Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Tragedi Malam Berdarah


__ADS_3

Sekitar pukul 19:00 tepat, hari sudah malam angin berhembus sepoi menembus tulang. Tidak seperti desa Ketang dimalam hari, suasana di desa Sumbul dimalam hari tampak hangat membuat Yayan dan Mamat bosan menunggu.


Di pos ronda juga tampak pria paruh baya semakin banyak saja berkumpul, sementara wanita paruh baya tampak masih berlalu lalang.


"Aduh pie iki, tengah malam nanti harus sudah kita serahkan." ucap Mamat sedikit kesal


Yayan tampak berfikir sejenak, namun nihil tidak ada satupun ide kotor yang muncul dalam pikiran nya.


"Sabar sedikit lagi, disaat mereka lengah kita masuk kedalam." sahut Yayan pada akhirnya


Hingga tiga puluh menit lamanya mereka menunggu, tampak pria paruh baya yang berada di pos ronda sibuk dengan kegiatan nya masing masing. Sebagian bermain catur, sebagian lagi sibuk bercerita dengan kopi berada didepan mereka.


Setelah memastikan mereka lengah, dan tidak menyadari keberadaan Yayan dan Mamat kedua orang itupun segera masuk kedalam desa dengan cara sembunyi sembunyi.


"Jangan pakai suara Mat." ucap Yayan mengingatkan


"Iyo."


Setelah cukup jauh dari pos ronda mereka segera berdiri dan berjalan secara normal, mereka kemudian menoleh kebelakang. Ternyata masih belum terlalu jauh, namun sudah dipastikan orang orang yang berada di pos ronda tidak akan melihat mereka.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Mamat


"Tidak tahu, sudah kita cari saja dulu." sahut Yayan


...****************...


Sementara masih di desa yang sama, disebuah rumah panggung yang lumayan besar bagi desa jaman dulu. Tampak ibu dan anak itu saling bercerita melepas rindu, Pangeran Segoro menceritakan semua yang terjadi di desa.


Dari teror demi teror, teluh yang dikirim hingga menyebabkan banyak warga yang meninggal. Namun Pangeran Segoro tidak menceritakan tentang Nyi Danuwati, Pangeran Segoro juga langsung menolak mentah mentah ajakan sang ibu kala ibunya meminta untuk ikut saja.


"Alangkah baiknya jika ibu tetap berada disini demi keselamatan ibu sendiri, desa kita sedang tidak baik baik saja bu. Sementara aku, aku pasti bisa menjaga diri." ucap Pangeran Segoro


Jujur saja, ia bingung harus menyebut namanya apa didepan ibunya.


"Baiklah, tapi siapa kira-kira yang melakukan ini semua. Siapapun itu, pasti mereka sangat jahat." gumam Ratna ibunya dengan pelan tapi masih didengar oleh Pangeran Segoro


"Sudah jangan ibu pikirkan, doakan saja semoga desa kita baik baik saja dan tidak menjadi lautan darah." sahut Pangeran Segoro dengan suara sangat pelan diujung kalimat

__ADS_1


Ibunya tidak menjawab, hanya anggukan kepala sebagai jawaban. Pangeran Segoro tampak heran, sudah lama ia berada di desa itu namun kedua manusia yang ditunggu tunggu tidak muncul juga.


'Apa mereka tidak ke desa ini?' batin Pangeran Segoro bertanya tanya


Tidak ingin seperti orang bodoh, Pangeran Segoro beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Sejauh mata memandang hanya keremangan yang terlihat, cahaya remang remang itu sendiri didapat dari cahaya obor yang dibakar warga dan diletakkan didepan rumah masing masing.


"Bu aku pamit keluar sebentar njih, kumpul bersama rombongan bapak bapak yang sedang ngeronda."


"Njih."


Setelah berpamitan, Pangeran Segoro segera berjalan kearah pos ronda yang sedang ramai oleh pria.


...****************...


Sementara itu Yayan dan Mamat segera menjalankan aksinya, kebetulan sekali tampak wanita yang sedang hamil tua sedang berjalan dengan menenteng rantang di tangannya. Sepertinya itu berupa makanan, dan hendak diberikan kepada tetangga.


