Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kejang Kejang


__ADS_3

Setelah air yang berada didalam gelas bambu itu habis, mbah Sastro pun menyuruh mereka untuk tidur karena malam sudah semakin merangkak larut.


"Sebaiknya kalian tidur saja." ucap mbah Sastro


"Lalu yang jaga mereka siapa mbah?" tanya mang Kurdi seraya menunjuk Udin dan Juki


"Biar saya saja." sahut mbah Sastro


"Bagaimana jika kita bergantian saja?" tanya Kemal menimpali


"Nah benar itu mbah." sahut mang Kurdi menyetujui usulan Kemal


Mereka pun mengangguk kan kepala pelan tanda setuju, kemudian mang Kurdi menyuruh mbah Sastro dan mbah Bayan untuk istirahat terlebih dahulu karena mereka sudah sepuh. Kedua pria tua namun berbeda usia itu setuju, kini hanya menyisakan Kemal dan mang Kurdi bersama dua pria yang tidak kunjung sadarkan diri.


"Padahal mereka ini juga baru tiba di desa ini kan pakde?" tanya Kemal memecah kesunyian yang tercipta


"Iyo, kabarnya mereka selama ini tinggal dikota. Kebetulan sekali mereka berdua tinggal berbarengan dan sekarang, secara kebetulan juga mereka mendapat musibah berbarengan." sahut mang Kurdi tidak habis pikir


"Tadi waktu masih diluar mbah Sastro mengatakan jika mereka diinginkan, jangan jangan mereka ini melakukan kesalahan." ucap Kemal berasumsi


"Hus, jaga bicaramu." sahut mang Kurdi


Kemal hanya bisa nyengir, tidak salah memang yang diucapkan oleh Kemal. Siapapun mungkin pasti akan berfikiran seperti itu jika melihat kejadian seperti tadi, namun kembali lagi selaku orang yang dewasa mang Kurdi memilih untuk berfikir positif.

__ADS_1


"Tapi sosok tadi siapa yo kira kira?" tanya Kemal lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri


"Tidak tahu, sudah jangan dibahas lagi." sahut mang Kurdi cepat


"Yo ora iso pakde, iki aneh sekali. Selama ini di desa kita tidak pernah kejadian seperti tadi bahkan dari saya kecil tidak ada kejadian seperti itu, lah sekarang tiba tiba saja ada aneh toh?


Mana sosok tadi datangnya pakai kereta kuda, sudah gitu kudanya tidak ada kusir nya. Sudah gitu penampilan nya juga seperti pakaian ala ratu keraton, mahkota nya sangat besar apa sosok tadi tidak merasa berat memikul mahkota seperti itu." ucap Kemal panjang lebar yang ujungnya bersungut sungut


Mang Kurdi menghela nafas sejenak, mau tidak mau ia pun ikut berfikir mengenai ucapan Kemal. Disaat tengah asyik larut dalam lamunan tiba tiba Udin dan Juki muntah darah, membuat atensi mang Kurdi dan Kemal teralihkan.


"Iki kenapa toh." ucap Kemal panik


Tampak tubuh Juki dan Udin menggelepar seperti ikan yang butuh air, tidak ingin berfikir panjang Kemal berniat untuk memanggil mbah Sastro. Namun baru saja hendak berbalik mbah Sastro rupanya sudah berada dibelakang Kemal, membuat pemuda desa itu kembali duduk.


Hanya berselang beberapa menit tubuh Udin dan Juki kembali tenang, mereka pun bisa bernafas lega.


Tok tok tok


Namun baru saja mereka bisa bernafas, sekarang tiba tiba terdengar suara ketukan pintu kali ini disusul dengan suara wanita.


Tok tok tok


"Kulo nuwun mbah." ucap pemilik ketukan

__ADS_1


"Monggo." sahut mbah Sastro seraya berjalan kearah pintu


Pelan mbah Sastro memindahkan batu besar yang mengganjal pintu membuat Kemal terperangah, pasalnya mbah Sastro sudah tua lebih tua daripada mbah Bayan. Mbah Bayan saja sudah berkepala tujuh, bayangkan saja jika mbah Sastro sudah berkepala berapa. Terlebih batu itu lumayan besar, namun mbah Sastro dengan sangat mudah memindahkan nya.


Kriett


Pintu terbuka lebar menampakan seraut wajah perempuan seraya mengendong anak laki laki, tampak dari raut wajah wanita itu terselip rasa khawatir.


"Silahkan masuk nduk." ucap mbah Sastro mempersilahkan


"Njih matur suwun mbah."


Wanita setengah baya yang tidak lain adalah istri Udin itu segera masuk dan seketika berlutut disebelah tubuh sang suami, tak terasa air matanya luruh juga.


"Doakan saja mereka agar bisa selamat." ucap mbah Sastro


Menurut mbah Sastro hanya kalimat seperti itu saja yang dapat diucapkan agar membuat istri Udin berdoa daripada menangis.


"Njih mbah."


Mendengar cerita para warga tadi satu satunya harapan istri Udin yaitu mbah Sastro, bukan rahasia umum lagi bila mengingat mbah Sastro tidak seperti layaknya manusia sejati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2