
Desa Ketang
Keesokan paginya, tampak langit sedikit mendung bahkan kilat petir sesekali menyambar. Namun tidak turun hujan, tumbuhan dan tanah masih terlihat basah akibat diguyur hujan semalam.
Desa yang berada dibawah bukit ditambah dengan cuaca yang tidak bersahabat membuat hawa dingin yang sangat menusuk tulang, beberapa para warga memilih untuk merapatkan tubuhnya dibawah selimut. Namun, teriakan beberapa warga lagi membuat semua orang berbondong bondong keluar.
"Ono opo iki kang?" tanya salah satu warga pria paruh baya yang baru keluar dari rumah akibat teriakan warga
(Ada apa ini kang?)
"Tidak tahu kang Broto, tiba tiba saja beberapa warga yang lain terkena penyakit aneh." sahut yang lain kepada pria yang keluar dari rumah yang bernama Broto
"Penyakit aneh." desis Broto
"Iyo kang, beberapa warga semua tiba tiba muntah darah."
Belum sempat menjawab, tiba tiba terdengar suara gaduh dari dalam rumah Broto disusul dengan teriakan wanita yang tidak lain adalah istri Broto.
"Apa yang terjadi kang?" tanya salah satu warga yang ikut dalam rombongan yang berteriak
Tanpa menjawab, Broto segera masuk kedalam rumahnya dengan langkah yang tergopoh gopoh. Beberapa para warga yang berada diluar pun ikut masuk karena rasa penasaran, sesampainya mereka di ambang pintu kamar seketika mereka terkejut.
Tampak istri Broto seperti tengah mengalami sakratul maut, wanita paruh baya itu terus muntah darah. Terakhir, setelah muntah darah istri dari Broto itu seketika ambruk kelantai yang terbuat dari papan.
"Iki persis seperti apa yang menimpa warga." celutuk salah satu diantara mereka
Seketika Broto tampak cemas, ia takut kehilangan istrinya. Broto kemudian menyambar tubuh istrinya dan membaringkan diatas ranjang, bulir bulir bening sudah lolos dari kelopak mata Broto.
"Terus apa yang harus saya lakukan kang?" tanya Broto
__ADS_1
"Kami tidak tahu kang, itu saja beberapa warga sudah ada yang tidak bisa diselamatkan. Karena itu kami hendak menemui petinggi desa, kami permisi dulu kang." sahut yang lain
Setelah melihat Broto mengangguk, mereka yang ikut dalam rombongan segera keluar dari rumah Broto.
"Aneh yo kang, setelah si Barun pulang kemarin tiba tiba warga jadi seperti ini." ucap salah satu diantara mereka
"Husst, jangan berburuk sangka dulu kamu kang."
"Saya teh tidak berburuk sangka, coba saja perhatikan. Setelah si Barun pulang suasana desa semakin aneh, lagian juga si Barun terkena penyakit aneh juga."
Mereka terus membicarakan Barun sepanjang jalan menuju kediaman lurah, kamituwo, serta pamong desa yang lain tidak lupa mereka memanggil modin.
...****************...
Sementara dari jarak puluhan kilo meter, tepatnya di istana lautan goib milik mbah Sastro yang sudah diambil alih oleh Damar alias pangeran Segoro.
Tampak pria sepuh menemui seorang pemuda tampan yang sedang mengasah ilmunya, ia adalah mbah Sastro dan pangeran Segoro. Tampak raut wajah mbah Sastro seperti dilanda kecemasan, ia pun segera menghampiri pangeran Segoro.
"Desa sedang tidak baik baik saja le." sahut mbah Sastro
"Aku tahu mbah." ucap pangeran Segoro masih membelakangi mbah Sastro
Mendengar pernyataan pangeran Segoro seketika mbah Sastro mengernyitkan alis bingung, pangeran Segoro yang menyadari hal itu tersenyum kemudian berbalik menghadap mbah Sastro.
"Apa mbah lupa sekarang aku bukan manusia seperti dulu, aku mempunyai ilmu mbah. Jadi aku tahu apa yang terjadi entah dimana pun itu termasuk desa kita, hanya saja aku tidak bisa melihat siapa yang membuat desa rusuh." ucap pangeran Segoro
"Lalu mengapa kamu tidak datang menolong warga le, apa kamu tahu ada banyak warga yang tidak bisa diselamatkan." sahut mbah Sastro
"Aku tahu mbah, sebab itu kita akan pergi sekarang."
__ADS_1
"Yasudah ayo, kasihan warga."
Mbah Sastro dan pangeran Segoro pun keluar dari istana, dan berjalan menuju arah kabut seperti asap yang berwarna putih. Kabut itu adalah gerbang menuju ke alam manusia langsung, mbah Sastro dan pangeran Segoro segera masuk menembus kabut itu.
Dan benar saja, mereka seketika sampai digapura desa Ketang. Pakaian yang dikenakan oleh pangeran Segoro tadi tiba tiba berubah, pakaian ala raja keraton yang dikenakan oleh pangeran Segoro kini berganti dengan pakaian biasa ala pemuda desa.
...****************...
Desa Ketang
Tampak pria sepuh dan seorang pemuda berjalan memasuki desa Ketang, beberapa warga yang melihat mereka seketika terkejut bukan main.
"Aku bisa merasakan aura negatif di desa ini mbah." ucap pangeran Segoro
"Iyo le, kita harus berhati hati." sahut mbah Sastro
Hingga ditengah jalan mereka bertemu dengan rombongan mang Kurdi, mbah Bayan, serta Kemal, dan Mahendra. Seketika mereka terkejut melihat mbah Sastro dan pangeran Segoro, namun tidak dengan mbah Bayan seolah sudah tahu.
Sementara Kemal seketika berjingkrak jingkrak melihat teman masa kecilnya kembali, tampak Kemal memeluk tubuh pangeran Segoro erat seolah tidak mau melepaskan.
"Akhirnya kamu kembali juga Mar." ucap Kemal sementara Mahendra ikut tersenyum melihat dua sepasang teman itu
Pangeran Segoro hanya tersenyum menanggapi Kemal, karena masih ada yang lebih penting yang tidak bisa ditunda.
"Iya Mal, hanya saja aku dan mbah Sastro tidak bisa berlama lama kami harus segera menolong warga." ucap pangeran Segoro
"Menolong? Emang kamu bisa toh, atau jangan jangan kamu menghilang berbulan bulan karena ingin melanjutkan pendidikan dikota menjadi modin." ucap Kemal polos
Seketika mereka semua tertawa.
__ADS_1
"Tidak nak Kemal, biar mbah Bayan saja yang bercerita kami harus segera menolong warga." ucap mbah Sastro menimpali
...****************...