mengangguk
"Kamu tidak istirahat dulu saja le, Pasti capek toh." ucap eyang Kasum - eyang Riana
__ADS_1
"Tidak usah eyang, saya takut ibu khawatir." tolakku halus
"Yasudah kamu hati hati, terimakasih ya." ucapnya seraya tersenyum tulus
Setelah berpamitan, aku lekas kembali mengayuh sepeda untuk pulang. Selama perjalanan, aku tak henti henti memikirkan Riana.
Sesampainya didepan rumah, aku menaruh sepeda di samping rumah setelah itu aku masuk ke dalam rumah yang berbentuk joglo dengan ukuran kecil ini. Aku membuka pintu, dan melihat ibuku duduk di kursi yang terbuat dari bambu.
"Ibu belum tidur?" tanyaku
Sebetulnya aku tidak heran, karena disetiap aku pulang telat pasti ibu akan menungguku.
"Belum le, ibu khawatir sama kamu." ucap ibuku
"Damar tidak papa kok bu." sahutku seraya tersenyum ke arah ibuku
"Iyoo, tapi kenapa kamu pulang telat le?" tanya ibuku penasaran
Aku pun menceritakan bagaimana bisa aku pulang telat, mulai dari mengecek kebun hingga masalah Riana tadi.
"Kok bisa toh le? Atau jangan jangan Riana kabur karena mereka menyakiti Riana, kan semua orang juga tau bagaimana keluarga juragan Karno." ucap ibuku
Aku berfikir sesaat, kalau benar mereka yang menyakiti Riana aku tidak akan tinggal diam. Tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti Riana ku, tidak ada.
"Yasudah kamu mandi, makan, setelah itu tidur le." ucap ibuku
"Nggeh bu."
(Iya bu)
__ADS_1
Aku lekas bangkit dari duduk dan berjalan ke arah sumur belakang rumah, setelah melakukan ritual permandian aku pun langsung tidur.
...****************...