
Disaat sedang asik berbicara menanyakan apa yang terjadi, tampak dari kejauhan terlihat muncul dua orang yang mereka kenal. Dua orang yang selama ini menghilang bak ditelan bumi, kini berjalan kearah mereka.
"Itupun Yayan dan Mamat." ucap salah satu warga teman bicara Jojo
Sontak semua pasang mata tertuju pada mereka, sementara yang dituju berlagak seolah olah tidak tahu apa apa.
"Iyo benar, sejak kapan mereka ada disini?" tanya yang lain
"Aku juga tidak tahu kang, padahal selama ini mereka tidak terlihat sudah setahun." ucap yang lain
Setelah sampai di kerumunan warga, Yayan pun menanyakan apa yang terjadi.
"Iki ono opo yo pakde?" tanya Yayan sopan
(Ini ada apa ya pakde)
Mendengar pertanyaan Yayan, tampak Kemal mendelik kearah Yayan hingga mang Kurdi menyenggol lengan Kemal tentu saja tanpa sepengetahuan orang orang.
"Ada musibah le." ucap salah satu warga
"Musibah?" tanya Yayan ulang lebih tepatnya gumaman
"Iyo, sebenarnya musibah ini sudah lama terjadi."
"Karena apa pakde?"
"Warga percaya ini teror dari penunggu hutan larangan."
Mendengar nama hutan larangan membuat Yayan tertegun, begitu juga dengan Mamat. Pasalnya, mereka berdua justru bermimpi didatangi oleh sosok wanita yang diduga oleh ratu hutan larangan.
Namun disisi lain mereka juga senang, itu artinya mereka akan aman karena tidak ada yang mencurigai mereka.
...----------------...
Setelah urusan Panjul selesai, mbah Sastro beserta rombongan pun pulang. Sepanjang jalan tampak Kemal terus menggerutu, namun sayangnya para pria berumur itu tidak perduli.
"Ck, seharusnya kita katakan saja tadi pada warga." ucap Kemal bersungut sungut
"Apa yang ingin sampeyan katakan?" tanya mang Kurdi seraya menaikkan sebelah alis
Melihat itu membuat Kemal semakin malas, Kemal hanya bisa membola mata malas.
"Harusnya katakan saja bahwa mereka berdua itu biang keroknya." sahut Kemal
"Kamu ada bukti?" tanya mang Kurdi membuat Kemal menutup mulutnya rapat
Benar apa yang dikatakan oleh mang Kurdi, walaupun mereka semalam melihat jelas apa yang dilakukan oleh Yayan dan Mamat tetap saja itu tidak akan bisa membuat warga percaya. Terlebih Yayan dan Mamat baru balik ke desa semalam, harus ada bukti yang kuat.
Namun apa daya, bahkan dikota sekalipun alat canggih untuk berkomunikasi berupa telepon atau handphone sekalipun masih belum memiliki kamera. Hanya hp jadul, itupun harga nya sangat membuat warga ketar ketir.
__ADS_1
"Wes lah, toh juga nanti kepala kerbau itu dijadikan ritual pengambilan nyawa mereka." ucap Kemal
"Hus lambemu." ucap mang Kurdi dengan tatapan tajam
Sementara dua sepuh didepannya hanya tersenyum.
"Sudahlah Kur, jadikan saja dia mantumu." ucap mbah Bayan membuat mbah Sastro tertawa
Sementara dua orang dibelakang hanya bisa terdiam.
"Arghhh."
Disaat tengah asik berbincang, terdengar suara teriakan. Ah tidak, lebih tepatnya suara rintihan kesakitan hanya saja cukup keras membuat rombongan mbah Sastro bertanya tanya.
"Suara apa itu?" tanya mang Kurdi
"Sepertinya asal suaranya dari sana." ucap Kemal seraya menunjuk salah satu rumah yang tampak sepi namun pintunya terbuka lebar
"Itu kan rumah Udin." ucap mang Kurdi
Seketika mereka berempat berjalan kearah rumah itu, hingga tiba didepan pintu mbah Bayan mengetuk.
Tok tok tok
"Kulo nuwun." ucap mbah Bayan
Namun tidak ada jawaban, hanya terdengar suara rintihan orang kesakitan.
