Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Duka Yang Mendalam


__ADS_3

Keesokan paginya, aku sama sekali tidak bisa terpejam semalaman karna harus menjaga eyang, bapak, dan ibu. Aku sangat kasihan melihat mereka seperti ini, aku sungguh tidak kuat melihatnya.


"Nduk, kamu mandi dulu geh setelah itu kita makan itu mbok Sri lagi masak." ucap bude Ratna seraya mengelus punggung ku dan tersenyum sendu


"Nggeh bu." ucapku seraya berdiri dan berlalu ke sumur


Saat hendak ke sumur aku berpapasan dengan Hayati, ia terlihat sudah sangat rapi.


"Kamu mau kemana Hayati?" tanyaku


"Ehh.. Kak Riana, ini Hayati mau kepasar." sahutnya


"Sendiri saja? Bagaimana kalau sama kakak saja ya tunggu sebentar." ucapku


"Hmm... Tidak usah kak, kakak juga harus jaga keluarga kakak kan. Tenang saja, Hayati bisa sendiri kok." ucapnya seraya tersenyum menyakinkanku


"Baiklah, kamu hati hati ya." ucapku


Ia hanya mengangguk dan tersenyum setelah itu ia berlalu, aku bisa melihat ia meminta izin pada bude Ratna. Aku pun lekas ke sumur di belakang rumah ini, setelah selesai mandi dan berpakaian aku lekas keluar.


"Sudah selesai nduk?" tanya mbok Sri


"Sudah mbok." sahutku


"Yasudah biar kita makan dulu saja." ucap mbok Sri


"Biar Riana bantu mbok" ucapku


Tapi tiba tiba kami mendengar teriakan dari depan, lekas kami berlari. Disana sudah terlihat mas Damar dan bude Ratna yang terlihat panik, lekas aku menghampiri.


"Ada apa ini bude?" tanyaku


"Bude tidak tau nduk, tiba tiba ibu kamu merintih kesakitan dan berteriak disusul oleh bapak dan eyang kamu." sahut bude khawatir


Tak terasa mataku sudah berkaca kaca, detik kemudian aku menangis.


"Ibu, bapak, sama eyang tolong jangan tinggalin Riana. Riana takut, Riana mohon." ucapku disela isakan


"Nduk, ka...kamu tidak sendiri. Aa..da mbok Sri sama Ratna yang sayang sama kamu toh." ucap eyang terbata karna kesakitan


Disisa tenaga bapak, bapak menggerakkan tangan nya seolah memanggil mas Damar dan aku. Kami pun mendekat, bapak memegang tanganku dan tangan mas Damar kemudian menyatukan tangan kami.


"Daa..mar saya ingin meminta sama kamu." ucap bapak


"Boleh pak lurah, pak lurah minta apa toh kalau saya bisa saya akan lakukan." ucap mas Damar


"Saya sudah merestui kamu dan Riana, tolong jaga dia untuk saya bisa?" tanya bapak


"Bisa pak lurah, kita akan menjaga Riana bukan saya saja." ucap mas Damar menggenggam tangan bapak

__ADS_1


Bapak menggeleng pelan, kemudian menolak ku.


"Nduk, maafkan kami selama ini tidak bisa membuat kamu bahagia justru malah membuat kamu terluka dan mendapat masalah seperti ini." ucap bapak


Aku menggeleng.


"Tidak pak, bapak tidak salah semuanya tidak salah ini sudah takdir tolong jangan seperti ini pak Riana takut hiks hiks." ucapku menangis sesenggukan


Bapak tersenyum, kemudian merintih memegang perut nya. Kondisi mereka sangat mengerikan, dengan kulit yang penuh nanah dan belatung. Wajah, dan tubuh hampir tak berbentuk lagi.


"Arghhh tolong sakit." rintih ibu berteriak kesakitan


Aku menghampiri ibu yang berada di sebelah bapak, kemudian memeluk nya.


"Ibu... Apa yang harus aku lakukan bu tolong beritahu Riana." ucapku


"Tidak ada nduk, kamu tenang saja yo." ucap ibuku tersenyum


Aku menggeleng, bagaimana bisa mereka masih berpura pura kuat. Eyang menoleh ku, dan memanggil aku kemudian mendekat.


"Nduk, kamu harus tetap hidup... Arghh, kamu harus cari mereka ka...karna kalu tidak, me..mereka akan membuat hidup ka...kamu menderita nduk argghh sakit." ucap eyang seraya merintih


Aku mengangguk.


