
"Buka matamu."
Mendengar hal itu entah mengapa Yayan dan Mamat seketika menggigil, bahkan tubuh mereka sampai gemeteran. Padahal, hawa di hutan larangan sangat hangat.
'Kenapa nada bicara Ratu seperti itu yo? Apakah kami melakukan kesalahan?' batin Yayan bertanya tanya namun tetap juga membuka mata
"A..Apakah kami me..melakukan kesalahan Ratu?" tanya Yayan memberanikan diri
"Apa katamu? Hahahaha seharusnya kalian tidak perlu bertanya lagi, namun menjelaskan." sahut Nyi Danuwati
"Ta..Tapi kami tidak melakukan kesalahan, kami juga membawa tumbal janin yang Ratu inginkan." sahut Yayan
Dari ekor mata Nyi Danuwati tampak ia menatap sinis, dari pancaran matanya terlihat kilatan amarah.
"Apa yang sudah kalian lakukan, kalian membuatku marah." sentak Nyi Danuwati menggelegar
Bahkan angin yang tadinya sudah tenang, kini kembali lagi berhembus hingga menjatuhkan beberapa pohon bersamaan dengan amarah Ratu hutan larangan.
Yayan dan Mamat merapatkan tubuh mereka satu sama lain, bukan hanya karena angin yang berhembus hingga membuat suasana dingin. Melainkan juga untuk waspada agar pohon yang tumbang tidak mengenai tubuh mereka, kini ketakutan menguasai diri mereka.
"Memangnya apa yang sudah kami lakukan sehingga membuat Ratu murka?" tanya Yayan hati hati
"Sudah kukatakan, kalian tidak seharusnya bertanya tapi menjelaskan." sahut Nyi Danuwati semakin murka
"Ta..Tapi kami tidak melakukan kesalahan Ratu, kami hanya menuruti perintahmu untuk mengambil janin." ucap Yayan sedangkan Mamat jangankan untuk menyahut membuka mata saja sepertinya ia enggan
"Kalian sudah melakukan kesalahan karena sudah membunuh orang orang yang aku sayang." sahut Nyi Danuwati dengan nada lirih diujung kalimat
Yayan dan Mamat saling berpandangan, pandangan itu menyiratkan tanda tanya dan was was akan apa yang terjadi selanjutnya.
"Katakan, hukuman apa yang pantas untuk kalian?" tanya Nyi Danuwati dengan nada sinis
Hening, kedua pemuda itu tidak menjawab. Lebih tepatnya takut menjawab, karena salah sedikit saja dalam berucap nyawa mereka bisa melayang.
"Kalian sudah ikut andil dalam menghancurkan sebuah keluarga, kalian ikut andil dalam menjauhkan seorang gadis dari semua keluarga yang ia cintai. Kalian juga turut ikut andil dalam menghilangkan nyawa seorang gadis, dan sekarang?
Kalian tidak hanya ikut andil, tapi kalian melakukan alias turun tangan sendiri dalam membunuh manusia tidak bersalah. Dan mirisnya, salah satu manusia itu adalah orang yang aku sayangi dan orang yang menyayangiku." ucap Nyi Danuwati pelan namun tersirat seperti ingin membunuh kedua manusia itu
__ADS_1
Glek
Yayan dan Mamat susah payah meneguk saliva, dalam hati mereka seolah sudah tahu apa yang terjadi menimpa mereka nanti.
"Ma..Maafkan kami Ratu, beri kami kesempatan." sahut Yayan memelas seraya mengatupkan kedua tangan didepan dada memohon
"Maaf? Kesempatan? Tentu saja." ucap Nyi Danuwati
"Benarkah Ratu?" tanya Mamat berbinar
"Tentu saja tidak, nyawa dibalas dengan nyawa. Satu tetes darah dibalas dengan satu tetes darah, katakan dengan cara seperti apa yang kalian inginkan untuk menemui malaikat maut." ucap Nyi Danuwati
Yayan dan Mamat saling berpandangan, detik kemudian mereka mengangguk dan lekas berdiri dan berlari sekencang mungkin. Namun sayang seribu sayang, mereka hanya seperti berputar putar disitu saja.
Hutan biasa yang terlihat didepan mereka seolah sulit untuk digapai, seperti ada sebuah penghalang atau pembatas atau bahkan dinding tak kasat mata membuat mereka tidak bisa menembus keluar.
Nyi Danuwati seketika berbalik badan menghadap kearah mereka, sementara Yayan dan Mamat membelakangi Nyi Danuwati karena fokus melihat hutan biasa didepan sana yang sulit untuk ditembus.
