
Sementara dikota, lebih tepatnya dikediaman keluarga Purwo. Terlihat seorang wanita paruh baya beserta beberapa abdi nya yang tengah menjaga Purwo, mereka tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Segala cara telah mereka lakukan untuk penyembuhan Purwo, melalui membawa Purwo ke berbagai rumah sakit, serta mendatangkan beberapa dukun yang katanya sakti.
Namun tidak ada yang bisa menyembuhkan Purwo, kini keadaannya sudah sangat memburuk. Wajahnya bahkan hampir tidak berbentuk lagi, tulang kerangka wajahnya sudah terlihat.
Bau busuk sangat menguar didalam ruangan itu, namun mereka semua menahannya. Terlebih, dari wajah Purwo kini belatung dan beberapa hewan menjijikkan bertambah banyak keluar dari wajahnya sendiri.
Berkali kali Purwo terus merintih kesakitan, Nining ibunya Purwo bahkan tidak kuasa menahan tangis. Ia tidak rela jika harus kehilangan Purwo juga, ia sudah kehilangan suaminya dan anak sulungnya. Kini ia tidak mempunyai siapa lagi, kecuali Purwo.
"Sa...kit arghh sakit." ucap Purwo merintih kesakitan
"Kamu yang kuat ya nak, ibu akan mengusahakan untuk menyembuhkan kamu hiks hiks." sahut ibunya yang sudah berderai air mata
Purwo tampak menggeleng lemah.
"Rii...ana." ucap Purwo terbata
"Kenapa nak, ada apa dengan Riana? Kamu mau bertemu dengan dia?" tanya ibunya beruntun
Purwo mengangguk pelan.
"Mbok suruh beberapa pengawal mencari Riana." ucap Nining ibunya Purwo kepada salah satu abdinya yaitu mbok Asih yang dulu bekerja dengan Purwo di desa.
Mbok Asih sengaja meminta ikut, bahkan ia rela jika tidak digaji. Semua itu dilakukan untuk menebus semua kebaikan juragan Karno dulu, beberapa pengawal nya juga meminta ikut seperti Harjo dan beberapa anak buahnya.
Jadi tentu saja mereka tahu siapa Riana, tidak seperti abdi nya yang berada dikota. Pembantu serta pengawal nya yang berada dikota ini tidak tahu siapa Riana, lekas mbok Asih keluar dan menyampaikan pesan majikan nya kepada Harjo.
Abdi / Pembantu
"Joo Harjo." ucap mbok Asih memanggil dengan sedikit berteriak kala melihat Harjo dan beberapa anak buahnya dihalaman
Harjo yang sedang berbincang hal yang tidak penting dengan anak buahnya pun lekas menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya, kala melihat mbok Asih yang berjalan tergopoh gopoh segera Harjo menghampiri nya.
__ADS_1
"Ada apa toh mbok?" tanya Harjo kala sudah berhadapan dengan mbok Asih
"Iku, ada tugas dari nyonya." sahut mbok Asih
"Tugas opo?" tanya Harjo mengernyitkan alis bingung
"Sampean dan beberapa anak buah sampean cari non Riana, tau toh? Riana mantan istri den Purwo." ucap mbok Asih
"Iya tahu mbok, tapi yo cari dimana." ucap Harjo resah
"Yo mana saya tahu toh, yo wes sana cari saja ke beberapa desa." ucap mbok Asih
Harjo pun mengangguk.
"Baiklah mbok, katakan pada nyonya kami segera mencari sekarang." ucap Harjo
Tanpa menunggu jawaban mbok Asih, Harjo segera berlari menghampiri beberapa anak buahnya serta beberapa pengawal yang sudah tinggal dikota dari dulu.
Dikamar Purwo, pria itu terus merintih kesakitan seraya menyebut nama Riana.
"Rii..ana." gumamnya
"Maaf." ucap nya lagi
Ibunya Purwo yang tidak tahu apa maksud Purwo hanya bisa menenangkan putra bungsunya.
"Kamu yang tenang yo le, mereka sudah mencari Riana." ucap Ibunya Purwo seraya menggenggam tangan putra nya
Sementara di desa, tepatnya dikediaman Riana. Riana yang sedang duduk santai diruang tamu pun merasakan debaran kencang di dadanya, sontak ia menekan dadanya.
"Ada apa ini, aku merasakan ada seseorang yang terus menyebut nama ku. Dan juga, aku merasa bahwa ada orang yang mencari ku." gumam Riana pelan
Lekas wanita cantik itu masuk kedalam kamarnya, segera ia menutup pintu dan duduk bersila dibawah kasurnya. Kemudian ia memejamkan mata, mulutnya terlihat komat kamit membaca mantra.
__ADS_1
Tidak lama ia sudah melihat Purwo yang terbaring lemah dikasur dengan kondisi yang mengerikan dan menjijikkan, Riana dapat melihat bahwa Purwo terus saja menyebut namanya seraya mengucap maaf.
Lekas Riana membuka matanya kembali, tidak ada raut kesedihan disana. Hanya raut datar, dingin, dan tanpa ekspresi sama sekali.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Riana melihat ia hanya menunjukkan wajah datar nya.
"Kamu sendiri yang membuat kamu menderita Purwo." gumam Riana
"Aku tidak masalah jika dulu kau terus menyiksaku selama aku berada dirumah mu, mungkin aku akan membantu mu. Tapi ini, kau sendiri yang melakukan nya." gumam Riana lagi
"Kita memang tidak ada masalah serius, hanya satu masalah saja kau menuduh ku membunuh mas Prastyo padahal kau sendiri yang membunuh nya. Akibat tuduhan mu itu, aku menderita Purwo. Aku menderita kehilangan semua keluarga ku akibat tuduhan mu itu, juragan Karno membunuh semua keluarga ku beserta salah satu temannya karena tuduhan mu itu." ucap Riana penuh penekanan
Bahkan wanita cantik itu kini tengah meremas kuat pakaian yang ia pakai demi mengurangi rasa sesak yang tiba tiba muncul.
Matanya terlihat bergerak kesana kemari untuk menahan air matanya.
"Aku bisa memaafkan mu mengenai tuduhan sampah yang tidak benar itu, aku juga bisa memaafkan mu atas penyiksaan yang kau lakukan padaku. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa apa mengenai penyakit yang kau derita karena kau sendiri yang membuat." ucap Riana lagi
Segera Riana bangkit dari duduknya dilantai yang terbuat dari papan, dan ia merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan pandangan menerawang.
Seketika ia menekan dadanya kuat kuat kala ingatan keluarga nya yang merintih kesakitan kembali muncul.
"Arghhhh." Riana berteriak menggelegar
Bahkan teriakan nya mengagetkan mbok Sri dan ibunya Damar yang sedang memotong bahan pangan untuk dimasak didapur.
"Juragan Karno sudah tiada, kini musuhku hanya kau pria berjubah hitam dan Ki Ageng." ucap Riana dengan seringai seram
"Aku akan membalas setiap rintihan kesakitan keluarga ku." ucapnya seraya tersenyum sinis
"Kalian akan mati." gumamnya lagi mengepalkan erat tangannya
...****************...
__ADS_1