
"Nyi Danuwati." ucap Pangeran Segoro kala melihat Nyi Danuwati tidak sadarkan diri
"Padahal ilmu nya lebih mumpuni, mengapa dia tidak melawan dan membiarkan dirinya terluka." gumam Pangeran Segoro
Lekas Pangeran Segoro mengguncang tubuh Nyi Danuwati pelan, namun tidak ada pergerakan.
"Kemana aku harus membawanya, jika aku bawa ke balai desa akan riuh." gumamnya lagi seraya mengacak rambutnya
Pasrah apapun yang terjadi, Pangeran Segoro hendak menyambar tubuh Nyi Danuwati. Namun, disaat tangannya masih menyentuh kulit ia langsung terpental kebelakang.
"Arghh."
Ia kemudian segera duduk dan menoleh kearah Nyi Danuwati yang diselimuti asap hitam pekat yang sangat tebal, hingga beberapa menit menunggu kabut itu berangsur angsur hilang, namun bersamaan dengan hilangnya Nyi Danuwati.
"Aku bisa merasakan aura negatif yang hampir setara dengan Nyi Danuwati, mungkin saja ia yang membawa Nyi Danuwati pergi." ucapnya
Tidak ingin warga menunggu lama dan membiarkan mbah Sastro kewalahan, ia segera pergi dari hutan itu dengan cara melayang dan melesat cepat bahkan sangat cepat.
Hingga hanya hitungan detik saja Pangeran Segoro sudah sampai dikawasan rumah rumah warga, segera ia berhenti melayang dan menapak di tanah.
Ia segera berjalan cepat, namun walaupun Pangeran Segoro berjalan masih saja tidak ada orang yang bisa mengejar nya. Hingga sesampainya dibalai desa semua orang tercengang melihatnya, mbah Sastro yang sedari tadi menutup mata seketika membuka matanya kala merasakan Pangeran Segoro datang.
__ADS_1
Mbah Sastro juga sama dengan para warga, ia terbelalak kala melihat penampilan Pangeran Segoro yang berantakan. Pakaian bahkan seluruh tubuh bersimbah darah, bahkan sampai sekarang darah segar masih mengalir disela sela hidungnya.
Bajunya yang sebagian robek, mungkin karena tarikan dibeberapa pohon tadi. Persis seperti orang gila yang sedang mengalami kecelakaan tabrak lari, untung saja wajahnya yang tampan hingga menyamarkan semua.
"Kamu kenapa le?" tanya mbah Sastro
"Tidak apa apa mbah, saya baik baik saja." sahut Pangeran Segoro
Mbah Sastro menggeleng pelan, kemudian ia memanggil Pangeran Segoro agar duduk didepan nya. Pangeran Segoro pun menurut, ia duduk dengan membelakangi mbah Sastro.
"Kamu mengerahkan semua energi dan ilmu kamu untuk menyerang wanita itu le." ucap mbah Sastro yang lebih mirip ke pernyataan bukan pertanyaan
"Maafkan saya mbah." sahut Pangeran Segoro menunduk
Pangeran Segoro lekas menggeleng cepat, namun belum sempat ia berbicara mbah Sastro lebih dulu berucap.
"Tidak ada penolakan le, kamu sudah mengerahkan semua energi kamu untuk menyerang nya. Sementara wanita itu, ia hanya mengerahkan setengah energi nya. Kamu pikir kamu sudah menang karena dia kalah, tidak."
Seketika Pangeran Segoro terpaku.
"Mengapa dia tidak melawan ku mbah?"
__ADS_1
"Kamu sebaiknya kembali ke istana, dan berendam di kawah getih agar kondisi mu pulih. Kamu tidak akan bisa membantu warga dengan kondisi seperti ini, sekarang pergilah." ucap mbah Sastro yang memilih tidak menjawab pertanyaan Pangeran Segoro
Tidak ingin berdebat dan juga memang ia merasakan kondisinya semakin menurun, ia segera pergi dari balai desa. Hingga setelah jaraknya cukup jauh, ia pun merapalkan sebuah ajian tanpa bersuara.
Hingga tidak lama, muncul sebuah asap putih yang sangat tebal jika orang awam yang melihat mungkin saja matanya sudah perih. Pangeran Segero lekas masuk menembus kabut itu, kemudian tubuhnya menghilang seiring dengan hilangnya kabut putih itu.
...****************...
Pangeran Segero secepat kilat sudah berada dikawasan istana lautan Segoro, ia kemudian berjalan kearah gerbang yang dijaga ketat oleh pengawal yang berpakaian seperti ninja.
Mereka seketika membuka gerbang lebar lebar kala melihat Pangeran Segoro, hingga setelah dekat para pengawal beserta makhluk menyeramkan memberi hormat kepada pemuda manis dan tampan itu.
Setelah berada didalam istana, ia segera melesat cepat kebelakang istana menuju kawah getih yang jaraknya tidak jauh namun juga tidak dekat.
Hingga sesampainya dikawah getih, bisa dibilang sungai atau telaga yang airnya berwarna merah darah. Serta dari dalam kawah itu mengepulkan uap air seperti kabut dan memunculkan geriyak air seperti air yang mendidih.
Bagi orang biasa mungkin air dikawah itu sangat panas, bahkan jika mereka berdiri dipinggir saja mungkin mereka sudah bisa merasakan panasnya. Namun tidak berlaku bagi Pangeran Segoro, ia langsung masuk kedalam kawah dan berenang menuju ke tengah.
Ia tidak merasakan panas sedikitpun, padahal uap kawah itu semakin mengepul tebal. Hingga sesampainya ditengah, ia segera berenang kembali masuk ke dasar kawah itu dan berendam dibawahnya dengan duduk bersila.
"Aku merasakan tubuhku semakin melemah dan energi ku juga terkuras habis." gumam nya
__ADS_1
Kemudian ia mulai memejamkan mata, walaupun pikiran terus terbayang wajah Nyi Danuwati.
...****************...