Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Memasuki Kediaman Juragan Karno


__ADS_3

POV Author


Setelah sesampainya dirumah Purwo semua orang terkejut melihat ia membawa wanita yang tidak lain adalah Riana, lebih terkejut nya lagi mereka kala memperhatikan Riana dengan lekat.


Wajah yang lusuh, pakaian yang sobek dibeberapa bagian, dan juga terdapat banyak noda kotoran di pakaian dan di wajah. Namun mereka semua tidak berani untuk berucap sepatah katapun, mereka hanya bisa ternganga menyaksikan Riana dan Purwo masuk kedalam rumah.


"Mbok siapkan wedang jahe tiga." ucap Purwo kala melihat mbok Asih yang kebetulan lewat


"Njih, baik juragan." sahut mbok Asih seraya berlalu pergi menuju dapur


"Dan satu lagi mbok." ucap Purwo


Sontak perkataan Purwo baru saja membuat langkah mbok Asih terhenti, dan berbalik kemudian menoleh.


"Ada apa tuan?" tanya mbok Asih


"Panggilkan ibu dulu, setelah itu baru mbok Asih membuatkan wedang jahe." ucap Purwo


"Baik tuan." sahut mbok Asih seraya pergi menuju kamar Nining


Sesampainya didepan kamar Nining, lekas mbok Asih mengetuk pintu pelan.


Tok tok tok


Namun tidak ada sahutan, mbok Asih pun belum menyerah dan mengetuk pintu kembali lebih kencang.


Tok tok tok

__ADS_1


Kali ini terdengar ada pergerakan dari dalam, suara orang berjalan terdengar begitu jelas karna rumah ini masih rumah panggung.


Tidak lama kemudian pintu dibuka perlahan.


Kriettt


Suara bunyi derit pintu kala dibuka perlahan menambah kesan horor, setelah pintu terbuka lebar dan menampakkan wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya.


Mbok Asih pun mengatakan niat nya untuk datang kesini.


"Emm.... Ma...Maaf nyonya, saya disuruh tuan Purwo untuk memanggil nyonya." ucap mbok Asih


"Ada perlu apa dia mbok?" sahut Nining bertanya


"Ti..Tidak tau nyonya, mungkin saja hal yang penting karena tadi saya melihat bahwa tuan Purwo bersama wanita." ucap mbok Asih gugup karena ketakutan


"Wanita, siapa mbok?" tanya Nining


Mbok Asih memang belum mengenal Riana, karena pasalnya sebelum ini Riana tidak pernah datang kesini. Dan, di waktu pernikahan Purwo dan Riana pun mbok Asih tidak bisa hadir.


"Yasudah mbok, saya akan kesana." ucap Nining


Mbok Asih hanya mengangguk singkat, dan segera berlalu dari hadapan Nining. Mbok Asih segera menuju dapur, dan menyiapkan wedang jahe beserta pisang goreng.


Sepeninggal mbok Asih, Nining segera menutup pintu kamar nya dan menghampiri Purwo yang berada diruang tamu. Sesampainya diruang tamu, Nining sangat terkejut kala melihat Riana apalagi dengan keadaan seperti ini.


"Kamu kenapa nduk, kok bisa seperti ini?" tanya Nining disertai dengan cemas

__ADS_1


"Eumm.. Tidak apa apa kok bu." sahut Riana


Belum sempat menjawab ucapan Riana, Purwo langsung menimpali.


"Mulai sekarang Riana akan tinggal disini lagi." ucap Purwo yang langsung beranjak pergi menuju kamar nya tanpa menghiraukan panggilan ibunya.


Nining yang melihat Purwo sudah pergi seketika ia menoleh kearah Riana, karena ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Purwo.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Nining mengulangi pertanyaan yang sama lagi


Riana pun menceritakan semua tentang kronologi nya, seketika Nining terperangah mendengar cerita dari Riana. Meskipun sedikit berat karena itu mengingatkan ia pada kejadian tragedi berdarah itu, tapi ia tidak bisa melakukan apa apa.


"Tapi apa kamu masih mau bersama Purwo? Dia memiliki suatu penyakit kel*min yang tidak bisa berhubungan dengan wanita lagi. Apa kamu bisa menerima, biar bagaimana pun kamu masih muda dan normal." ucap Nining panjang lebar


Seketika ucapan Nining barusan sontak membuat Riana tersenyum penuh arti, walaupun tidak jelas terlihat.


"Tidak apa apa bu, Riana dengan ikhlas menerima." sahut Riana menyakinkan


"Yasudah kamu istirahat saja, kalau begitu ibu duluan ya kepala ibu terasa pusing." ucap Nining


"Njih bu." sahut Riana seraya mengangguk dan tersenyum pelan


Nining pun lekas berjalan kearah kamarnya, tinggallah Riana seorang diri diruang tamu beserta rencana rencana yang sudah ia rancang.


"Sebentar lagi penderitaan mu akan dimulai mas Purwo." gumam Riana pelan


"Waktuku tidak banyak, aku hanya memiliki waktu sebelum malam satu suro. Karna setelah itu, musuhku sudah berganti." gumam nya lagi dengan sangat pelan sehingga hanya ia sendiri yang mendengar.

__ADS_1


Ia pun bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamar tamu, setelah itu ia pun beristirahat.


****************


__ADS_2