Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kemarahan Damar


__ADS_3

POV Damar


Keesokan harinya, setelah sarapan aku berniat untuk ke kebun peninggalan pak lurah Pramono. Lekas aku mengeluarkan sepeda ku di samping rumah, setelah itu aku pun menaiki sepeda ku dan berpamitan pada ibu.


"Bu, Damar berangkat yo." ucapku setengah berteriak karena ibu sedang berada didalam


"Iyo le, kamu hati hati yo." sahut ibu setengah berteriak juga


Setelah berpamitan, lekas aku mengayuh sepeda ku menuju kebun milik pak lurah Pramono. Setelah itu, aku masih ada urusan ke kebun pak lurah di desa Sukar.


Setelah cukup lelah mengayuh, akhirnya aku sampai juga. Disana terlihat Sekar dan beberapa pekerja pak lurah Pramono yang lain, dulu memang mereka berniat untuk berhenti bekerja karena menurut mereka keluarga pak lurah sudah tidak ada.


Jadi mungkin tidak ada yang bisa membayar kinerja mereka, tapi aku menjelaskan bahwa aku yang akan membayar upah mereka dengan hasil kebun. Karna, seperti itu lah amanat pak lurah Pramono.


Sementara Sekar, ia adalah putri dari mang Kurdi pekerja di kebun ini. Bahkan, mang Kurdi salah satu orang kepercayaan pak lurah Pramono dulu.


Sekar selama ini berada di kota yang jauh dari sini, ia melanjutkan pendidikan nya disana dan baru beberapa hari ini ia pulang karena pendidikan nya jaga sudah selesai.


Aku ingat betul, dulu Sekar dan Riana sangat akrab sebelum keduanya sama sama sibuk dengan urusan masing masing.


Lekas aku menaruh sepeda disamping gubuk, kemudian aku mengambil cangkul yang berada di dalam gubuk. Kemudian, aku menyusul para pekerja yang lain.


Sekar yang melihat kedatangan ku seketika langsung tersenyum, aku membalas senyuman nya. Jujur aku merasa sedikit aneh dengan sikap nya kepada ku, karna jujur di kebun ini juga masih ada pemuda seumuran denganku.


Namun, ia malah terlihat dominan kepadaku. Namun aku tidak ingin berpikir negatif, biarlah itu urusannya. Aku akan tetap mencintai, dan setia menunggu Rianaku.


"Baru sampai kang?" tanya Sekar seraya berjalan menghampiri ku


Dengan tiba tiba ia mengusap keringat yang membasahi wajahku menggunakan lengan bajunya yang panjang, aku terkejut melihatnya. Dengan refleks, aku spontan menahan tangan nya.


"Kenapa kang?" tanya nya dengan tatap mata polos


Mungkin siapapun yang menatap nya disaat seperti ini, mereka akan mengatakan jika Sekar lucu, imut, dan menggemaskan. Namun tidak denganku, perasaan ku sudah mati untuk orang asing hanya ada Riana saja.


"Jangan, keringat ku bau biar aku saja." sahutku


"Tidak apa apa kok kang." ucapnya seraya tersenyum


"Jangan, biar aku saja yang mengelap." sahutku datar


"Eummm.... Kang Damar nanti sibuk tidak?" tanya nya


"Kenapa memang?" sahutku bertanya balik


"Kita kedanau yang kemarin itu yuk." ucapnya berbinar

__ADS_1


Aku tertegun sesaat, kemarin aku sengaja membawa nya karena ia sedang menangis. Aku tidak tau harus membawa kemana lagi, jadi terpaksa aku membawa nya ke tempat favoritku dan Riana.


Itu juga aku merasa bersalah, karena aku sudah berjanji pada Riana tidak akan membawa siapapun ke danau favorit kami.