"Nduk, kamu harus mempergunakan keris itu dengan baik, keris ii...tu akan membantu ka...kamu." ucap eyang dengan nafas terengah-engah


"Sri tolong jaga cucuku, tetap lah bersamanya dimana pun dia berada." ucap eyang


Mbok Sri yang sedari tadi menangis sesenggukan di samping eyang lekas mengangguk


"Iyooo iyo mbah, saya akan jaga Riana." ucap mbok Sri


Detik kemudian mereka semua serempak berteriak


"Huh sakit." ucap ibuku


Detik kemudian, mereka menghembuskan nafas terakhir nya. Aku berteriak kencang, aku meraung menangis sejadi jadinya. Aku bersumpah, aku Riana Kusumani Pramona bersumpah akan mencari para bed*bah itu dan membalaskan dendam ku.


...****************...


Setelah melakukan penguburan, aku berniat berjalan jalan keluar menikmati malam yang sepi. Malam yang seolah tau kedukaan ku.


"Kamu mau kemana nduk?" tanya bude Ratna kala aku membuka pintu


"Nyari angin bude." ucapku singkat dengan mata yang menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong


"Biar Damar temani yo." ucapnya


Aku tak menjawab aku lekas keluar, dengan pandangan lurus kedepan dengan tatapan kosong tanpa berkedip sekalipun. Tapi aku melihat, Damar mengikuti ku.

__ADS_1


Selama perjalanan, hanya hening tidak ada yang bersuara. Hingga tiba tiba aku berhenti kala mengingat sesuatu.


"Kenapa berhenti?" tanya mas Damar yang juga ikut berhenti


"Hayati kok tidak pulang pulang ya mas, ini sudah malam." ucapku khawatir


"Eumm... Entahlah mungkin saja bersama teman temannya." ucap mas Damar


Namun aku tau, sekuat apa pun ia menutupi aku bisa melihat sorot matanya yang khawatir. Bude Ratna juga tadi sangat khawatir, aku juga sama.


"Atau kita pulang saja ya mas, siapa tau Hayati sudah pulang. Jika belum, kita masih bisa mencarinya." ucapku


"Baiklah." sahut mas Damar mengangguk


Disaat hendak berbalik badan, aku tidak sengaja melihat sebuah kain yang persis di pakai oleh Hayati. Aku kemudian memperjelas penglihatan ku.


"Kenapa?" tanya mas Damar


Aku hanya menunjuk kearah sana kemudian berjalan, mas Damar mengikuti ku setelah sampai alangkah terkejutnya kami melihat sosok yang tergelatak disana.


"Mas i..itu manusia." ucapku terbata


Kami pun lebih mendekat, kemudian mas Damar membalikkan sosok itu hingga terlentang. Betapa terkejutnya kami, kala melihat itu adalah Hayati.


Kondisi Hayati sangat mengenaskan, dengan tubuh bersimbah darah. Karena, ada tusukan yang dalam di perut nya. Aku menangis melihat Hayati seperti ini, kala mas Damar mendekatkan tangan nya kehidung Hayati untuk merasakan nafasnya.


Namun mas Damar justru menangis meraung, aku paham Hayati sudah tidak ada.


"Hiks hiks siapa yang melakukan ini dek." ucap mas Damar seraya memeluk Hayati


Aku pun ikut menangis di samping mas Damar, dan mengusap punggung nya.


"Sampai aku tau siapa yang melakukan ini, aku akan membuat hidup nya menderita." ucap mas Damar dengan rahang yang mengeras


...****************...


Kami membawa Hayati kerumah, sesampainya di depan mbok Sri dan bude Ratna terkejut melihat kami. Apalagi, ketika mereka mengalihkan perhatian mereka ke sosok yang dipangkuan Damar, seketika mereka membelalakkan mata kala melihat Hayati sudah terbujur kaku dengan luka yang menganga diperut.


"Ya Allah Gusti, kenapa ini le?" tanya bude Ratna seraya menangis


"Damar tidak tau bu, sampai Damar menemukan pelakunya akan Damar buat hidupnya menderita." ucap mas Damar dengan penekanan


"Ya Allah anakku Hayati, hiks hiks hiks kenapa kamu tinggalin ibu seperti ini nduk." ucap bude Ratna meraung


"Seng sabar ya mbak yu." ucap Mbok Sri lirih dan memeluk bude Ratna


Rasanya aku tidak bisa mengeluarkan air mata lagi, sudah terlalu banyak kejutan untuk kami hari ini. Aku hanya bisa melihat dengan tatapan kosong, seraya merasakan sesak didada.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2