
Malam harinya, Ginanjar sampai tidak bisa tidur hanya memikirkan bagaimana besok. Haruskah ia ikut dengan adiknya ke kota dan melupakan dendamnya, atau memilih untuk tetap tinggal di desa.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, dimana semua orang tengah meringkuk dan tertidur pulas dibawah selimut. Namun tidak dengan Ginanjar, sepertinya otaknya masih berpikir keras tentang keputusan yang akan ia ambil.
Malam semakin larut, semilir angin masuk melalui celah lubang ventilasi berhembus dan menerpa kulit wajah Ginanjar. Seketika ia merasa merinding, ia merasakan bahwa banyak pasang mata yang sedang mengawasinya.
Ditambah bunyi suara suara hewan yang berada di hutan, lolongan hewan dan suara burung gagak bersahutan sahutan menambah kesan mencekam.
"Kok seram yo." gumam Ginanjar seraya mengusap kedua lengannya
Brakkk
Bunyi benda jatuh membuat Ginanjar terjingkat kaget, lekas ia menoleh keasal suara itu. Seketika ia bernafas lega, ia sungguh belum siap jika dihadapkan kembali dengan demit.
"Hufhh, ternyata hanya asbak toh." ucapnya
"Tapi bagaimana bisa jatuh." gumamnya terheran heran
Lekas Ginanjar turun dari kasur dan mengambil asbak yang terbuat dari bambu itu, kemudian ia meletakkan kembali pada tempatnya semula diatas meja samping kasur.
Ginanjar memilih untuk duduk sejenak di pinggiran kasur, namun tiba tiba ia merasakan ada sesuatu di pergelangan kakinya. Ia merasa seperti ada pasang tangan yang memegang erat kakinya, namun hawa yang dibawa adalah hawa dingin seperti tangan mayat.
"Apalagi ini." ucapnya pada diri sendiri
Hingga semakin lama, ia merasa hawa dingin sedingin es itu menjalar sampai ke betisnya. Dengan perasaan yang tidak karuan, ia memberanikan diri menoleh kebawah tepatnya bawah kolong kasur.
Ia mulai menghitung dalam hati, sekaligus berharap yang ia lihat bukanlah sosok yang menyeramkan.
Satu
__ADS_1
Dua
Tiga
Deg
Kenyataan tidak sesuai dengan angan, Ginanjar melihat sosok yang menyeramkan namun bukan demit Ki Ageng. Sosok itu masih mengenakan kain kafan lusuh bercampur dengan tanah, kain kafan yang seharusnya berwarna putih itu kini berubah menjadi kecoklatan.
Matanya yang melotot seperti hendak meletus yang keseluruhan nya berwarna putih, hidungnya yang masih disumpal dengan kapas. Sementara tubuhnya entah berbentuk apa karena sosok itu itu masih dibungkus dengan kain kafan, sosok itu menyeringai kearah Ginanjar yang melihat kearahnya tanpa berkedip.
Setelah sadar Ginanjar bangkit dan menetralkan nafasnya yang berdegup cepat, namun ia justru merasakan semilir angin yang tidak biasa menerpa tengkuknya yang meremang.
"Melu aku."
(Ikut aku)
Deg
"Arghhhh." Ginanjar berteriak kencang
Teriakan Ginanjar yang sangat kencang mungkin sampai ke desa sebelah, namun sungguh aneh. Jangankan warga, Mahendra yang berada dikamar sekalipun tidak mendengar suara teriakan itu.
Padahal kamar mereka hanya bersebelahan, namun yang dirasakan hanya keheningan seperti tidak ada kehidupan.
"Pe...pergi." teriak Mahendra kepada sosok itu
Namun setelah sadar satu hal, Ginanjar justru terdiam terpaku.
"Ba...Barun." ucap Ginanjar terbata
__ADS_1
Iya, sosok yang menyeramkan itu adalah Barun. Ia gentayangan tidak seperti temannya yang lain yang meninggal karena ia sama seperti Ki Ageng, yaitu pemuja setan dan mengabdikan hidupnya kepada penguasa hutan larangan.
"Melu aku." ucap sosok demit Barun lagi
"Ti..tidak pergi kamu, pergi jangan ganggu aku." sahut Ginanjar berteriak hingga suaranya serak
Namun sosok itu hanya diam melotot menatap Ginanjar dengan mata putihnya, dan sekarang sosok itu menyeringai lebar hingga menampilkan deretan gigi yang menghitam bercampur tanah seketika aroma bangkai busuk menyeruak memenuhi kamar Ginanjar.
"Tolong, siapapun tolong aku." ucap Ginanjar kembali berteriak
Merasa tidak ada yang benar karena sedari tadi ia berteriak namun tidak ada yang mendengar, secepat kilat Ginanjar berlari kearah pintu yang tidak pernah ia kunci. Ia membuka knop pintu, namun tidak bisa terbuka.
"Sial tenan, kenapa tidak bisa dibuka toh biasanya juga tidak aku kunci." ucapnya kesal seraya menendang pintu kencang
Brak brak brak
"Buka." teriak Ginanjar seraya mengebrak pintu
"Tolong." teriak Ginanjar lagi
Kala Ginanjar menoleh kebelakang, sosok Barun dalam berbentuk pocong sudah berada tepat dibelakang nya dan menyeringai. Perlahan sosok itu mendekat kearah Ginanjar, dan kini mereka hampir tidak berjarak.
Wajah busuk penuh belatung Barun menempel di wajah Ginanjar, Ginanjar dapat dengan jelas menghirup aroma menjijikkan itu. Dan perlahan tiba tiba Ginanjar merasa sesak seolah ada yang mencekik nya, padahal kedua tangan Barun masih berada dibalik kain kafan.
Ginanjar merasakan pusing, mual, matanya bahkan berkunang kunang. Seketika tubuhnya merasa lemah seperti tidak bertulang, pelan pelan pandangan nya semakin buram dan.
Brak
Ginanjar jatuh pingsan tidak sadarkan diri tepat didepan pintu, sosok demit Barun pun semakin menyeringai lebar kemudian menghilang.
__ADS_1
...****************...