
POV Damar
Aku masih ternganga melihat kepergian mbok Sri, aku masih bingung aku seperti orang linglung sampai ibu menyadarkan ku.
"Kejar le." teriak ibu
Tanpa pikir panjang aku lekas berlari mengejar meraka, setelah sampai di depan pasar benar saja aku masih melihat mereka berlari.
Aku lekas berlari kencang, setelah hampir sampai aku melihat didepan ada satu belokan lekas mereka berlari kearah belokan. Aku lekas menyusul, namun aku tidak melihat jejak mereka lagi.
Aku sangat yakin jika mereka bersembunyi di balik semak semak, lekas aku mengedarkan pandangan ku keseluruhan penjuru arah.
Akhirnya aku melihat warna pakaian yang sama seperti yang dipakai Riana tadi, aku seketika tersenyum lebar. Dari dulu memang ia tidak pernah bisa bersembunyi dengan benar, pasti ada saja yang kelihatan.
Lekas aku berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara, setelah sampai benar saja aku melihat mereka menunduk.
"Hmm." aku berdehem
Seketika mereka gelisah.
"Kalau kamu mau bersembunyi dengan benar, kamu harus banyak banyak latihan." ucapku
Seketika mereka mendongak menatapku, melihat raut wajah Riana yang seperti itu seolah ada yang menggelitik hatiku aku ingin sekali tertawa terbahak bahak.
Bagaimana tidak, wajahnya yang melongo terkejut dengan mata bulat sempurna, mulut yang menganga, belum lagi diwajah terlihat banyak sekali cemong cemong. Persis seperti ondel ondel.
"Ayo berdiri." ucapku
__ADS_1
Bagai sapi yang dicocok hidung nya, mereka berdua hanya menurut saja.
"Mau lari kemana lagi?" tanyaku
Seketika mereka berdua hanya menggeleng, aku lekas menarik tangan Riana agar bisa berbicara berdua.
Setelah sampai ditempat yang cocok, aku lekas berbicara.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyaku
Dia hanya diam menunduk, aku merasa dipermainkan sehingga aku kehilangan kendali hingga aku emosi. Bagaimana tidak, aku yang sangat mencintai nya yang sangat menyayangi nya seperti orang yang kehilangan arah saat tau berita tentang kematian nya dari warga.
Aku bagaikan orang yang kehilangan waras, sementara dia? Lihatlah apa yang dilakukan dia masih hidup dan ah sudahlah.
"Jawab Riana kenapa kamu melakukan ini." ucapku setengah teriak karna emosi
"Jawab." bentak ku lagi
Namun ia semakin menunduk, aku beralih mengangkat wajahnya agar menatapku. Seketika aku melihat matanya yang sudah berkaca kaca, detik kemudian ia menangis.
Aku tak kuasa melihat orang yang aku sayangi mengeluarkan air mata, lekas aku membawa nya kedalam pelukanku. Aku memeluk nya dengan sangat erat, seolah takut akan kehilangan nya lagi.
Setelah sedikit tenang, aku melepaskan pelukan ku dan menatapnya. Aku menatapnya dengan lekat, setelah itu aku meminta maaf karna membentak nya.
"Maafkan aku." lirihku pelan
Ia menggeleng pelan.
__ADS_1
"Kamu tidak salah, aku yang salah karena membuat mu bersedih maafkan aku." sahutnya menunduk
"Apa kamu tidak mau bercerita?" tanyaku lembut
Ia melihat ke sekitar, kemudian menoleh ku.
"Disini?" tanya nya balik
"Kamu bisa bercerita di danau tempat kita biasa agar pikiran kamu lebih tenang, atau bisa dirumah ku juga." ucapku
"Di danau saja." sahutnya
Kami lekas kembali bersama mbok Sri, kemudian pergi dari tempat ini. Dari kejauhan kami melihat ibu, lekas kami menghampiri ibuku.
Ibu yang melihat Riana lekas menatapnya dalam, menit kemudian ibuku memeluk Riana seraya menangis.
"Ya Gusti, kamu kemana saja nduk." ucap ibuku seraya terisak
Melihat Riana yang juga menangis dan tidak sanggup berbicara, aku lekas menenangkan ibu.
"Bu tenang dulu, biar mbok Sri saja yang bercerita, Damar dan Riana mau ke danau dulu." ucapku
Tampak ibu masih berat meninggalkan Riana, namun akhirnya ia mengangguk setuju.
"Baiklah, jangan lama lama. Dan kamu Damar ibu mengerti bagaimana kamu, jangan sampai kamu membentak Riana." ucap ibu dengan tatapan mengintimidasi
Aku hanya mengangguk, setelah itu kami pun pergi aku dan Riana ke danau sementara ibu dan mbok Sri pulang kerumah.
__ADS_1
Sepanjang jalan hanya hening, tidak ada yang membuka suara. Aku ingin sekali membuka suara, namun aku bingung harus membahas apa, sementara ia sangat betah berdiam.