Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Bercerai


__ADS_3

POV Purwo


Tidak terasa hari sudah menunjukkan hampir pagi, ayam berkokok bersahut sahutan, para abdi juga kesana kemari untuk mempersiapkan makanan.


Padahal aku belum memejamkan mata mulai dari semalam, perkataan Riana masih terngiang ngiang di kepala ku membuatku sulit tertidur. Disaat hari sudah pagi begini, barulah aku merasakan kantuk yang luar biasa.


Namun setiap kali aku memejamkan mata tetap saja tidak bisa tidur, jika bukan karena keadaan ku yang begini sudah ku robek mulut Riana berani sekali dia mengancam ku.


"Tidak, wanita sialan itu tidak bisa tinggal disini." gumamku seorang diri


"Arghh." ucapku lagi berteriak frustasi


Semua karena dukun sial itu, bisa bisanya ia membuka praktik dukun padahal ia sendiri belum tahu apa apa. Sekarang lihatlah apa yang dilakukan dukun sial itu kepadaku, beraninya ia melakukan ini aku menyesal pernah mendatangi tempat nya.


"Arghhh semuanya bede*ah, brengsek." aku berteriak frustasi


Tidak lama aku mendengar suara langkah tergopoh gopoh, sepertinya ia berlari.


Tok tok tok


"Apakah tuan baik baik saja." ucap sosok dari luar


Dari suaranya aku tahu jika itu mbok Asih, aku diam tak menyahut rasanya kepala ku mau pecah.


Tok tok tok


Lagi-lagi suara ketukan pintu terdengar.


"Maafkan saya tuan jika saya lancang namun, saya khawatir jika berdiam diri tuan." ucap mbok Asih


"Saya masuk yo." ucapnya lagi


Kriettt


Pintu terbuka lebar menampakkan seraut wajah wanita paruh baya.


"Apa tuan baik baik saja?" tanya nya


Aku hanya mengangguk, dalam pikiran ku bagaimana cara menyingkirkan Riana. Setidaknya ia tidak tinggal disini, aku khawatir jika perempuan ja*ang itu membunuhku.

__ADS_1


"Mbok, suruh Harjo dan beberapa anak buah nya memanggil pamong desa." ucapku


"Njih, baik tuan."


Mbok Asih terlihat bingung ia hendak bertanya nemun ia takut dan memilih untuk mengikuti perintahku saja, sepertinya aku harus menceraikan Riana hari ini juga. Wanita sialan itu tidak akan kubiarkan tinggal disini lagi, bisa bisa aku mati dibunuh.


Cukup lama aku berdiam diri diatas kasur, akupun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Aku tidak perlu repot repot ke sumur belakang, karena didalam kamar ku juga terdapat kamar mandi.


Disaat mandi, aku merasakan perih disekujur wajahku akibat terkena air.


"Arghhh." aku berteriak kencang kala air itu mengenai wajahku


Jadi aku memutuskan untuk menyiram tubuhku saja, aku akan membuat perhitungan kepada dukun itu. Setelah selesai mandi, segera aku memakai pakaian ku dan keluar dari kamar mandi.


Tidak lama setelahnya, Harjo dan beberapa perangkat desa sudah datang. Segera aku melangkahkan kakiku ke ruang tamu, seketika mereka kompak menutup hidung kala melihatku.


'Awas kau dukun sial.' batinku


Aku pun segera duduk disalah satu kursi rotan, kemudian aku menyampaikan niatku untuk menceraikan Riana. Riana yang kebetulan datang memberikan suguhan teh tampak terkejut, kemudian ia menoleh ku.


Aku tidak memperdulikan tatapanya, bahkan perangkat desa juga ikut terkejut. Namun, mereka tidak berani bertanya lebih jauh lagi.


"Kalau begitu, nona Riana juga bisa ikut duduk disini biar kita bicarakan bersama " ucap pamong desa


'Cih muka dua.' batinku


Semenjak perkataan nya semalam aku semakin membenci nya, lihat saja setelah aku menyingkirkan dukun abal abal itu aku akan menyingkirkan mu.


"Apakah kalian benar benar yakin ingin bercerai?" tanya pamong desa


"Yakin pak." sahutku tegas


Beberapa perangkat desa pun saling berpandangan satu sama lain, Riana hanya menatapku sekilas seraya tersenyum licik entah apa yang dipikirkan nya.


...****************...


Setelah beberapa lama akhirnya semua masalah selesai, aku resmi bercerai dengan Riana. Ia juga sudah pergi dari rumah ini, aku tidak perduli ia akan tinggal dimana.


"Jooo...Harjo." teriakku menggelegar dari dalam kamar

__ADS_1


Tidak lama kemudian terdengar derap langkah berlari, kemudian terdengar bunyi pintu yang terbuka.


"Ada apa tuan." ucap Harjo setelah menutup pintu


"Kemari." sahutku


Ia pun mengangguk dan duduk dikursi rotan disamping kasur ku, aku pun memberikan perintah kepadanya.


"Kamu dan beberapa anak buahmu habisi dukun luck*at itu." ucapku


Seketika Harjo tersentak kaget, detik kemudian wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi.


"Ta..tapi ia dukun tuan, bagaimana jika ia tahu rencana tuan." sahut Harjo terbata karena ketakutan


"Aku tidak perduli, sek penting kamu habisi dukun sial itu." ucapku menyentak


"Paham." teriakku menggelegar karena tidak terdengar sahutan Harjo


"Paa..paham tuan." sahut nya


"Ingat kamu harus menghabisi dukun itu, jika tidak aku akan membunuh seluruh keluarga mu." ucapku dengan tatapan nyalang


"Ja...jangan tuan, ba...baik saya dan beberapa an...anak buah saya akan menghabisi dukun itu." sahut Harjo


Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis, kemudian aku melambaikan tanganku pertanda menyuruh ia pergi. Sebelum ia menutup pintu, aku segera memanggil nya kembali.


"Harjo." ucapku


"Iyaa...iya tuan." sahutnya


"Aku ingin melihat mayat nya malam ini juga." sahutku seraya menyeringai seram


"Ba...baik tuan." sahutnya kemudian pergi


Aku segera merebahkan tubuhku keatas kasur, namun tiba tiba aku kepikiran dengan ucapan dukun waktu itu. Ia mengatakan bahwa bapak dan satu pria kekar dan gagah memakai jubah berniat untuk membuat orang celaka, namun siapa pria itu.


Batinku terus bertanya tanya, bapak mengenal orang itu darimana, dan siapa dia.


"Argggh." teriakku

__ADS_1


"Terserah mereka saja, aku tidak perduli." gumamku kemudian aku memejamkan mata untuk tidur


Seharian suntuk aku tidak bisa tidur karena perkataan Riana, sekarang wanita itu sudah pergi aku akan bisa tidur nyenyak.


__ADS_2