Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Apa Penyebabnya?


__ADS_3

Pagi hari kembali menyapa, nyanyian burung burung yang bertengger diatas dahan pohon terdengar merdu beradu dengan suara kokok ayam jantan yang bersahutan.


Matahari pagi sudah menyembul memancarkan sinarnya dan memaksa masuk dari celah lubang ventilasi rumah warga, padahal waktu masih menunjukkan pukul 07:05 tapi matahari sudah begitu menyengat menusuk kulit.


Namun di pagi hari seperti ini para warga bukannya disambut dengan hal menarik justru malah disambut dengan bunyi kentongan, berserta suara suara kehebohan warga yang lain. Para warga pria seketika langsung menghampiri, sementara wanita sibuk memasak.


"Ada apa ini?" tanya Ginanjar


Yang posisinya rumahnya lumayan dekat dengan gapura desa, meskipun begitu ia tidak tahu kematian anak buahnya. Sebab Nardi dan Wiryo memang berada dekat dengan gapura, sementara rumah Ginanjar lebih masuk sedikit.


"Itu le, ada yang meninggal." ucap salah satu warga


"Meninggal." desis Ginanjar


"Iyo, meninggalnya mengenaskan hiiii." timpal yang lain seraya bergidik ngeri


"Siapa?" tanya Ginanjar


"Wiryo sama Nardi, padahal udah berbulan bulan mereka tinggal dikota begitu pulang eh malah meninggal."


Deg


Ginanjar terkejut bukan main, ia bisa merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang. Seketika ia teringat ucapan Ki Ageng sebelum meninggal, kini Ginanjar tengah dikuasai rasa takut.


"Me...meninggal karena apa pakde?" tanya Ginanjar terbata


"Kemungkinan sih mereka saling bertengkar hingga berujung membunuh, soalnya ditubuh mereka banyak luka luka seperti habis berkelahi."

__ADS_1


Ginanjar seketika mengernyitkan alis bingung.


'Apa ini.' batinnya


Tadinya ia percaya jika ini ulah wanita yang Ki Ageng sebut, namun nyatanya mereka justru saling membunuh.


'Kalau memang mereka bertengkar tapi bertengkar karena apa, bukannya mereka selalu kompak.' batin Ginanjar bertanya tanya


"Yowes kami pergi dulu yo le." pamit warga


"Nggeh."


Para warga pun pergi meninggalkan Ginanjar yang masih terpaku ditempatnya berdiri, rasa penasaran tiba tiba menyelip didalam hati. Tidak ingin mati penasaran, ia segera masuk kedalam rumahnya untuk menyelesaikan ritual mandi dan sarapan.


"Ada apa ribut ribut?" tanya Mahendra tiba tiba berdiri diambang pintu membuat Ginanjar hampir mati karena terkejut


Tidak memperdulikan kekesalan sang abang, Mahendra pun kembali mengulang pertanyaannya.


"Ada apa ribut ribut?"


"Ck, Wiryo sama Nardi ditemukan mati mereka diduga saling membunuh." ucap Ginanjar berdecak kesal


"Wiryo dan Nardi anak buah abang?" tanya Mahendra yang juga terkejut


"Hmm."


"Syukurlah." ucap Mahendra kemudian berlalu keluar meninggalkan Ginanjar yang kesal mendengar ucapan sang adik

__ADS_1


...****************...


Ditempat penemuan jasad Wiryo dan Nardi ternyata sudah ramai orang yang mengerubungi, Termasuk Ginanjar dan mbah Bayan beserta rombongan nya.


Mereka memaksa ingin melihat kondisi kedua mayat itu meskipun aroma anyir busuk menguar di hidung mereka, mereka terbelalak ngeri melihat pemandangan didepan mata.


Tampak celurit masih menancap dileher mereka berdua sampai sekarang tanpa ada orang yang berani menarik celurit itu, kondisi tubuh mereka juga sudah babak belur akibat tinjuan. Bahkan hidung mereka sudah hancur akibat bogem mentah mereka sendiri, para warga merasa ngeri.


"Jadi benar mereka ini saling menyerang satu sama lain." ucap salah satu warga yang ikut menyaksikan


"Mungkin kang, lihat saja kondisi mereka begitu." timpal yang lain


"Tapi penyebabnya yo opo, toh selama ini mereka berteman baik."


Ginanjar yang tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka turut penasaran, karena yang ia tahu Wiryo dan Nardi memang berteman baik.


"Yo tidak tahu kang namanya manusia, mungkin saja mereka memang sudah ada masalah selama dikota. Entah masalah pekerjaan, atau yang lain kan kita tidak tahu." ucap warga yang lain


Ginanjar yang mendengar dalam hati menyetujui ucapan warga, mungkin saja memang mereka sudah bentrok selama dikota begitu pikirnya.


"Wes kita angkat mayatnya agar ritual pemakaman dilakukan segera." timpal yang lain


Warga setuju, beberapa dari mereka menggotong tubuh Nardi dan Wiryo yang sudah terbujur kaku. Walaupun mereka merasa ngeri, mereka harus segera menggotong tubuh mayat itu untuk dimandikan.


Hingga sampai di rumah duka masing masing terlihat orang tua mereka menangis meraung raung, karena anak buah Ginanjar memang lebih banyak pemuda. Sementara yang sudah berkeluarga hanya satu dua, tangis pilu menyayat hati menggema diruangan yang tidak besar itu.


Hingga pukul 13:15 acara pemakaman pun sudah selesai dilakukan, para warga pun kembali beraktivitas seperti biasa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2