Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kepanikan Damar


__ADS_3

POV Damar


Sudah hampir malam, aku dan pekerja lain termasuk mang Kurdi memutuskan untuk pulang. Hari ini memang tidak seperti biasanya yang pulang sekitar sore hari, karena hari ini adalah hari panen jadi pulang hampir sudah malam.


"Ayo mang." ucapku kepada mang Kurdi


"Iya ayo nak Damar." sahutnya


Kami pun mengayuh sepeda masing masing dan berdampingan, sepanjang jalan aku bertanya kepada mang Kurdi tentang rencana pembangunan rumah Riana dulu.


"Jadi mang Kurdi sudah urus surat suratnya?" tanyaku


"Sudah nak, mamang dibantu temannya nak Riana." sahutnya


Dahiku mengernyit bingung.


"Teman." desisku yang masih didengar oleh mang Kurdi


"Iyo nak, namanya Mahendra." ucapnya


Seketika aku merasakan panas di sekujur tubuhku, entah mengapa aku merasa tidak terima mungkinkah aku cemburu.


"Ohh, terus kapan kira kira rumahnya dibangun kembali mang?" tanyaku


"Kata nak Riana sih terserah saja, asalkan secepatnya. Rencana mamang sih setelah selesai panen, menurut kamu bagaimana." ucap mang Kurdi


"Aku setuju saja mang." sahutku manggut manggut


Hingga tiba tiba dari kejauhan kami melihat sesuatu yang berwarna merah.


"Itu apa nak Damar?" tanya mang Kurdi


"Tidak tahu mang, ayo kita lihat saja." sahutku


Hingga sepeda yang kami kayuh semakin dekat, semakin jelas pula itu apa. Seketika mata kami terbelalak, kala melihat sosok manusia yang tergeletak disana.


"Ini siapa nak?" tanya mang Kurdi seraya turun dari sepeda menghampiri sosok itu


Aku pun mengikuti mang Kurdi, dari arah pakaiannya aku merasa itu adalah Sekar. Mengingat tadi siang ia menghampiri ku di kebun dengan memakai pakaian yang seperti itu, namun bisa saja orang lain.

__ADS_1


Hingga mang Kurdi membalikkan tubuhnya yang tengkurap, mata kami seketika membola lebar. Sosok yang tergeletak itu adalah Sekar, dengan kondisi yang memperhatikan.


"Ya Allah nduk, kamu kenapa." ucap mang Kurdi histeris


Aku kembali ke sepeda milikku untuk mengambil sebotol air minum yang selalu kubawa, kebetulan tadi aku sudah mengisi nya digubuk.


Setelahnya, aku memberikan botol itu kepada mang Kurdi.


"Ini mang, coba saja diminumkan kepada Sekar. Atau, siram saja wajahnya." ucapku seraya menyodorkan sebotol air minum


"Iya nak Damar." sahutnya seraya menerima botol dari tanganku


Segera mang Kurdi menuang sedikit air ke telapak tangannya, kemudian ia memercikkan air itu ke wajah Sekar berulang ulang sampai sadar.


Hingga mata Sekar terlihat mengerjap ngerjap, detik kemudian ia pun tersadar.


"Syukurlah nduk, kamu sadar juga." ucap mang Kurdi


Sekar masih terlihat linglung, mungkin saja ia sedang mengingat ingat apa yang terjadi hingga tiba tiba ia histeris.


"Pak... Pak ada hantu pak." ucap Sekar gemetar


"Sekar tidak berbohong pak, ada hantu. Hantu itu meneror Sekar, bahkan hantu nya bude...." ucapan Sekar terhenti kala melihat ku


"Bude siapa?" tanya mang Kurdi


Seketika Sekar menggeleng cepat.


"Ti..Tidak ada." ucap Sekar


Entah mengapa aku merasa ia menyembunyikan sesuatu yang aku tidak boleh tahu, namun aku tidak boleh berpikiran buruk dulu.


"Yasudah ayo pulang saja." ucap mang Kurdi


Kami pun kembali mengayuh sepeda dengan Sekar di boncengan mang Kurdi, aku merasa aneh dengan sikapnya. Biasanya saja, ia selalu mencari alasan untuk bisa bersamaku.


Namun aku tidak terlalu perduli, justru itu lebih bagus menurutku. Karena aku risih jika terus terusan dekat dengan Sekar, setidaknya sekarang aku bisa bernafas lega.


Hingga beberapa lama mereka sampai dirumah mereka, rumah mang Kurdi memang lumayan dekat jika ke kebun dibandingkan rumah warga lain yang masih agak maju ke pemukiman warga.

__ADS_1


"Mampir dulu nak Damar." ucap mang Kurdi


"Njih terimakasih mang, tapi aku sepertinya langsung saja. Pasti ibu juga sudah cemas menunggu, kalau begitu aku pamit mang." sahutku


Aku memperhatikan wajah Sekar yang gelagapan kala aku mengucapkan kata ibu, namun ia segera memperbaiki raut wajahnya.


"Yasudah, kamu hati hati yo." ucap mang Kurdi


"Njih mang." sahutku


Setelah berpamitan, aku segera mengayuh sepeda ku menuju rumah. Hingga beberapa lama kemudian, aku akhirnya sampai.


Aku terkejut kala melihat pintu terbuka lebar, sedangkan kondisi dalam rumah sangat gelap. Buru buru aku menaruh sepedaku disamping rumah, kemudian aku langsung masuk kedalam.


Segera aku menyalakan beberapa lampu petromax, dan menutup jendela dan pintu terlebih dahulu. Kemudian aku mencari ibu dikamar tidak ada, bahkan didapur, disumur, dibelakang rumah yang dipenuhi pepohonan juga tidak ada.


Seketika aku merasa panik, aku bisa saja berpikir mungkin ibu dirumah warga yang lain. Tapi aku juga tahu, jika ibu tidak pernah membiarkan rumah dalam kondisi seperti tadi.


"Ibu, ibu dimana." ucapku berteriak dibelakang rumah yang dipenuhi pepohonan itu


Aku segera masuk dan menutup pintu belakang, aku keluar dari pintu utama untuk mencari ibu dirumah warga lain.


Aku menutup pintu dan menghampiri beberapa rumah warga yang bisa dihitung dengan jari disini, kami memang sengaja tinggal yang jauh dari pemukiman warga.


Namun sudah semua rumah warga ku datangi namun ibu tidak ada, dan mereka juga tidak tahu dimana.


Hanya satu yang menganggu pikiranku, ada salah satu warga bernama bu Yeti tetangga yang paling dekat dengan rumah kami. Ia mengaku melihat Sekar bertamu pagi pagi kemudian pergi, tidak lama ibu menyusul.


Mungkin kedengaran nya tidak ada yang aneh, namun jika aku memperhatikan sikap Sekar yang aneh entah mengapa ada yang janggal.


Aku kembali lagi kerumah untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu sebelum kembali mencari ibu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu dengan ibu.


Aku lebih tidak memaafkan lagi jika ternyata seseorang mencelakai ibu entah itu lelaki atau perempuan, aku akan tetap membuat perhitungan.


Segera aku masuk kedalam sumur setelah mengambil pakaian ganti, setelah selesai mengguyur tubuhku aku segera memakai pakaian dengan terburu buru.


Aku kembali keluar dan tidak lupa menutup pintu, aku mengambil sepeda yang berada disamping rumah. Aku bersiap mengayuh, tapi terhenti kala mendengar suara seseorang yang familiar.


"Damar."

__ADS_1


Aku menoleh kebelakang, kala mendengar suara itu. Seketika mataku terbelalak, aku terkejut.


__ADS_2