Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Ketakutan Ginanjar 2


__ADS_3

POV Ginanjar


Setelah mengalami banyak teror akupun memilih untuk mandi dan menyegarkan tubuh, beruntung selama dikamar mandi tidak ada lagi gangguan apapun. Kini aku sedang duduk seraya menyantap makanan diruang tamu, aku tidak memiliki keberanian jika makan diruang makan yang berada di dapur.


Sedang asik menyantap makanan, tiba tiba terdengar suara bunyi ketukan pintu.


Tok tok tok


'Cih, sejak kapan anak itu mengetuk pintu.' batinku


Aku yakin jika yang berada diluar adalah Mahendra, karena aku cuma tinggal berdua dengannya. Sengaja aku tidak membukakan pintu, sebab aku yakin palingan sebentar lagi ia masuk.


Tok tok tok


Namun ia masih kekeh mengetuk pintu.


Tok tok tok


Tok tok tok


Kini ketukan pintu pun berubah menjadi gedoran yang sangat kuat, bahkan pintu itu sepertinya hendak roboh. Gedoran itu masih berlangsung tanpa jeda sedikitpun, aku mulai hilang kesabaran.


Akupun menghentikan acara menyantap makanan ku, kemudian aku berjalan menghampiri Mahendra.


Krieettt


Pintu berderit seiring aku membukanya, perlahan tapi pasti pintu pun terbuka lebar menampakkan pria tua. Aku mengernyit heran, aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia menunduk.


Namun ciri cirinya persis seperti, aku lekas menggelengkan kepala mengusir pikiran yang tidak masuk akal. Tidak mungkin pria tua itu dia, sementara Ki Ageng sudah meninggal.

__ADS_1


"Siapa..." belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku pria tua dan ringkih itu langsung menyambar masuk


Aku melihat kearahnya yang langsung duduk di kursi tempatku duduk tadi, sekilas aku bisa melihat wajahnya.


Deg


Jantungku berdetak kencang, bahkan hampir saja jantungku lepas dari rongganya. Bagaimana bisa seseorang yang sudah meninggal kini berada dirumahku, aku ingat betul sebelum aku


meninggalkan Ki Ageng aku memeriksa tubuhnya yang memang sudah tidak bernyawa.


Namun aku kembali tersadar, Ki Ageng adalah dukun sakti bahkan paling sakti di desa ini. Dan pernah seketika Ki Ageng mengatakan jika tidak mudah membuat ia mati, jangankan manusia para demit sekalipun tidak ada yang bisa membuatnya mati apalagi hanya seorang Riana.


Bicara soal Riana, pernah sekali aku memasuki desa ini. Sebenarnya waktu itu aku sedang berkelana, aku sangat menyukai menjelajahi alam. Namun entah jalan apa yang kutempuh tiba tiba aku memasuki desa ini, disaat sedang bingung tidak sengaja aku melihat Riana.


Wanita desa bahkan orang orang menyebutnya kembang desa, dengan wajah yang cantik. Rambut panjang nya tergerai indah, kulit nya putih mulus, sikapnya yang ramah dan sopan santun membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh cinta.


Bahkan dulu banyak pemuda desa yang mengincarnya, jangankan pemuda desa bahkan sekarang Mahendra saja yang sedari dulu sampai sekarang tidak pernah dekat dengan perempuan kini jatuh cinta pada Riana.


Terbukti penolakan lah yang kami terima, aku tidak masalah jika mereka hanya menolak lamaran kami. Tapi mereka bahkan membunuh orang tuaku, meskipun aku tidak yakin. Tapi sebelum meninggal orang tuaku menyebut keluarga Riana, dan dari situ aku tidak memiliki rasa cinta untuknya lagi hanya ada rasa dendam.


Hingga aku berhasil membunuh mereka semua dengan teluh, namun tidak dengan Riana. Aku masih membiarkan ia hidup, aku hanya menyuruh Ki Ageng untuk melenyapkan keluarga nya saja.


Bicara soal Ki Ageng, kembali aku melihat pria tua itu dengan wajah masih menunduk. Aku memberanikan diri mendekati nya, semakin dekat aku bisa merasakan hawa dingin cukup kentara.


"Ini beneran Ki Ageng?" tanyaku memastikan


Ki Ageng hanya mengangguk, anehnya cara ia mengangguk sangat kaku bahkan slowmotion.


"Ki Ageng masih hidup?" tanyaku lagi

__ADS_1


Lagi lagi ia hanya mengangguk kaku.


"Tapi bagaimana bisa Ki?"


Kali ini Ki Ageng diam, perlahan dengan gerakan pelan bahkan sangat pelan ia mendongakkan wajahnya menatap ku.


Deg


Aku mundur dua langkah untuk berjaga jaga, wajah Ki Ageng sangat pucat pasi seperti mayat seolah olah tidak ada aliran darah ditubuhnya. Bahkan dapat kuliaht, seluruh tubuh Ki Ageng juga membiru seperti tubuh mayat.


Namun lagi lagi aku mencoba untuk berfikir positif, Ki Ageng seperti itu mungkin karena baru sembuh. Meskipun sebenarnya ini sudah berbulan bulan setelah kematian Ki Ageng dulu, namun tetap saja aku berfikir positif. Karena dulu kondisi Ki Ageng sangat mengenaskan, mungkin butuh waktu untuk bisa sembuh total.


"Penghianat." ucap Ki Ageng tiba tiba dengan suara serak dan ganda


Untuk sejenak aku terpaku karena tidak mengerti maksud Ki Ageng, sedetik kemudian aku paham. Mungkin saja Ki Ageng marah karena aku meninggalkan nya dulu, meskipun aku tidak yakin yang dimaksud Ki Ageng adalah ini.


"Maafkan aku yang sudah meninggalkan Ki Ageng dulu, ta...tapi waktu itu a..aku aku ingin meminta bantuan Ki. Iyah, aku ingin meminta pertolongan." sahutku mencoba untuk menghilangkan rasa gugup


Untuk sesaat Ki Ageng masih diam mematung menatap ku, aku berfikir jika Ki Ageng mencoba untuk mencerna ucapan ku dan percaya padaku.


Namun dugaan ku salah besar, sedetik kemudian Ki Ageng tampak tersenyum. Anehnya, senyuman Ki Ageng semakin lebar hingga menyentuh telinga.


Aku terbelalak kaget, kemudian aku mencoba untuk mengusap mataku barang kali aku berhalusinasi.


"Arrgghhh." aku berteriak setelah berhenti mengusap mata


Sosok yang tadinya mirip Ki Ageng kini berubah menjadi sosok yang mengerikan, sosok yang sama seperti sosok hantu yang menggangguku tadi sebelum aku memutuskan untuk mandi.


Dengan wajah hancur berbelatung, kulit yang mengelupas dan berlendir. Sosok itu menyeringai hingga menampilkan deretan gigi yang hitam, kali ini belatung dan darah keluar berjatuhan dari mulut sosok itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2