Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Teluh


__ADS_3

Keesokan harinya, matahari sudah hampir naik. Aku berpamitan kepada semua orang yang ada di rumah ini, aku ingin menyusul bapak sama mas Damar ke kebun.


Setelah berpamitan, aku lekas pergi ke kebun dengan menggunakan sepeda pakde Supri pekerja di kebun bapak. Semalam bapak pulang memang mengunakan sepeda pakde Supri, sementara tadi bapak di bonceng oleh mas Damar.


"Auuchh." aku meringis kala aku terjatuh dari sepeda tanganku tergores oleh bebatuan, aku memang belum terlalu mahir mengayuh sepeda karna aku sangat malas belajar.


"Huh... Ayo semangat aku pasti bisa." gumamku menyemangati diri sendiri


Aku lekas kembali mengayuh sepeda, tidak butuh waktu lama akhirnya aku terjatuh lagi.


"Arghhh." aku meringis lagi kala kaki ku ketusuk kayu yang tajam untung tidak dalam


"Huh nyusahin aja sih aku." ucapku


Aku pun meneruskan perjalanan ku karna sudah tidak terlalu jauh, dengan mendorong sepeda. Setelah sampai, aku langsung duduk di gubuk.


"Sakit sekali." ucapku meringis


Aku mendengar pembicaraan mas Damar dengan pakde Supri, mas Damar ingin ke gubuk untuk mengambil minum.


"Pakde, aku ke gubuk sebentar yo, mau ambil kopi." ucap mas Damar


Warga disini memang sering sekali membawa kopi bubuk, sementara air panas mereka bawa dengan termos.


"Yasudah le, pakde juga sudah haus." ucap pakde


"Pak lurah mau kopi toh?" teriak Damar kepada bapak


"Boleh juga Damar, terimakasih yo." ucap bapak berteriak


Sesampainya didepan gubuk, mas Damar terkejut melihat ku. Mas Damar lebih terkejut lagi, kala melihat kondisi kakiku yang berdarah dan lenganku kena goresan.


"Astaga... Kamu kenapa Riana?" pekik mas Damar


"Eummm... Tidak apa apa, hanya luka sedikit." ucapku seraya tersenyum kaku


"Iyo kenapa bisa terluka." ucapnya seraya menarik kakiku ke pangkuan nya


"Riana tadi terjatuh dari sepeda mas." ucapku terkekeh


Mas Damar hanya menggeleng kepala.

__ADS_1


"Makanya kalau belum mahir mengayuh sepeda ya jangan di pakai toh." ucap mas Damar


"Iyaa." aku hanya mengangguk polos


Mas Damar yang gemas melihat ku, langsung mengacak acak rambutku.


"Kamu tunggu disini, sebentar ya." ucapnya seraya berlalu


Tidak lama kemudian, mas Damar datang dengan membawa dedaunan yang manjur untuk mengobati luka. Mas Damar menghaluskan daun itu menggunakan tangannya, dan menempelkan nya dikaki ku.


"Arggh." aku setengah berteriak, kala merasakan perih.


"Tahan." ucap mas Damar


Aku mengangguk pelan, tidak lama kemudian bapak datang. Seketika bapak terkejut melihat ku ada disini.


"Loh nduk, kapan kamu datang nya?" tanya bapak


"Eumm... belum lama kok pak." ucapku


Bapak memperhatikan ku, hingga perhatian nya tertuju pada kakiku.


"Loh kaki kamu kenapa nduk?" tanya bapak khawatir


"Lagian kenapa kamu naik sepeda sih nduk, kan bisa minta di antarkan mang Kurdi saja." ucap bapak


Aku hanya bisa nyengir.


Setelah urusan kebun selesai, kami pun memutusksn untuk pulang karna hari sudah menjelang malam. Dengan aku berboncengan dengan mas Damar, bapak dengan pakde Supri.


...****************...


Pada malam harinya, kami dihebohkan oleh rintihan keluarga ku. Aku yang masih di belakang lekas berlari ke ruang depan, menghampiri semua orang.


"Arghh sakit." ucap bapak seraya memegang perut nya


"Sakit... Sakit sekali.". ucap ibuku lagi, begitu juga dengan eyangku.


"Aa... Ada apa ini." ucapku seraya menahan tangis


"Nduk sakit." ucap ibuku

__ADS_1


Aku menangis sejadi jadinya melihat mereka, kala kulit bapak berubah berwarna merah, dan muncul benjolan benjolan sebesar biji kopi dan pecah hingga mengeluarkan nanah. Aku menangis sesenggukan, aku tidak tau melakukan apa.


Disisa kekuatan eyang menoleh kearah ku, dan mengatakan.


"Nduk ini teluh nduk." ucap eyang


Seketika kami yang berada di rumah mas Damar terkejut.


"Eyang kan punya kemampuan seperti ini juga toh, kenapa eyang juga seperti bapak dan ibu." ucapku disela tangisan ku


"Nduk, orang yang mengirim teluh ini sangat sakti dan hebat. Kekuatan eyang tidak ada apa apa nya dibandingkan dengan orang itu. Bahkan, siapa yang menyuruh saja eyang tidak bisa lihat." ucap eyang


Aku semakin menangis


"Nd...duk kamu ingat kan ucapan eyang malam itu? Ini awal dari semuanya nduk." ucap eyang


"Trus kenapa Riana tidak seperti kalian?" tanyaku


"Karna tujuan mereka adalah kamu nduk, mereka ingin kamu menderita sebelum kamu mati. Kamu harus tetap hidup nduk, kamu harus bertahan cari mereka semua sampai ketemu." ucap eyang


"Bagaimana caranya eyang?" tanyaku


"Sri tolong ambilkan bungkusan berwarna hitam yang aku titipkan padamu." ucap eyang pada mbok Sri


Seketika mbok Sri mengambil bungkusan itu dari balik pakaian nya, dan menyerahkan nya pada eyang.


"Nduk. Ini keris untuk kamu, ini sudah turun temurun dari kelurga kita, nama keris ini Nogososro keris ini yang akan membantu kamu." ucap eyang


"Jika eyang tau keris ini bisa membantu, mengapa eyang tidak gunakan saja." tanyaku


Eyang tersenyum samar.


"Hanya kamu yang bisa menggunakan keris ini nduk, keris ini sudah diwariskan untukmu." ucap eyang


"Arghh." rintih eyang


"Sri tolong jaga Riana." ucap eyang, seketika ibu dan bapak juga mengangguk


Aku semakin menangis kencang


"Eyang, bapak, sama ibu tolong jangan tinggalin Riana sendiri hiks hiks." ucapku seraya terisak pilu

__ADS_1


Mereka hanya mengangguk dan tersenyum samar.


...****************...


__ADS_2