"Maaf ya Sekar, aku sibuk nanti juga harus ke kebun didesa Sukar. Dan mulai sekarang, ada baiknya jika kamu jangan datang lagi kesana disana bahaya." sahutku


Seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi sendu


"Yah.... Kalau ke desa Sukar, Sekar bisa ikut tidak kang?" tanya nya antusias


Aku ingin mengatakan tidak, namun mang Kurdi datang terlebih dahulu aku tidak enak kepadanya.


"Baiklah." sahutku seraya berjalan


Aku sempat mengangguk dan tersenyum sekilas kearah mang Kurdi, kemudian lanjut bekerja.


...****************...


Setelah tengah hari, aku berniat untuk ke desa Sukar agar pulang nya tidak terlalu malam. Apalagi ada Sekar, aku tidak mau orang yang melihat kami berpikiran buruk lantaran aku membonceng wanita malam malam.


Setelah berpamitan kami lekas pergi, selama perjalanan tidak ada yang menarik. Sekar selalu punya cara untuk berbicara kepadaku, namun aku hanya membalas nya singkat.


Setelah sampai, Sekar langsung turun dan aku lekas memarkirkan sepeda.


"Aman mas Damar, silahkan langsung dicek aja." sahutnya


Tanpa memedulikan Sekar, aku lekas berjalan mengikuti pak Suryono untuk mengecek hasil kebun.


...****************...


Setelah urusan ku disini selesai, aku langsung mengajak Sekar pulang karena hari sudah mulai petang.


"Ayo pulang." ucapku


"Nggeh, baik kang." sahut Sekar kemudian naik ke boncengan ku


Kami pergi dari kebun ini, setelah sampai di pemukiman warga aku melihat seseorang yang aku kenal walaupun mungkin dia tidak terlalu mengenal ku.


Aku yang terkejut dengan apa yang aku lihat kemudian refleks menghentikan sepeda, kemudian aku mencoba untuk melihat seseorang itu lagi.


Deg


'Itu Purwo.' batinku


"Dia masih hidup." gumamku pelan

__ADS_1


"Kenapa kang?" tanya Sekar dari belakang membuyarkan lamunan ku


"Eh... Aku bisa minta tolong tidak." sahutku


"Minta tolong apa kang?"


"Kamu lihat kan warung itu." ucapku seraya menunjuk warung yang agak jauh dari sini


"Iya terus kenapa kang?" tanya Sekar lagi


"Kamu tolong beliin wedang jahe, sama nasi yo."


"Buat siapa kang."


"Buat ibu." sahutku seraya merogoh saku mengeluarkan beberapa lembar uang


Kemudian ia pun menerima uang nya dan langsung pergi ke warung itu, melihat ia sudah pergi lekas aku menghampiri Purwo.


Aku yang sudah emosi melihat nya karena telah menyakiti Riana lekas menerjang nya dari arah belakang.


Bughhh


Ia terpental didepan pagar rumah nya, karena kami sedang berada diluar pekarangan rumah. Ia yang terkejut, kemudian lekas berdiri.


"Siapa kau hah." sentak nya


Tanpa memedulikan nya, lekas aku kembali menyerang nya dengan membabi buta.


Aku lekas melompat tinggi kemudian melesat menerjang nya.


Bughhh


Sekali tendangan mengarah pada dadanya membuat ia lagi lagi terjungkal, lekas aku mendekati dan meninjau wajah nya berkali kali.


Salah satu pengawal nya menyadari kemudian memanggil teman temannya, aku menyangka mereka pengawal baru karena aku sudah mengenal pengawal nya sebelumnya.


Seketika aku mengingat ucapan Riana yang mengatakan bahwa akan membunuh pengawal juragan Karno, karena telah berani membakar rumah nya.


'Jangan jangan...' batinku


Seketika pengawal nya berlarian berhamburan, aku yang melihat ada banyak pengawal lekas memutuskan pergi. Bukan tidak mungkin jika mereka tidak menyerang ku, dan aku tentu tidak akan sanggup jika sebanyak itu.


Dari kejauhan aku melihat Sekar, lekas ku percepat mengayuh sepeda ku dan berhenti didepan nya. Setelah ia naik, kami lekas pergi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2