
Sementara itu, masih dihari yang sama namun ditempat yang berbeda. Dari jarak yang cukup jauh, tepatnya berada di sebuah perkotaan. Tampak Yayan dan Mamat sedang resah dikarenakan keuangan mereka sudah semakin menipis, mereka berdua adalah anak buah Ginanjar.
Yayan dan Mamat merupakan pemuda desa yang termakan bujuk rayu Ginanjar untuk menjadi anak buah nya dan melakukan pekerjaan yang keji, mereka sengaja untuk melarikan diri ke kota karena mereka takut akan teror yang semakin menjadi.
Yah, pasalnya beberapa bulan belakangan kemarin mereka merasakan teror yang mengerikan. Lebih tepatnya setelah Nyi Danuwati dinobatkan menjadi ratu, maka perlahan mereka pun merasakan akan kehadiran sosok lain.
Yayan dan Mamat pun memutuskan untuk pergi ke kota dan tinggal satu atap berdua, Yayan sendiri masih memiliki orang tua berbeda dengan Mamat yang yatim piatu. Mamat selama ini tinggal bersama kakek dan neneknya, namun kakek dan neneknya pun sudah meninggal sebelum desa terkena teluh.
"Duh pie iki Mat, keuangan kita semakin menipis sementara kita belum dapat pekerjaan." ucap Yayan resah
"Apa kita sebaiknya pulang kampung saja yo?" tanya Mamat
"Edan, aku ora pengin." sahut Yayan cepat
(Gila, aku tidak mau)
"Terus pie toh?" tanya Mamat bingung
(Terus bagaimana)
"Entahlah, kita kabur kesini karena melarikan diri dari kejaran setan. Mosok kamu nyuruh kita balik lagi, itu namanya mengantarkan nyawa." sahut Yayan bersungut sungut
"Terserah sampeyan lah." ucap Mamat
Yayan pun merebahkan dirinya dilantai yang sudah dilapisi dengan tikar pandan, awalnya ia hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang. Namun siapa sangka, Yayan pun tiba tiba tertidur pulas.
"Lah dasar bocah edan, katanya nyari duit malah ngorok." ucap Mamat seraya mendelik malas menatap Yayan
__ADS_1
Mamat pun ikut merebahkan dirinya di kursi rotan yang berada didalam rumah, mereka hanya memiliki satu kursi rotan yang memanjang sehingga mampu menampung tingginya Mamat ketika tertidur.
Tanpa sadar, Mamat pun ikutan tertidur dan mereka justru merasakan mimpi yang sama.
...----------------...
"Kemari lah, kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan." ucap sosok wanita cantik dengan suara mendayu
Mamat dan Yayan terperangah melihat itu, melihat sosok wanita yang memakai kemben berwarna merah dengan mahkota di kepalanya. Meskipun sosok itu membelakangi mereka, namun Yayan dan Mamat yakin jika wanita itu sangat cantik. Terlebih, melihat kulitnya yang putih mulus.
"A...apa maksudmu?" tanya Yayan tergagap
Bukan karena takut, melainkan karena tidak bisa menolak pesona sosok itu meskipun tidak melihat wajahnya. Sebagai pria normal dan dewasa, naluri nya sebagai lelaki sudah pasti berontak apalagi melihat kulit wanita itu yang sangat putih bersih seolah mandi susu.
Begitu pun dengan Mamat, bahkan Mamat sampai menelan salivanya sendiri dengan susah payah karena ada sesuatu yang berontak dibawah sana.
"Ka..kami tidak mengerti." sahut Yayan
"Uang, kalian butuh uang kan? Maka datanglah kesana, tidak hanya uang yang kalian dapatkan bahkan mungkin saja kalian akan menjadi orang terkaya dikota ini." ucap sosok wanita itu dengan gemulai meskipun ia sudah tidak sabar menghadapi dua manusia yang kurang tanggap
Mendengar kata uang dan orang terkaya sontak kedua manusia itu saling berpandangan, ada rasa ingin untuk mendapatkan itu semua.
"Kemana kami harus pergi?" tanya Yayan cepat
Tanpa mereka sadari bahwa sosok wanita cantik yang tidak lain adalah Nyi Danuwati sedang menyunggingkan senyum sinis.
"Bawa persyaratannya yaitu berupa sasajen, aku rasa kalian pasti tahu apa saja isi sasajen." tanpa menjawab pertanyaan Yayan sosok Nyi Danuwati seketika menghilang
__ADS_1
"Tung.." Belum sempat Yayan menyelesaikan ucapannya Nyi Danuwati sudah menghilang menyisakan kepulan asap hitam
Namun tidak lama setelahnya, didepan Yayan dan Mamat muncul sebuah gambaran seperti film yang diputar ulang. Didalam sebuah gambaran yang berupa film itu, tampak sebuah desa yang tidak asing bagi mereka.
Kemudian tidak lama muncul juga dua pemuda yang tidak lain mereka berdua.
"Loh loh, kok." Mamat terheran heran
Tempak didalam gambaran itu, Yayan dan Mamat berjalan menyusuri jalanan desa yang lenggang. Hingga sampai diujung desa yang hanya dikelilingi hutan lebat, Yayan dan Mamat pun masuk kedalam hutan hingga semakin jauh melangkah.
Hingga tiba tiba Yayan dan Mamat berhenti di sebuah hutan yang lain daripada yang lain, yaitu hutan larangan. Disebut lain daripada yang lain karena hutan larangan memang aneh, jika dibandingkan dengan hutan tempat Yayan dan Mamat berdiri saat ini.
Padahal masih di hutan yang sama, ditempat yang sama, dan masih diawan yang sama. Dan lebih anehnya lagi, dari jarak Mamat dan Yayan berdiri kehutan larangan hanya sekitar lima meter namun terasa berbeda.
Hutan larangan yang sudah didepan mata tampak sangat gelap dibandingkan dengan hutan yang mereka pijak saat ini, seolah olah ada gerbang gaib yang tidak terlihat sebagai pembatas.
Pohon pohon di hutan larangan pun terlihat sangat besar bahkan dua kali lipat dengan pohon raksasa, berbeda dengan hutan yang mereka pijak saat ini yang masih terlihat normal.
Tiba tiba gambaran itu berhenti dan hilang, hanya mengepulkan asap hitam.
"Itukan hutan larangan Yan." ucap Mamat
"Iyo."
"Apa kita akan kesana?" tanya Mamat
Yayan pun beralih menatap Mamat dengan tatapan yang penuh arti.
__ADS_1