
"Riana."
Deg
Aku mendengar suara yang sangat familiar, dengan spontan aku menghentikan langkah kaki ku. Tanpa menoleh kebelakang, aku bisa merasakan seseorang sedang berlari mendekat.
Hingga tidak beberapa lama, seseorang itu sudah berdiri tegap di depan ku. Aku bisa melihat seorang pria dengan kulit hitam manis, dengan setipis kumis, bulu serta alis mata yang hitam dan tebal.
Bibir yang merah alami, sungguh aku merindukan seseorang yang sedang berdiri di depan ku ia adalah Damar.
Untuk sejenak kami hanya berdiam diri, tidak ada yang bersuara hanya saling memandang saja.
"Ternyata ini beneran kamu." ucapnya sumringah
Aku hanya diam tak menanggapi, aku berusaha menahan gejolak yang ada didalam dada.
"Mas rindu kamu." ucapnya sendu
Matanya bahkan sudah berkaca kaca, apa Damar tidak tahu jika hal seperti ini lah yang akan melemahkan ku.
'Arghh sesak sekali.' batinku seraya menahan nafas sejenak
Dengan tiba tiba mas Damar memelukku erat, aku membiarkan ia memelukku sejenak.
""Mas sangat merindukanmu, sejak kejadian malam itu waktu Sekar memelukku mas jadi merasa bersalah. Namun di satu sisi, mas berfikir jika ini yang terbaik. Dengan begitu kamu akan tetap kuat dan membalaskan dendam mu, namun mas yang tidak kuat. Mas terlalu mencintaimu." ucapnya seraya melepas pelukan nya
Aku hanya bisa menatapnya yang sudah dibanjiri air mata, aku menarik dan menghembuskan nafas pelan. Aku tidak tahu harus berkata apalagi, aku juga merasakan hal yang sama.
"Oh mas lupa, kamu ada perlu apa kesini?" tanya mas Damar
"Ngecek kondisi rumah mas, soalnya aku mau membangun ulang seperti rumah yang dulu." sahutku
"Ooo nanti aku bantuin ngurus nya."
"Udah diurus sama pakde Kurdi kok mas."
__ADS_1
"Yo tidak apa apa toh, nanti aku bantuin mang Kurdi." ucapnya
Aku hanya mengangguk pelan, susah memang menghentikan mas Damar jika sudah berkeinginan.
"Kamu mau pulang, mas anterin ya." ucapnya
"Eumm, belum mau pulang mas. Masih mau jalan jalan, hari juga masih menjelang siang."
"Bagaimana jika kita ke danau tempat yang biasa kita kunjungi, mas sudah menyiapkan sampan. Jadi jika sewaktu waktu kita ketemu, kita bisa ke danau dan berlayar diatas sampan." ucapnya seraya tertawa renyah
Aku hanya mengangguk, segera mas Damar berbalik mengambil sepeda nya yang ia parkir tidak jauh dari kami.
'Kamu sadar apa yang kamu lakukan Riana.' ucap keris ku hanya aku yang bisa mendengar
'Sudahlah, untuk saat ini biarkan aku menjalani hariku.' ucapku dalam hati
Tidak lama muncul mas Damar, segera aku naik di boncengan. Kemudian sepeda pun melaju sedang, aku memeluk pinggang mas Damar kala sepeda melintasi jalan yang berbatuan padahal masih ada jalan yang mulus.
Hingga tidak lama, kami sudah sampai ditepi danau. Dan benar saja, dipinggir sana aku melihat sebuah sampan yang terikat. Danau disini cukup indah, bahkan lebih indah daripada danau yang berada dibelakang kebunku.
Dengan memegang tangannya, aku segera naik keatas sampan disusul oleh mas Damar. Kemudian kami berdua segera mendayung hingga sampai ketengah, aku berhenti mendayung.
"Kamu capek?" tanya mas Damar
Aku hanya melihat nya saja, tidak mungkin juga aku mengatakan jika aku tidak pernah mengalami yang namanya capek. Semenjak aku bersemedi di sendang Wonogiri, aku sudah tidak pernah mengalami lelah lagi.
"Yasudah berhenti dulu." ucap mas Damar
Kemudian kami hanya saling pandang, tiba tiba saja dadaku berdebar kencang. Aku merasa gugup, perasaan ini benar benar tidak bisa ku kendalikan.
Aku sangat merindukan mas Damar, jika bersama nya membuatku lemah dan bisa saja mati. Apa bedanya jika tidak bersamanya, aku akan tetap mati dengan melawan perasaan.
"Kamu kenapa?" tanya mas Damar seraya menggenggam tanganku
Tanpa menjawab ucapannya aku melepaskan tanganku yang digenggam oleh mas Damar, kemudian aku mengalungkan kedua tanganku dileher nya.
__ADS_1
Aku menatap mas Damar sesaat, kemudian aku mengecup bibirnya. Merasa tidak ada penolakan, aku terus saja melakukan aksiku. Disaat aku ingin menyudahi kecupan panas ini, dengan sigap mas Damar menahan tengkukku.
Seraya melingkarkan sebelah tangannya di pinggang ku, mas Damar mulai membalas kecupan ku. Ciuman panas pun terjadi, kami berhenti sejenak dan mengambil oksigen dengan rakus.
Nafas kami terengah-engah, aku menatap mas Damar yang juga menatapku. Detik kemudian, kami tertawa bersama.
'Ini sungguh gila.' batinku
"Tetaplah seperti ini." ucapnya seraya mengelus pipiku
Aku hanya tersenyum menanggapi nya, hingga mas Damar pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku dan ciuman panas pun tak terelakkan.
Hingga senja hari, kami segera berlalu ketepi danau. Setelah mengikat kembali sampan kami berjalan kearah sepeda, didekat sepeda kami berhenti sejenak.
"Mas."
"Hmm."
"Kenapa sampan nya tidak dibawa saja, nanti kalau dicuri orang bagaimana." ucapku
Seketika mas Damar tertawa, sementara aku hanya merutuki diriku sendiri.
"Boleh juga, kamu yang megang sampan nya dari belakang yo." ucapnya disela tawanya
Aku hanya mendelik sinis.
"Lagian siapa yang berani mencuri hmm." ucapnya
Aku hanya tersenyum kikuk, kemudian mas Damar memelukku dengan sangat erat. Akupun membalas pelukannya, kemudian mas Damar mengecup kening ku.
"Yasudah ayo naik, nanti lama lama mas bisa khilaf loh." ucapnya
Mendengar ucapan mas Damar sontak membuatku memayunkan bibir, merasa gemas dengan diriku mas Damar pun mengecup bibirku singkat.
Kami pun naik, dan sepeda pun melaju menuju ke desa Sumbul.
__ADS_1
...****************...