"Sampeyan serius? Aku kok yo ngeri yo, harus merobek perutnya." tanya Mamat seraya bergidik


"Sebenarnya sih tidak tega, biar begini juga seumur umur aku tidak pernah membunuh. Hanya melihatnya saja secara langsung sewaktu bersama tuan Ginanjar dulu, mau bagaimana lagi terpaksa. Kita juga butuh uang sekarang kan?" tanya Yayan balik yang membuat Mamat tidak bisa berkata kata


Mereka kembali mengikuti wanita hamil itu dengan cara mengendap endap, entah insting darimana. Wanita hamil itu seolah tahu jika dirinya diikuti, tidak berani menoleh kebelakang ia segera mempercepat langkah kakinya.


Disaat wanita hamil itu menoleh kebelakang, matanya terbelalak kaget bahkan saking kaget nya bola mata itu hampir keluar dari sarangnya. Bagaimana tidak kaget, ia melihat dua pria asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya didesa ini seraya mengayunkan golok masing masing.


Kemudian wanita hamil itu menoleh kembali kedepan, ia dapat bernafas lega kala melihat rumah yang ingin ia kunjungi sudah berada didepan mata. Rumah berbentuk panggung yang paling besar di desa itu, yaitu rumah yang dihuni oleh Ratna ibunya Pangeran Segoro.


Brakkk


"Arghhh."


Wanita hamil itu terjungkal kedepan karena tersandung oleh kakinya sendiri, rantang yang berisi opor ayam seketika berceceran di tanah. Darah segar mengalir dari sela kakinya, sementara Yayan dan Mamat berhenti sejenak dan saling pandang kebingungan.


"Tolong." teriak wanita itu sekencang kencang nya


Kriett


Bias cahaya dari dalam rumah menerpa wajah mereka dan membuat sedikit silau kala seseorang membuka pintu, ternyata itu ibunya Pangeran Segoro. Betapa terkejutnya ia melihat wanita hamil yang ia kenal terkapar di tanah, sementara dua orang pria asing berada tidak jauh darinya seraya memegang golok.

__ADS_1


"Tolong... tolong." teriak Ratna seraya berjalan tergopoh gopoh kearah wanita hamil itu


"Ba..bagaimana ini?" tanya Mamat gemeteran


Yayan seketika ikut panik, tidak ingin ketahuan tiba tiba saja secara reflek karena ketakutan, panik, dan berbagai rasa lainnya campur aduk dalam pikiran nya ia mengacungkan golok itu.


Brukk


Cisshhh


"Arghhh." teriakan panjang kesakitan keluar dari mulut Ratna


Sementara wanita hamil itu semakin ketakutan, dan betapa syok nya ia kala menyadari tetesan cairan kental berbau amis terjatuh dan mengenai wajahnya.


Ternyata disaat Yayan mengacungkan golok kearah wanita hamil itu dengan secepat kilat Ratna melindungi, hingga golok itu mengenai dirinya sendiri. Tampak golok itu menembus perutnya hingga tembus kebelakang, sungguh caranya meninggal tidak jauh berbeda dengan sang putri tercinta yaitu Hayati.


"Arghhh tolong tolong." teriak wanita hamil itu sekuat kuatnya hingga suaranya serak


"Tolong."


Ternyata teriakan nya membuahkan hasil, pos ronda yang tadinya ramai suara riuh kini hening. Tidak lama mereka mendengar suara minta tolong, Pangeran Segoro yang memang sudah merasakan hal buruk seketika berlari disusul dengan yang lainnya.


Brakk


Tubuh ibunya Pangeran Segoro terjatuh, sementara Yayan dan Mamat panik kala melihat dari kejauhan tampak warga berlari kearah mereka.


"Tidak ada waktu, segera eksekusi wanita hamil itu." ucap Yayan


Mereka berdua lekas menyingkirkan tubuh Ratna dari tubuh wanita hamil itu, tampak nafas Ratna tersengal sengal dan matanya tertutup. Dan tanpa belas kasihan, mereka segera menghunuskan golok itu kearah wanita hamil itu dan menyayat perutnya.


"Arghhh." teriakan panjang kembali terdengar membuat para warga seketika berlari


Buru buru Yayan memasukan tangannya kedalam perut wanita hamil itu dan mencari cari janin, setelah menemukan ia segera menarik tangannya kembali.


"Arghhh." lagi lagi teriakan panjang terdengar


Lekas Yayan dan Mamat berlari meninggalkan tempat itu secepat kilat, sementara para warga baru sampai ditempat kejadian. Mereka terkejut melihat pemandangan didepan mata, Pangeran Segoro segera berlutut disamping tubuh sang ibu yang sudah tidak bernafas.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2