
DOUBLE POV
POV Riana
Masih dihari yang sama, setelah mas Purwo pergi lekas aku mengerjakan tugasku membersihkan rumah, serta harus berbelanja dipasar didesa ini.
Karena persediaan stok bahan makanan sudah habis, aku harus segera bergegas kepasar takut hari semakin terik. Setelah selesai membersihkan rumah, lekas aku menemui mbok Asih sebagai kepala pemimpin seluruh abdi dirumah ini.
Rumah juragan Karno memang besar, walaupun masih berbentuk panggung. Namun, keluarga mereka yang paling kaya di desa ini. Lekas aku berlalu ke dapur, disana aku melihat mbok Asih.
"Mbok." ucapku
Seketika mbok Asih menoleh, kemudian menghampiri ku.
"Iya nduk, ada apa?" tanya mbok Asih
"Aku hanya mau pamit kepasar dulu mbok, takut hari semakin siang." sahutku
"Biar mbok temani yo, tunggu sebentar." ucap Mbok Asih seraya ingin berlalu
Belum sempat mbok Asih melangkah, segera aku menahan pergelangan tangannya.
"Tidak usah mbok, aku bisa sendiri kok." ucapku seraya tersenyum paksa untuk meyakinkan mbok Asih
Bukannya aku tidak ikhlas tersenyum kepada mbok Asih, namun semenjak kejadian itu memang aku tidak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum.
"Kamu yakin sendiri?" tanya mbok Asih
"Yakin mbok."
__ADS_1
"Yowes, kamu wes hati hati yo."
Aku hanya mengangguk pelan, kemudian mengambil keranjang tempat bahan makanan nanti. Setelah berpamitan, segera aku menaiki delman milik mas Purwo dengan salah satu kusir nya.
Kami segera berlalu kepasar, setelah sampai lekas aku memasuki pasar dan membeli bahan bahan yang aku butuhkan. Disaat asik memilih beberapa sayuran, aku merasa hawa didalam tubuhku panas.
Karena memang aku memilki ilmu hitam aku langsung menyadari bahwa ada orang yang mengusikku, segera aku mengambil asal sayuran dan membayarnya.
Kemudian aku berjalan ke area belakang pasar yang sangat sepi, bagaimana tidak sepi. Dibelakang area pasar ini hanya dipenuhi rerumputan setinggi lutut orang dewasa, pohon pohon berjejer dengan sangat rimbun.
Segera aku duduk dibawah salah satu pohon yang sangat besar, kemudian aku mengambil posisi bersila. Aku memejamkan mataku, karena kekuatan ku yang sangat tinggi tanpa merapalkan mantra aku bisa menerawang.
"Hmmm." ucapku bergumam pelan
Tanpa sadar bibirku tersungging sinis, aku melihat mas Purwo berada dirumah dukun yang mereka datangi waktu itu. Mereka sedang berniat mencelakai ku, aku paling tidak suka jika ada yang mengusikku.
Aku membuka mata, kemudian aku menggenggam tanah yang berada dibawah tanganku. Kemudian aku mencabut satu rambut milikku, dan menyatukan nya dengan tanah yang ku genggam.
Aku mencari sesuatu yang tajam, aku menemukan kayu tipis seperti lidi namun sangat tajam. Kemudian aku menggoreskan ke lenganku, setelah darah mengucur segera ku teteskan ketanah beserta rambutku sebanyak tiga tetes.
"Kembali lah kepada orang yang mengirim mu tanpa sisa."
Aku mengulangi kalimat ku yang sama sebanyak tiga kali, kemudian aku meniup genggaman ku sebanyak tiga kali juga. Lalu aku melempar ke sembarang arah, lekas aku berdiri dan segera pulang karena semua bahan makanan juga sudah kubeli.
...****************...
POV Ki Geni
Setelah Purwo anak sialan itu pulang, aku merasakan tubuhku semakin lemas. Bisa bisanya ia menyuruhku menyerang sosok yang memiliki keris sakti itu, jelas ia bukan tandingan ku.
__ADS_1
Tiba tiba aku merasakan kiriman ku berbalik kepadaku, entah mengapa kekuatanku sangat lemah. Bahkan, untuk menghalau kirimanku saja sudah tidak bisa.
Tidak berselang lama, wajahku terasa panas bahkan memerah seperti kepiting rebus. Aku mencoba meraba wajahku, namun aku merasa ada seperti cairan yang sangat bau.
Rasa takut seketika menghinggapi diriku, lekas aku menyambar kaca yang terletak diatas nakas dekatku.
"Ti...Tidak, ini ti..tidak mungkin." ucapku seraya menggeleng
Aku sangat terkejut, bahkan mataku hampir keluar dari rongga nya. Aku melihat wajahku yang sudah sangat hancur, nanah yang sudah berceceran, daging yang sedikit mengelupas, bahkan aku melihat beberapa saat belatung sudah berkeluaran dari wajahku.
Belatung yang menggeliat kemudian berjatuhan kelantai yang masih terbuat dari bambu, serta wajahku mengeluarkan aroma busuk.
Aku menggeram amarah, aku tidak mungkin menyerang wanita itu. Selain ia mempunyai keris yang sangat sakti, ia juga memiliki kekuatan yang besar, apalagi ia dilindungi oleh Nyi Warsih penguasa hutan keramat.
Tidak, aku seperti ini karena Purwo anak sialan itu. Ia menyuruhku menyerang seseorang tanpa memberi tahu lebih dalam tentang wanita itu, aku tidak mau wajahku saja yang seperti ini aku harus membuat wajah Purwo juga sama sepertiku.
"Enak saja kau, kau juga harus merasakan apa yang kurasakan." gumamku
Lekas aku membereskan alat media ku dan mengganti nya dengan yang baru, kemudian aku duduk bersila. Aku memasukkan beberapa kemenyan kedalam kendi, dan membakar nya.
Seketika aroma kemenyan meruak memenuhi ruangan, setelah asap kemenyan mengepul tebal segera aku memasukkan beberapa sasajen.
Kemudian aku memejamkan mata, dan merapalkan mantra tanpa bersuara. Aku kembali membuka mata perlahan, kemudian aku mengambil boneka buatan yang sudah ku persiapkan tadi.
Boneka itu sudah kutulis nama Purwo beserta wetonnya, kemudian aku memasukkan boneka itu kedalam kendi yang sudah mengepulkan banyak asap kemenyan.
Kali ini aku ingin membuat Purwo lebih menderita, kemudian kembali aku memejamkan mataku dan merapalkan mantra.
...****************...
__ADS_1