Tok tok tok
"Monggo." terdengar suara wanita paruh baya dari dalam
Tidak lama tampak seorang wanita paruh baya yang tidak lain istri Udin muncul dengan mata sembab, melihat mbah Sastro seketika ia kaget sekaligus senang.
"Mari masuk silahkan." ucap istri Udin yang bernama Tuti
Mereka pun segera masuk dan duduk lesehan ditikar pandan, Tuti pun segera pergi ke dapur untuk membuatkan kopi dan cemilan untuk tamunya.
Hingga beberapa menit berselang, tampak Tuti muncul dibalik tirai dapur dengan membawa nampan yang berisi kopi serta cemilan seperti ubi rebus dan pisang goreng.
"Ojo repot repot nduk." ucap mbah Sastro
"Njih, tidak repot kok mbah." sahut Tuti
"Silahkan dinikmati." ucap Tuti lagi mempersilahkan tamunya
Sebenarnya mbah Sastro beserta yang lain tidak bisa menikmati suguhan tuan rumah ditengah suara rintihan yang menyayat hati, namun untuk menghargai Tuti mereka pun menyeruput sedikit kopi secara pelan karena masih panas.
"Itu suara pakde Udin yo bude." ucap Kemal tanpa basa basi
__ADS_1
Sontak setelah itu Kemal mendapatkan tatapan tajam, Kemal hanya bisa meringis merasa bersalah. Namun mau bagaimana lagi, itu memang sifat Kemal yang sudah mendarah daging sifat yang ceplas ceplos serta lebih suka langsung ke inti nya tanpa ba bi bu.
"Iyo kamu benar le." ucap Tuti dengan sendu
Melihat perubahan di wajah istri Udin, semakin membuat Kemal merasa bersalah.
Prangg
Tiba tiba terdengar suara pecahan dari dalam kamar, yang mereka duga adalah kamar yang ditempati oleh Udin.
"Sebentar." ucap Tuti
Tanpa menunggu jawaban tamunya, Tuti segera buru buru masuk kedalam kamar.
"Grrhhh."
Kali ini terdengar suara geraman, pikiran keempat orang itu sudah tampak tidak tenang.
"Arrghh." kali ini suara teriakan Tuti yang terdengar membuat mereka mau tidak mau harus masuk kedalam kamar guna memastikan apa yang terjadi
Mereka berempat terbelalak kaget melihat pemandangan didepan mata, tampak Udin mencekik leher Tuti istrinya dengan kuat sehingga wajah Tuti memerah dan seperti kehabisan oksigen.
"Pisahkan mereka." ucap mbah Sastro
Mbah Sastro dan mbah Bayan menarik Tuti, sementara Kemal dan mang Kurdi melepaskan cengkraman tangan Udin dari leher Tuti.
Lumayan sulit karena cengkeraman Udin sangat kuat seperti menggunakan tenaga dalam bahkan sangat dalam, sampai sampai Kemal dan mang Kurdi kewalahan melepaskan tangannya meskipun sudah memakai tenaga dalam.
Hingga sekitar lima menit berselang, cengkeraman itupun terlepas.
"Uhuk uhuk."
Tampak Tuti terbatuk batuk dengan wajah yang memerah, mbah Bayan segera membawa Tuti keluar kamar agar lebih aman.
"Grrrhhhh." Udin mengeram marah
"Mundur." ucap mbah Sastro
Sontak seketika Kemal dan mang Kurdi mundur menjauh dari Udin, kali ini mereka dapat melihat jelas wajah Udin. Mata melotot yang hanya terlihat bagian putih nya saja, urat urat dileher Udin menyembul keluar.
"Dia kerasukan mbah." ucap mang Kurdi
Mbah Sastro mengangguk, kemudian mbah Sastro berjalan mendekat kearah Udin dan membacakan sesuatu tanpa bersuara.
"Grhh." wajah Udin mendelik keatas
Urat urat dilehernya semakin jelas terlihat, wajah yang merah seperti kepiting rebus dan.
Brakkk
__ADS_1
Udin jatuh tersungkur diatas kasur dalam keadaan pingsan.