
"Sampean bawa uang kan?" Tanya Nurdin.
"Wes aman."
Mereka pun menaiki kendaraan umum menuju terminal, sesampainya di terminal mereka berdua segera masuk kedalam bus. Hingga beberapa saat menunggu, bus pun melaju meninggalkan perkotaan.
"Sudah tidak sabar." Ucap Yanto.
Entahlah mereka tidak menyadari apapun, sepertinya pikiran mereka memang sudah dikendalikan sepenuhnya oleh Nyi Danuwati.
...----------------...
Langit sudah memancarkan semburat keemasan tanda waktu sudah memasuki sore, Yanto dan Nurdin sudah tiba dijalan yang dipenuhi oleh pohon pinus yang berjejer rapi kiri kanan. Tampak masih ada satu kuda delman lagi, mereka berdua pun lekas menghampiri kusir delman yang duduk cantik didekat kuda membelakangi mereka.
"Nyuwun pangapunten." ucap Yanto.
(Permisi kang.)
Hening, kusir itu tidak menjawab ataupun menoleh sedikit saja. Yanto dan Nurdin pun tidak bisa melihat jelas wajahnya karena kusir itu menunduk, bahkan tercium aroma kapur barus.
"Apakah kakang sedang mencari penumpang? Bisa antarkan kami kedesa Ketang?" Ucap Nurdin kali ini.
__ADS_1
Kurir itu hanya mengangguk dengan gerakan slowmo tanpa menjawab, Yanto dan Nurdin seketika meremang. Namun mereka pun tidak dapat melakukan apapun, dilihat dari luar mereka memang tampak normal. Namun kenyataannya pikiran mereka memang dikendalikan oleh Nyi Danuwati, alhasil mereka berdua pun segera naik kedalam delman.
Dengan tiba tiba kusir itu menjalankan delman nya tanpa aba aba, membuat kedua penumpang itu tersentak kebelakang. Tiba tiba suasana sangat mencekam, dingin seketika menjalari mereka hingga tiba tiba.
"Ini dimana?" Tanya Yanto.
Bagaikan seseorang yang jiwanya melayang entah kemana dan baru kembali sekarang ia kebingungan dengan dirinya berada, sepertinya pengaruh Nyi Danuwati sudah hilang atau bahkan sengaja dihilangkan.
"Ehh." Kali ini giliran Nurdin yang menyusul kesadaran.
Hingga mereka berdua saling pandang dengan sorot wajah yang kebingungan, bagaimana tidak. Seingat mereka, mereka sedang berada dikota namun tiba tiba sekarang berada didalam delman menuju antah berantah.
"Ini jalan menuju desa Ketang." Ucap Nurdin yang lebih dulu menyadari sesuatu.
"Bagaimana bisa?"
"Kang berhenti kang, atau putar balik saja." Ucap Yanto.
Namun kusir itu seakan tuli, ia tidak menjawab apapun.
"Kang berhenti!" Seru Nurdin.
__ADS_1
Bukan nya berhenti, laju kuda justru semakin cepat hingga kedua penumpang itu duduk bergetar karena naik turun. Sementara kusir seolah tidak terusik sama sekali, ia bahkan duduk dengan tenang tanpa sedikitpun mengalami hentakan.
"Ada yang tidak beres." Ucap Yanto.
Semakin pucat lah wajah mereka, bahkan tidak cukup dengan itu. Delman itupun ikut mengalami hentakan yang sangat kuat hingga hampir terjengkang, alhasil Nurdin dan Yanto yang tadinya niat melompat jadi urung.
Mengingat hari entah mengapa begitu cepat berganti malam, sejauh mata memandang hanya ada kegelapan. Bahkan pohon pohon yang tumbuh subur tidak terlihat saking gelapnya, hanya terlihat seperti siluet bayangan.
"Bagaimana ini kang?' Tanya Yanto ditengah kepanikan.
"Ti..tidak tahu, apa yang harus kita lakukan?" Bukannya memberi solusi Nurdin malah balik bertanya.
Hingga tanpa sadar kuda melaju kencang menuju hutan larangan yang anehnya mereka tidak melewati perumahan warga, atau justru mereka berada di alam yang berbeda? Entahlah.
"To..long berhenti." Ucap Yanto gugup saking panik nya.
"Berhenti!"
Nurdin berusaha keras untuk mendekati kusir itu ditengah hentakan kuda yang begitu kencang membuat mereka duduk dengan tidak tenang, setelah dekat Nurdin seketika mencengkram bahu kusir itu.
"Hah."
__ADS_1
Secepat kilat Nurdin melepaskan cengkeraman nya karena merasakan hawa tubuh kusir itu sangat dingin seperti mayat, bahkan aroma kapur barus semakin tercium pekat. Hingga tiba tiba sosok yang sedari tadi duduk dengan tenang seolah tidak ada gangguan apapun itu seketika berbalik menatap kedua manusia yang ada dibelakang, dan seketika nafas Yanto dan Nurdin tercekat.
...****************...