
"Aku harus segera sampai, waktuku tidak banyak lagi." gumamku
Setelah mengalahkan demit raksasa itu aku segera pergi melesat mencari sendang wonogiri, kali ini perjalananku tidak ada hambatan. Meskipun, aku merasakan banyak pasang mata yang mengawasi.
Namun selagi mereka tidak mengganggu, akupun tidak perduli. Dari kejauhan aku melihat cahaya yang berkilauan diterpa cahaya bulan, aku lekas mempercepat langkah ku menghampiri cahaya itu.
Setelah dekat, mataku terkesima. Ini adalah sendang wonogiri yang aku cari, ternyata sendang ini cukup menarik. Namun sayang, disamping menariknya sendang ini sangat mematikan.
"Siapa kamu cah ayu?"
Aku tersentak kaget kala mendengar ada suara dari belakangku, seketika aku langsung menoleh. Mataku terbelalak melihat sosok wanita yang sangat cantik, dengan kulit yang putih mulus.
Rambut tergerai panjang dan memakai mahkota emas, kemben yang berwarna hijau sungguh perpaduan yang sangat bagus.
"Saya Riana Nyi, saya ingin bersemedi didalam sendang ini untuk menambah kekuatan saya." ucapku menunduk setelah membungkukkan badan tanda memberi hormat
"Saya Nyi Waksita, penunggu disendang ini. Aku dapat melihat jelas bahwa ada ilmu hitam yang mengelilingi mu, namun aku lebih fokus kepada kerismu. Darimana kau mendapatkannya?" tanya nya
"Ini peninggalan eyang saya Nyi, mungkin turun temurun." sahutku
Seketika sosok Nyi Waksita terkesiap, lalu ia menoleh kearah ku.
"Mengapa kamu ingin bersemedi disini, bukankah kamu sudah sangat tinggi ilmunya."
"Saya masih belum bisa menandingi seseorang Nyi, saya harus membalasnya karena ia telah membunuh semua keluarga ku."
"Hahahahaha." seketika sosok Nyi Waksita tertawa menggelegar
"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menandingi nya, meskipun kau sudah bersemedi dan meminta ilmu sana sini. Jika kau masih belum bisa menghilangkan hati nurani mu itu, ingat cah ayu ilmu yang kau jalani ini adalah ilmu hitam. Jadi kau harus membuatnya seimbang, bukan bertolak belakang." ucap Nyi Waksita lagi menjelaskan
"Njih Nyi." sahutku menunduk
__ADS_1
"Sebenarnya ilmu yang kau punya sudah cukup, hanya saja kau masih belum menghilangkan hati nurani mu. Itu yang membuat ilmu mu tidak bisa bersatu dengan dirimu, tapi aku akan mengizinkanmu untuk bersemedi disini."
"Njih terimakasih Nyi." sahutku seraya mengatupkan kedua tangan didepan dada
"Bersemedi lah selama satu hari penuh, berusaha untuk fokus dan jangan mempedulikan apapun yang mencoba untuk menganggu mu." ucap Nyi Waksita
"Baik Nyi."
"Jika kau bisa, aku akan memberikan kekuatan ku."
"Njih Nyi."
"Segeralah bersemedi tanpa menggunakan apapun, karena tengah malam hampir tiba." ucapnya kemudian dalam satu kedipan mata ia menghilang
Setelah Nyi Waksita pergi, segera aku menanggalkan semua pakaianku. Kemudian aku memasukkan sebelah kakiku terlebih dahulu, kemudian aku memasukkan sebelah nya lagi.
Aku berjalan dibawah air hingga sampai ketengah yang semakin dalam, aku sudah masuk kedalam dasar sendang. Anehnya, walaupun dibawah dasar sendang sekalipun aku bisa bernafas seolah olah air ini tidak ada.
Aku langsung duduk bersila, dan meletakkan kedua tanganku diatas paha. Aku mulai memejamkan mata dan mencoba untuk fokus, awalnya banyak sekali gangguan.
Aku berusaha untuk tidak memperdulikan itu semua, yang kulakukan saat ini hanya fokus.
...****************...
Mentari pagi sudah menampakkan cahayanya, wajahku diterpa oleh cahaya matahari pagi yang menembus kedalam dasar sendang.
"Bangkitlah cah ayu, kau sudah berhasil. Kau sudah mendapatkan sebagain kekuatan dari dalam sendang, sekarang aku akan memberikan kekuatan ku juga." tiba tiba aku mendengar suara sosok wanita berbisik suaranya yang sangat merdu
"Njih Nyi." sahutku
Kemudian aku membuka mataku perlahan, aku bisa merasakan tubuhku yang sangat segar dan tidak merasakan lelah. Bahkan luka yang digigit oleh kalajengking semalam hingga mengeluarkan darah kini tidak ada lagi, bahkan bekas nya pun hilang tak bersisa.
__ADS_1
Aku tersenyum senang kemudian bangkit, aku berenang hingga keatas sendang. Sesampainya diatas, aku merasa lega bisa menghirup udara segar dari pepohonan yang dihembus angin.
Setelah semalaman aku hanya bisa menghirup air kini aku bisa menghirup udara segar, aku kemudian keluar dari sendang dan memakai kembali pakaian ku.
"Kau sudah siap cah ayu?"
Aku tersentak kala mendengar suara Nyi Waksita, segera aku berbalik dan melihat sosok Nyi Waksita sudah berdiri di depan ku.
"Sudah Nyi." sahutku
"Kemarilah dan duduk."
Aku segera mendekat dan duduk bersila membelakangi Nyi Waskita, hingga aku merasakan ada sebuah tangan yang berada dibelakang punggungku.
Tidak berselang lama, aku merasakan tubuhku terasa sangat panas hingga seluruh sekujur tubuhku memerah bak kepiting rebus.
Tubuhku bergetar merasakan atmosfer yang tidak biasa, beberapa menit kemudian aku merasakan hawa panas yang bagaikan diatas api kini berubah menjadi bawa dingin yang membuat seluruh tubuhku menggigil.
Saking dinginnya, aku merasakan bahwa tanganku sangat kaku seperti mayat. Tubuhku menegang, mungkin sebentar lagi aku membeku.
Namun tidak beberapa lama, aku kembali merasakan suhu tubuh ku sudah kembali seperti biasa. Bahkan aku jauh lebih segar daripada tadi, wajahku juga terlihat sangat cerah dan berseri seri.
"Sudah selesai cah ayu." ucap Nyi Waskita seraya menarik kembali tangan nya
"Njih, maturnuwun sanget Nyi." sahutku
"Ingat, kau harus bisa menghilangkan hatimu yang baik itu. Jika tidak, semua yang kau lakukan hanya percuma."
"Saya mengerti Nyi."
Setelah mengatakan itu, sosok Nyi Waskita kembali menghilang. Aku menyeringai, sebentar lagi aku akan membalaskan dendam ku.
__ADS_1
Aku kemudian pergi dari hutan ini, dengan menggunakan kekuatanku aku melesat cepat hingga hanya menimbulkan sekelebat bayangan.
Hingga tidak berselang lama aku sudah sampai di gapura desa Sumbul, aku kemudian berjalan seperti manusia biasa dan menuju rumahku.