"Apakah kalian tidak penasaran, mengapa seorang Ratu seperti ku bisa mengenal mereka semua. Bahkan, menyayangi mereka semua." ucap Nyi Danuwati
Seolah tersadar, Mamat dan Yayan menoleh kebelakang secara perlahan.
Jantung mereka bertalu talu tidak karuan, mereka seperti kehabisan oksigen akibat jantung mereka yang berdetak dengan sangat cepat.
Sosok perempuan yang mereka ketahui sudah meninggal akibat terlibat perkelahian dengan bos mereka kini nyatanya masih hidup dan berdiri tegak didepan mereka, tidak ada yang berbeda. Hanya saja sosok didepan mereka jauh lebih cantik, mungkin karena ia sudah menjadi Ratu.
"Ti..Tidak mungkin." ucap Yayan menggeleng kan kepala
Begitu juga dengan Mamat yang tampak shock.
"Mengapa tidak mungkin, tidak ada yang tidak mungkin jika takdir berpihak padaku." sahut Nyi Danuwati dengan sinis bahkan salah satu sudut bibirnya terangkat keatas hingga menyunggingkan senyuman miring
Yayan dan Mamat semakin menggeleng hebat membuat Nyi Danuwati senang melihat ketakutan mereka.
"Baiklah karena kalian tidak bisa memutuskan, maka aku akan memutuskan sendiri dengan cara apa kalian menemui malaikat maut." ucap Nyi Danuwati
"Ja..Jangan." ucap Mamat cepat sungguh mati diusia muda bukanlah impian nya
__ADS_1
"Tolong ampuni kami." ucap Yayan
Berbagai kata ampunan dan wajah memelas tidak menggetarkan hati dan jiwa Nyi Danuwati yang memang sudah hitam, hingga dijuluki sebagai Ienge Jagad.
"Buto Ireng." ucap Nyi Danuwati memanggil sosok makhluk menyeramkan yang menjadi ajudan setianya
Tidak lama setelah panggilan Nyi Danuwati, angin kencang lagi lagi berhembus namun tidak sekencang saat kemarahan sang Ratu. Disusul dengan aroma bangkai busuk dan anyir, membuat perut Yayan dan Mamat seperti diaduk aduk.
Hingga muncul sosok Buto Ireng yang bertubuh sangat besar, berbulu hitam legam dan mata merah menyala. Gigi yang runcing, serta kuku yang panjang dan runcing.
Masing masing jarinya hanya ada tiga, melihat itu seketika Yayan dan Mamat berteriak ketakutan.
"Habisi mereka, cukup habisi saja agar warga masih mengetahui bentuk wajah mereka." ucap Nyi Danuwati yang dijawab geraman oleh sosok mengerikan itu
"Ggrrhhh."
Buto Ireng seketika mengejar Yayan dan Mamat yang sudah berlari sekencang mungkin membuat Nyi Danuwati merasa geli.
"Dasar bodoh, mau lari kemana mereka. Yang ada, mereka hanya berputar putar saja." gumam Nyi Danuwati
Hingga lelah berlari membuat Yayan terjungkal, Mamat yang berlari dibelakang Yayan pun ikut terjungkal kala menubruk tubuh Yayan yang sudah tergeletak di tanah.
"Arghhh sontoloyo, minggir dari tubuhku." ucap Yayan seraya mendorong tubuh Mamat yang berada diatas tubuhnya
"Buto Ireng minggir!" seru Nyi Danuwati seraya melepaskan selendang nya dan diterbangkan ke udara
Mendengar instruksi sang Ratu membuat Buto Ireng menjauh, dan ajaibnya selendang Nyi Danuwati terbang sendiri dengan meliuk liuk seperti ular menuju kearah Yayan dan Mamat.
Yayan dan Mamat yang melihat itu terperangah, belum sempat menghindar selendang itu sudah terlebih dahulu melilit leher Yayan hingga berbunyi.
Kretek
Bersamaan dengan suara itu, kesadaran Yayan menghilang. Ah tidak, Yayan sudah tidak bernyawa karena lehernya yang patah. Melihat kejadian mengerikan didepan mata membuat Mamat ketakutan, baru selangkah merangkak kini giliran Mamat yang dililit oleh selendang itu.
Mata Mamat mendelik keatas, wajahnya memerah karena pemasukan udara sudah terjepit. Urat urat dilehernya menyembul keluar, dan.
Kretekk
__ADS_1
Leher Mamat terkulai kesamping, Mamat pun seketika meregang nyawa.
...****************...