
Malam hari kembali menyapa, angin sepoi berhembus pelan membawa suasana mencekam. Bunyi jangkrik memecah kesunyian desa, lolongan berbagai macam hewan saling bersahut sahutan didalam hutan sana.
Tampak beberapa warga desa baru pulang dari balai desa, walaupun waktu masih menunjukkan pukul 21:30 namun seperti biasa suasana tampak mengerikan. Mereka harus berjalan dijalan dengan pencahayaan yang remang remang, itu juga karena bias pendar cahaya dari obor yang diletakkan didepan halaman rumah warga.
Walaupun begitu itu tidak mampu menerangi langkah mereka, karena masih ada juga beberapa warga yang tidak meletakkan obor didepan rumah mereka sebagai penerangan jalan.
"Kok suasana nya mencekam begini yo." ucap Kemal
"Halah, sudah biasa toh." sahut mang Kurdi
Hingga sampai di persimpangan jalan, rombongan mbah Sastro berpisah dengan mang Kurdi karena memang rumah mereka beda jalur. Rumah mang Kurdi berada diujung desa yang paling ujung, jika hendak pergi ke kebun maka mereka menemukan rumah mang Kurdi.
"Tidak takut pakde?" tanya Kemal seraya tersenyum menggoda
"Wes lambemu iki loh Mal Mal, kalau nanti saya diganggu saya suruh saja demitnya kerumah sampeyan." ucap mang Kurdi
"Beneran loh yo tidak takut pakde." sahut Kemal lagi
Kali ini mang Kurdi mengambil ancang ancang melepas sebelah sandal nya untuk di layangkan kepada Kemal, Kemal yang melihat itu seketika menghindar hingga serangan mang Kurdi melesat.
"Wes sudah toh Mal, kasihan mang Kurdi lagipula ini sudah malam tidak baik jika bermain main." ucap Pangeran Segoro menengahi
Seketika kedua pria berbeda umur itu berhenti, Kemal hanya meringis karena malu ditegur oleh sahabat nya.
"Iyo iyo, sudah ayo pulang." sahut Kemal
"Sampeyan beneran berani toh?" kali ini mbah Sastro yang bertanya membuat mang Kurdi berdecak kesal sementara Kemal hanya terkikik geli
"Ck mbah sama saja sama bocah ingusan iki, wes toh mbah saya berani sendiri." ucap mang Kurdi
"Yasudah kalau begitu kami pamit yo." ucap mbah Sastro
"Njih mbah."
Mbah Sastro, mbah Bayan, Pangeran Segoro, dan Kemal segera berlalu dari hadapan mang Kurdi. Baru beberapa langkah berjalan, Kemal menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Hati hati loh pakde, takutnya ada hihihi." teriak Kemal karena mang Kurdi juga sudah melangkah dengan langkah lebar
Sesaat mang Kurdi berhenti dan menoleh kearah Kemal, kemudian mang Kurdi melanjutkan kembali langkahnya setelah memberikan tatapan maut kepada Kemal. Sementara Kemal sendiri, masih tertawa terpingkal pingkal.
Pluk
Pangeran Segoro menepuk punggung Kemal dengan kuat, membuat temannya itu melihat Pangeran Segoro dengan cengengesan.
"Kowe iki loh Mal, ingat mang Kurdi itu umurnya jauh lebih tua dari sampeyan. Kamu harus bersikap sopan, agar mang Kurdi mengambil kamu sebagai menantu nya." ucap Pangeran Segoro tertawa terbahak bahak diujung kalimat
Sontak kedua sepuh namun berbeda umur itu menggeleng pelan, sedangkan Kemal yang menjadi bulan bulanan Pangeran Segoro mendelik sinis.
"Kok aku, kan si Sekar suka nya sama kamu toh. Gampang, nanti Ratu hutan larangan sama Mahendra saja." sahut Kemal
Perkataan Kemal mampu membuat tawa Pangeran Segoro yang tadinya terbahak bahak berhenti seketika, kini giliran Kemal yang tersenyum penuh kemenangan.
Tawa Pangeran Segoro sendiri berhenti bukan karena perkataan Kemal sepenuhnya, memang Pangeran Segoro kesal mendengar sahabatnya itu menjodohkan Mahendra dengan wanitanya. Namun itu bukan mendominasi tawa nya berhenti, lebih tepatnya karena ingatan Pangeran Segoro kembali ke masa lalu.
Pangeran Segoro mengingat kesalahan Sekar dulu, hingga yang paling fatal adalah ketika Sekar dengan teganya mendorong mendiang ibunya ke sungai yang arusnya sangat deras. Terlebih lagi, sungai itu memang lumayan dalam.
