
Crashh
Seketika darah segar muncrat dan mengenai wajah Yanto yang melotot dengan kaku, patahan kayu itu menancap dengan sempurna diatas perut Yanto. Dada Yanto seketika berhenti naik turun, ia meregang nyawa dengan mata melotot.
"Sekarang giliranmu." Ucap Nyi Danuwati dengan senyum menawan kearah Nurdin.
Wajah Nurdin sangat jelas terlihat tersirat ketakutan, matanya bahkan sudah basah sedari tadi karena menangis. Ia menggeleng ketakutan, namun Nyi Danuwati tidak perduli.
"Mata balas mata, darah balas darah, dan nyawa balas nyawa." Ucap Nyi Danuwati dengan tatapan tajam namun kosong, tatapan itu seolah hampa.
"Am..pun." Ucap Nurdin terisak.
"Ampuni saya, tolong maafkan saya, saya sungguh minta maaf." Ucapnya lagi.
"Ternyata kau sangat tidak setia kawan, bagaimana bisa temanmu sudah mendapat balasan sementara kau bebas. Setidaknya, kau harus menyusul temanmu sebagai teman yang setia." Sahut Nya Danuwati.
"Tidak, saya mohon ampun." Ucap Nurdin seraya bersimpuh.
Tidak ingin membuang waktu dan tampaknya Nyi Danuwati juga sudah jengah, ia segera melemparkan selendang miliknya. Setelahnya, selendang itu terbang meliuk liuk seperti ular.
Nurdin yang melihat itu memejamkan mata, ingin berlari namun masih tidak bisa. Kakinya seolah benar benar tertancap diatas tanah, ia sudah pasrah akan nasibnya. Setidaknya ia tidak mengalami seperti Yanto, disiksa terlebih dahulu.
Krakk
Crashh
Bugh
Tubuh Nurdin jatuh terkulai tanpa kepala, yah selendang milik sang ratu hutan larangan membabat habis kepala Nurdin. Tubuh Nurdin terjatuh bersamaan dengan kepala yang mengerikan, tampak darah segar dimana mana. Hutan larangan kini seolah berubah menjadi lautan darah, bau anyir seketika meruak.
"Hanya tersisa satu lagi, sebentar lagi giliranmu Ginanjar." Ucap Nyi Danuwati seraya menatap lurus kedepan.
"Aku tidak akan menunggu lagi, aku akan membalas mu."
Kemudian sosok Nyi Danuwati berbalik bersamaan dengan kepulan asap hitam, kemudian hilang.
...----------------...
__ADS_1
Keesokan paginya, seperti biasa para warga melakukan berbagai aktivitas mereka masing masing. Ada juga yang sudah pergi ke kebun karena panen, sungguh pemandangan indah yang tidak akan ditemui dikota.
Berbeda dengan mereka yang tampak tidak ada beban sedikitpun, lain hal dengan Ginanjar. Terlihat pria itu sedang ketakutan dan berteriak melihat sosok Hayati, sebenarnya para warga yang berjarak dekat mendengar suara lengkingan itu.
Namun bukan menjadi rahasia umum lagi jika Ginanjar dikatakan sudah gila, entah itu gila beneran atau hanya takut semata. Yang pasti warga sudah menganggap Ginanjar gila, jadi mereka tidak memperdulikan teriakan dari orang gila.
"Pergi kamu setan sialan." Ucap Ginanjar seraya melempari semua barang barang yang bisa ia jangkau.
Sementara sosok Hayati masih bergeming, semua barang yang terlempar menembus tubuh penampakan Hayati.
"Pergi hahahaha." Tampaknya Ginanjar memang sudah gila.
Brak
Tiba tiba pintu terhempas kuat hingga terbuka lebar dan menampilkan pemandangan diluar, sosok wanita cantik bermahkotakan emas melenggang masuk dengan gemulai.
"Kini giliranku." Ucap wanita yang berparas rupawan itu.
Seketika sosok Hayati mengepul seperti kabut dan hilang, untuk sesaat Ginanjar merasa lega. Namun sedetik kemudian ia kembali resah melihat makhluk asing didepannya, sementara warga yang jaraknya dekat sepertinya sudah pergi melakukan pekerjaan mereka masing masing.
Ginanjar kembali menelisik wajah wanita yang ada didepannya, terlihat dari alis Ginanjar yang mengerut. Hingga tiba tiba Ginanjar terperangah, ia kemudian mundur perlahan.
"Ka..kau bagaimana bisa, ka..kau sudah ma..mati." Ucapnya
"Namun sayangnya belum, dan kali ini aku pemenang nya." Sahut Nyi Danuwati.
"Pergi." Ginanjar semakin hilang kendali.
"Terima balasanmu." Teriak Nyi Danuwati menggelegar.
Nyi Danuwati kemudian melemparkan selendang nya, seperti biasa selendang itu terbang meliuk liuk dan melilit leher Ginanjar. Ajaib nya tubuh Ginanjar terangkat seperti gantung diri, matanya melotot lebar dengan lidah menjulur keluar.
Wajahnya sudah memerah kehabisan nafas, mahkota Nyi Danuwati memancarkan sinarnya mengarah pada Ginanjar. Bagai sinar X pancaran sinar itu menembus kedalam tubuh Ginanjar dan seperti merobek organ dalamnya, Ginanjar menggelinjang hebat.
"To..long." Ucapnya yang bahkan suaranya tidak terdengar sama sekali.
"Am..pun."
__ADS_1
"Lepas."
Namun itu semua tidak berguna sama sekali bagi wanita bengis didepannya, darah segar keluar dari mulut Ginanjar. Bahkan matanya sudah berwarna putih saking merasa sakit, hingga tiba tiba tubuhnya terpelanting kuat.
Brak
Dinding yang ditabrak oleh Ginanjar tampak goyang hampir rubuh, hingga tiga celurit yang berada didalam kamar seketika terbang dan berhenti diatas Ginanjar yang masih terlentang dari jarak tiga meter.
Melihat itu Ginanjar semakin ketakutan dan mundur dengan merayap, salah sedikit saja sudah dipastikan celurit itu jatuh kebawah dan menembus perutnya.
"Aku akan menghentikan penderitaan mu, sebelum mati katakan permintaan terkahir mu." Ucap Nyi Danuwati.
Sementara Ginanjar sudah tidak sanggup untuk bicara, terlebih lehernya masih terasa sangat sakit.
"Baiklah, selamat jalan Ginanjar." Ucap Nyi Danuwati.
Bersamaan dengan itu, tiga celurit melesat dan menukik tajam mengarah tubuh Ginanjar.
Crashh
"Arghh."
Crash
Crashh
Tiga celurit kini telah bersarang diatas tubuh Ginanjar, satu dibagian kepala, leher, dan perut. Darah segar menggenangi kediaman Ginanjar, tidak ada yang tahu jika ia sudah menemui mautnya.
"Kini semua sudah berakhir."
"Dendamku sudah terbalaskan."
"Dendam yang terbalaskan." Ucapnya dengan pandangan sayu.
Kemudian ia kembali berbalik dan pergi.
~TAMAT~
__ADS_1