Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Tinggal Di Desa


__ADS_3

Sementara dari jarak yang cukup jauh, disebuah istana lautan Segoro tampak pria tua bersama seorang pemuda sedang duduk berunding.


"Mbah aku berfikir kalau sebaiknya kita mulai tinggal bersama para warga, setidaknya untuk memudahkan kita jika dalam keadaan mendesak." ucap Pangeran Segoro mengusulkan saran


"Mbah juga berfikir seperti itu le."


"Jadi bagaimana mbah, apa mbah setuju?"


"Iyo, sebaiknya memang kita tinggal di desa saja. Apalagi kamu sudah memiliki ilmu dan tidak perlu berlatih lagi, kalau pun harus kamu bisa mengasahnya di desa nanti."


"Jadi kapan kira kira kita mulai tinggal di desa mbah?"


"Apakah kondisimu sudah membaik le?"


Sudah tiga hari paska Pangeran Segoro bertarung dengan Nyi Danuwati dan berendam di kawah getih, kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Bahkan sangat baik, ia hanya berendam seharian. Dan dua hari telah berlalu, istana goib lautan Segoro dan istana hutan larangan disana waktu berputar begitu cepat.


"Njih sampun mbah." sahut Pangeran Segoro


(Iya sudah mbah.)


"Yowes, kita bisa tinggal di desa mulai besok." ucap mbah Sastro


"Njih mbah."


Mbah Sastro pun segera berlalu dari tempatnya duduk dan pergi meninggalkan Pangeran Segoro yang masih berperang dengan pikiranya, bukan tidak tahu. Pangeran Segoro tahu jika Nyi Danuwati sudah mengambil nyawa dua orang, namun jika orang itu bersalah maka Pangeran Segoro sama sekali tidak perduli.

__ADS_1


Di satu sisi ia ingin membantu sang pujaan hati membalaskan dendamnya, disisi lain ia juga tidak mau jika harus menyerang warga yang tidak bersalah.


Ia hanya mau melenyapkan orang orang yang menyakiti Nyi Danuwati, namun tidak dengan Nyi Danuwati yang ingin membumi hanguskan desa.


"Hufhh." tanpa sadar Pangeran Segoro menghela nafas panjang


Seolah nafas itu adalah beban yang menghimpit kepalanya.


"Mengapa serumit ini, mengapa takdir membawa kita melalui hari yang sangat rumit. Padahal aku hanya ingin kau dan aku bersatu dan bahagia, segampang itu toh." gumam Pangeran Segoro seraya tersenyum getir


"Aku pasti bisa membahagiakan mu dengan sederhana, ahh tapi takdir membawa kita berperang seolah kita adalah musuh." gumamnya lagi namun kali ini terlihat jelas sebutir bening keluar dan terjatuh dari manik matanya yang indah


Tanpa ia sadari bahwa dibelakang sana tampak mbah Sastro memperhatikan nya dengan sendu, kisah cinta yang mbah Sastro jalani tidak jauh berbeda dari Pangeran Segoro. Bedanya mbah Sastro sudah menikah, sementara Pangeran Segoro tidak.


"Begitulah takdir le, tidak bisa ditebak arah jalannya." gumamnya pelan setelah itu mbah Sastro pun pergi


......................


Hingga waktu begitu berputar cepat dikawasan hutan goib lautan Segoro, tidak terasa hari sudah pagi. Padahal jika orang awam yang tidur disana, mereka hanya merasakan tertidur sejam saja.


"Apa kamu sudah siap le?" tanya mbah Sastro


"Sampun mbah."


"Baiklah, ayo berangkat sekarang."

__ADS_1


Mereka pun keluar dari istana, untuk sementara istana dipimpin oleh sesosok kepercayaan mbah Sastro. Sosok yang setengah demit dan manusia, seperti biasa para pengawal yang melihat mereka segera membukakan gerbang dan menunduk memberi hormat.


Setelah sampai diluar gerbang, mulut mbah Sastro komat kamit membaca ajian tanpa suara. Setelahnya seperti biasa, asap putih terlihat mengepul berputar putar seperti angin ****** beliung.


Meraka berdua pun masuk kedalam pusaran asap itu, dan seketika mereka sampai digapura desa Ketang.


...****************...


Suasana desa ketang masih sorop paska penyelesaian pemakaman Nardi dan Wiryo, awan kekuningan terlihat melukis langit diatas sana. Pemandangan desa menjadi sangat indah karena tertimpa cahaya kekuningan dari atas langit, kala cahaya senja itu menimpa wajah Pangeran Segoro tampak semakin tampan.


Namun di desa Ketang tampak sepi seperti desa mati, padahal waktu menunjukkan masih sorop dan tidak terlalu gelap karena cuaca terlihat cerah meskipun sudah sangat sore.


Tapi itu tidak menutup kemungkinan, karena faktanya pintu disetiap rumah warga tampak tertutup rapat begitupun jendela. Bahkan suara suara seperti orang sedang memasak atau berbincang pun tidak ada, hanya keheningan.


"Separah ini mbah." ucap Pangeran Segoro menatap sekitar


"Iyo le." sahut mbah Sastro yang juga memperhatikan seluruh rumah warga


"Warga benar benar ketakutan mbah, mereka seperti diteror."


"Yasudah, sebaiknya kita segera pulang." ucap mbah Sastro


Rumah milik Pangeran Segoro menjadi tempat mereka tinggal, karena Ratna ibunya Pangeran Segoro masih tinggal di desa Sumbul tepatnya rumah Nyi Danuwati. Entah bagaimana kabar perempuan paruh baya itu sekarang, tidak ada yang tahu.


Mbah Sastro dan Pangeran Segoro pun berjalan cepat menuju rumah Pangeran Segoro, sesampainya didepan rumah. Pangeran Segoro memperhatikan rumah Kemal yang juga tertutup rapat, kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah dan menutup pintu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2