
"Sebenarnya sampean kenapa?" tanya mbah Sastro
"Se..semalam saya melihat kedua wanita itu mbah."
Kemudian mengalirlah cerita mang Kurdi tentang kejadian yang membuat ia menegang, terkadang syok, takut, bahkan semua rasa dirasakan dan dicampur aduk menjadi satu.
"Opo sampean diganggu?" tanya mbah Sastro lagi setelah mendengar semua cerita dari mang Kurdi
Hanya gelengan lemah yang dapat dilakukan oleh mang Kurdi sebagai jawaban, karena ia sudah tak kuasa menahan rasa sakit di kepala nya.
Mbah Sastro pun kemudian memilih untuk diam, karena tidak enak jika terus mengajak mang Kurdi berbicara. Terlebih sekarang kondisi mang Kurdi semakin lemas, untuk berbicara tadi saja bahkan suaranya sudah bergetar.
Tidak lama terlihat Pangeran Segoro muncul dan segera masuk kedalam kamar mang Kurdi, disana masih terlihat juga mbah Sastro dan Kemal masih menunggui mang Kurdi.
"Sudah le?"
"Njih sampun mbah."
(Iya sudah mbah)
__ADS_1
Pangeran Segoro lekas berjalan mendekati mang Kurdi, dan menaruh semua barang barang yang ia pegang diatas meja yang terletak disamping ranjang mang Kurdi.
Barang barang itu sendiri terdiri dari rantang jaman dahulu yang berbentuk kubus dengan warna cokelat serta tutup rantang yang berbentuk runcing keatas serta berwarna senada.
Kemudian disamping rantang itu terlihat gelas yang terbuat dari bambu, atau bisa dikatakan bambu yang sudah dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi gelas. Didalam gelas itu sudah berisikan air yang dipesan oleh mbah Sastro, tidak lupa juga diatas gelas itu terdapat penutup yang terbuat dari tulang bambu juga sehingga tidak ada yang bolong.
"Sebaiknya sampean makan terlebih dahulu." ucap mbah Sastro kepada mang Kurdi
"Njih mbah."
Tanpa di komando Pangeran Segoro dan Kemal dengan sigap membantu mang Kurdi untuk duduk, tidak mudah memang. Mengingat tubuh mang Kurdi sangat lemas seperti tak bertulang, ditambah badan mang Kurdi juga lumayan besar tapi bukan gendut. Yah, sebagaimana biasanya tubuh seorang pria paruh baya pada umumnya.
"Biar sa..saya saja mbah." ucap mang Kurdi tergagap dengan suara yang lemah seperti tidak bertenaga
Melihat ada rasa tidak enak pada wajah mang Kurdi, Kemal pun berinisiatif menggantikan mbah Sastro untuk menyuap mang Kurdi. Kemal tentu tahu apa yang menganjal dipikiran mang Kurdi walaupun mbah Sastro tidak keberatan, namun membiarkan mang Kurdi makan sendiri tentu tidak mungkin sementara untuk menahan tubuhnya saja ia tidak mampu.
"Biar saya saja mbah." ucap Kemal menawarkan diri kepada mbah Sastro
Mbah Sastro hanya mengangguk seperti biasa tidak lupa dengan senyumnya yang terlihat sangat teduh, kemudian mbah Sastro segera menyodorkan rantang yang ia genggam kepada Kemal. Kemal segera menerima rantang itu, ia kemudian menyuapkan makanan itu kepada mang Kurdi secara perlahan dengan tubuh yang masih dipegangi oleh Pangeran Segoro.
__ADS_1
"Minum nya berikan saja air itu sebagai penggantinya le." ucap mbah Sastro seraya menunjuk air yang berada didalam gelas bambu yang sudah dibawa oleh Pangeran Segoro
"Njih mbah." sahut Kemal
Hingga setelah makanan itu habis tak bersisa, Kemal segera menyambar gelas bambu itu dan meminum kan nya kepada mang Kurdi dengan pelan setelah tutupnya dibuka.
Dan setelah menenggak habis air itu, ajaibnya secara perlahan mang Kurdi merasakan tubuhnya membaik. Sakit kepala, panas dingin, meriang, dan segala macam nya kini telah hilang entah kemana.
"Apa yang sampean rasakan sekarang?" tanya mbah Sastro setelah memperhatikan wajah mang Kurdi yang tadinya pucat pasi namun merah padam kini berganti dengan wajah segar seperti habis mandi
"Sudah mendingan mbah bahkan sudah membaik, tapi bagaimana bisa?" tanya mang Kurdi kebingungan
"Semua atas izin Sang Maha Kuasa, sepertinya tidak hanya takut berlebihan namun juga sampean terkena pengaruh buruk. Apa sampean menatap matanya?" tanya mbah Sastro
"I..iya mbah, tidak sengaja." sahut mang Kurdi tersenyum canggung kala mengingat matanya berserobok dengan mata tajam Nyi Danu
Mbah Sastro hanya menghela nafas dalam.
...****************...
__ADS_1