Kini mereka kembali berhenti sesaat karena rumah mbah Bayan sudah sampai.
"Monggo mampir dulu." ucap mbah Bayan
"Matur nuwun, tapi sebaiknya kami memang harus lanjut saja karena sudah malam." ucap mbah Sastro
"Yowes, hati hati yo." ucap mbah Bayan yang di angguki oleh mereka
Mbah Bayan langsung masuk kedalam rumah nya, sementara ketiga manusia itu melanjutkan perjalanan mereka. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba tiba terdengar bunyi gemericing lebih tepatnya bunyi lonceng atau sejenis gelang kuda.
"Bunyi opo iku?" tanya Kemal was was
Tanpa menjawab dan seolah tahu, Pangeran Segoro segera menarik Kemal kebelakang tubuhnya. Kemal hanya menurut, dalam hati ia merasa ketar ketir jika harus menemui sosok yang menyeramkan lagi.
Cring cring cring
__ADS_1
Bunyi gemericing itu semakin terdengar mendekat, hingga tidak lama terlihat sebuah kereta kuda yang sangat indah yang juga terbuat dari emas. Siapapun yang melihat kereta kuda itu pasti akan terpukau, karena memang sungguh sangat indah.
Kali ini berbeda dengan perjumpaan mereka sebelumnya awal sebelum Juki dan Udin celaka, dulu mereka tidak melihat ada kusir yang mengkomando kudanya. Kali ini terlihat kusir memakai pakaian serba hitam yang terbuat dari besi, beserta penutup kepala yang dari besi juga.
Hingga kereta kuda itu berhenti sejenak disamping mereka, dapat mereka lihat dengan jelas sosok wanita cantik yang memakai kemben merah dengan rok senada. Namun selendang nya berwarna emas, serupa dengan perhiasan dan mahkota yang melekat ditubuhnya.
Ditengah mahkota itu terdapat tiga permata, namun yang paling mencolok adalah salah satu permata yang berada ditengah dengan cahaya emas kemerahan yang sangat berkilau terang.
Tidak lupa beberapa kuntum bunga mawar merah semerah darah menghiasai pinggiran rambutnya, serta ronce melati yang tergantung dengan sangat cantik.
Hanya seperti itu saja kemudian kereta kuda itu kembali berjalan, tidak ada basa basi yang menarik. Kini Pangeran Segoro kembali menarik Kemal didepannya, mbah Sastro tampak berfikir.
"Ada apa ini? Tidak biasanya dia berjalan jalan di desa seperti ini." ucap mbah Sastro yang tidak dijawab oleh siapapun
Kemal sendiri tidak tahu apa apa dan lagi pun pertanyaan mbah Sastro tidak ditujukan kepada Kemal, sementara Pangeran Segoro juga bingung karena ia tidak bisa menembus apa apa.
"Sudahlah mbah jangan dipikirkan, mungkin saja kebetulan. Tidak mungkin terjadi sesuatu di desa ini dalam waktu dekat kan mbah, sementara masih ada tiga orang lagi yang harus dia habisi." ucap Pangeran Segoro
Mbah Sastro mengangguk pelan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Namun lagi dan lagi, baru berjalan beberapa langkah sudah terdengar suara gemericing.
Ketiga manusia itu kebingungan, pasalnya suara itu muncul dari depan mereka tepat dari tempat kemunculan Nyi Danuwati. Sementara Nyi Danuwati sendiri sudah pergi menjauh ke ujung desa, yang pastinya dibelakang mereka bertiga.
"Siapa itu?" tanya Pangeran Segoro
Sementara mbah Sastro terdiam, tiba tiba detak jantung mbah Sastro bergejolak hebat. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, ah tidak. Mbah Sastro pernah merasakan hal itu namun sudah sangat lama, terakhir sewaktu bertemu dengan Nyi Danu.
Yah, baru saja mbah Sastro memikirkan itu sudah terlihat kereta kuda yang tak kalah cantik dari milik Nyi Danuwati. Tidak seperti Nyi Danuwati yang berhenti sejenak, kereta kuda milik Nyi Danu terus melaju.
Terlihat wanita cantik meskipun sudah berumur tua seperti mbah Sastro tapi masih tetap muda, sekilas pandangan Nyi Danu dan mbah Sastro bertemu. Tampak pandangan itu menyiratkan banyak makna, hingga Nyi Danu kembali menoleh kedepan.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Pangeran Segoro kebingungan
"Apakah akan terjadi sesuatu yang buruk?"
...****************...
__ADS_1