
"Yowes yang terpenting sampean sudah lebih baik." ucap mbah Sastro
"Matur nuwun sanget mbah." sahut mang Kurdi dengan sopan seraya menunduk
(Terimakasih banyak mbah)
"Ora masalah." ucap mbah Sastro
(Tidak masalah)
"Kalau begitu kami pamit dulu yo." ucap mbah Sastro lagi setelah hening beberapa detik
"Tidak sebentar lagi saja mbah? Biar saya buatkan minuman dulu." sahut mang Kurdi merasa tidak enak karena tidak memberikan suguhan kepada tamu
"Tidak usah, sebaiknya sampean istirahat saja dan tidak usah ke kebun dulu." ucap mbah Sastro lagi
"Sekali lagi terimakasih banyak mbah, maaf karena sudah merepotkan jenengan." sahut mang Kurdi
Mbah Sastro hanya mengangguk pelan, kemudian mereka bertiga segera berpamitan dan kemudian pergi meninggalkan kediaman mang Kurdi.
Sesampainya di persimpangan jalan menuju kebun, mereka berhenti sejenak karena Pangeran Segoro ingin mengucapkan sesuatu.
__ADS_1
"Mbah bagaimana jika kami berdua langsung ke kebun saja?" tanya Pangeran Segoro sekaligus meminta persetujuan mbah Sastro
"Yowes, sebaiknya memang seperti itu jika bolak balik pasti kalian merasa capek." sahut mbah Sastro
Mbah Sastro tentu tidak terlalu memusingkan Pangeran Segoro karena ia tidak akan merasa letih, namun bagaimana dengan Kemal? Tentu pemuda itu pasti merasa letih.
"Apa mbah tidak merasa..." ucapan rasa tidak enak Pangeran Segoro tergantung karena dipotong oleh mbah Sastro
"Sudah, mbah bisa sendiri kalian hati hati yo." ucap mbah Sastro
"Yowes, kalau begitu kami pamit duluan mbah." sahut Pangeran Segoro
Mbah Sastro seperti biasa hanya mengangguk dan tersenyum, setelah mereka pergi mbah Sastro pun segera bergegas pulang dengan tertatih tatih. Wajar saja, mbah Sastro sudah sangat tua hingga jalannya setengah bungkuk.
Sejenak mbah Sastro terdiam seraya menatap lurus rumah itu, entah mengapa perasaan nya tiba tiba saja tidak enak. Setelah cukup lama terdiam, mbah Sastro kemudian masuk ke dalam.
Kriettt
Pintu berderit kala dibuka perlahan, mbah Sastro seketika memperhatikan sekitar dan kosong. Tidak ada apapun, kemudian mbah Sastro berbalik badan dan menutup pintu.
Brak
__ADS_1
Deg
Setelah membalikkan badan kembali menghadap seluruh ruangan, mbah Sastro dibuat terkejut karena tepat didepan ia berdiri hanya berjarak dua meter saja terlihat wanita cantik berdiri.
Walaupun sudah berumur tua wanita itu tetap cantik, tidak seperti mbah Sastro. Entah ritual apa yang dilakukan wanita itu sehingga ia tetap awet muda, tatapan wanita itu sangat datar.
"Apa yang kau lakukan disini Danu?" tanya mbah Sastro
Wanita yang berdiri didepan mbah Sastro adalah Nyi Danu, tampak Nyi Danu tersenyum mendengar suara serak khas pria tua milik mbah Sastro. Bukan senyum tulus, melainkan senyum ejekan.
"Ternyata suaramu sudah berubah menjadi suara menyeramkan." ucap Nyi Danu tanpa menjawab pertanyaan mbah Sastro
Mbah Sastro diam tidak menjawab ucapan perempuan yang berada didepannya, perempuan yang sempat mengisi hatinya namun kini salah dalam memilih jalan hidup.
"Apa yang kau lakukan?" tanya mbah Sastro lagi
Mendengar hal itu raut wajah Nyi Danu seketika berubah, wajah yang tadinya tersenyum penuh ejekan kini berubah seperti sedia kala yaitu dengan wajah datar dan dingin.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan bahwa sebentar lagi desa ini akan mengalami kehancuran sesuai dengan sumpahku dan sumpah Nyi Danuwati. Sebelum itu terjadi, tentu saja kami akan membuat warga menderita. Dan kau, jangan pernah ikut campur." ucap Nyi Danu
Belum sempat mbah Sastro menjawab, Nyi Danu sudah terlebih dahulu menghilang bak ditelan bumi.
__ADS_1
...****************...