
Hosh hosh hosh
Yayan dan Mamat bangun seketika dari mimpi yang entah dikatakan indah atau buruk, peluh sebesar biji jagung memenuhi wajah mereka. Wajar saja, mereka tidur disiang hari yang lumayan panas teriknya matahari.
"Kowe padha karo aku?" tanya Mamat yang heran melihat temannya bernasib sama dengannya
(Kamu juga sama denganku?)
"Iyo kamu juga toh? Mimpi kita sama?" sahut Yayan dengan diselingi pertanyaan
Mamat hanya mengangguk anggukan kepala nya pelan.
"Apa tegese kabeh iki?" tanya Yayan lagi
(Apa artinya semua ini?)
"Mungkin saja ini adalah petunjuk untuk kita menjadi kaya." sahut Mamat sekenanya
"Iyo, tapi yo kenapa harus di desa itu."
Namun Mamat hanya mengedikkan kedua bahu, Yayan pun kembali menoleh menatap Mamat dengan lekat.
"Opo? Jangan bilang kita akan kesana." ucap Mamat kala menyadari tatapan temannya itu
"Ck, memangnya sampeyan tidak mau kaya?" tanya Yayan setelah berdecak kesal
"Yo mau."
"Nah yowes ayo."
"Sekarang?"
"Iyo terus kapan lagi?"
Dengan sangat malas Mamat pun bangkit dari duduknya dan mengikuti Yayan menuju kamar masing masing untuk menyiapkan barang bawaan mereka, tidak banyak mengingat mereka datang ke kota juga hanya membawa sedikit pakaian. Sementara barang perabotan milik pemilik kontrakan, itupun hanya sedikit sehingga rumah tampak lenggang.
Setelah hampir satu jam lamanya mereka berkutat akhirnya selesai juga, lekas mereka keluar dari kontrakan.
"Apa kita tidak katakan saja pada pemilik kontrakan ini?" tanya Mamat
__ADS_1
"Ora perlu, toh kita hanya sebentar. Setelah kita mendapatkan banyak uang kita akan kembali lagi kesini, memangnya kamu mau tinggal disana? Kalau aku sih emoh." sahut Yayan
Mamat pun setuju, toh hanya sebentar begitu pikirnya. Tanpa mereka tahu bahwa Nyi Danuwati tidak akan membiarkan mereka lepas secepat itu, kalaupun iya sudah pasti dalam keadaan tidak bernyawa.
Akhirnya mereka pun pergi menuju angkutan umum dengan tujuan ke terminal, sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara. Semua sibuk dengan pikiran masing masing, hingga akhirnya Yayan tersadar dan berbisik ke telinga Mamat.
"Bagaimana dengan persyaratannya? Darimana kita mendapatkan kepala sapi?" tanya Yayan dengan lirih
Sontak Mamat mengerutkan keningnya.
"Kepala sapi? Bukankah persyaratannya berupa sasajen?" tanya Mamat dengan suara pelan karena mereka sedang berbisik
Mendengar itu, sontak Yayan memukul dengan kuat kepala Mamat menggunakan kepalan tangan Yayan.
"Aduh." ucap Mamat meringis menahan sakit
"Dasar anak bodoh, sudah nanti kita bahas saja." ucap Yayan kesal
Mamat pun kembali mendekat kearah telinga Yayan dan berbisik.
"Yowes, tapi kalau memang pakai kepala sapi kita tinggal curi ternak warga gampang toh." sahut Mamat
...----------------...
Sudah malam hingga akhirnya Yayan dan Mamat sampai diluar desa, mereka harus melewati hutan untuk masuk kedalam desa Ketang. Dan untuk memasuki itupun membutuhkan alat transportasi berupa sepeda onthel, atau kuda, dan juga kuda delman.
Beruntung masih ada satu warga yang hendak pulang dengan menggunakan kuda delman nya, Yayan pun memberhentikan delman itu. Setelah berbincang sejenak, Yayan dan Mamat pun naik keatas delman dan kuda delman itupun segera melaju menembus jalanan yang lenggang.
Sepanjang jalan Yayan dan Mamat bergidik ngeri melihat sisi kiri kanan yang hanya dipenuhi oleh pepohonan, entah kenapa mereka merasa seolah banyak pasang mata yang mengawasi mereka dibalik pepohonan itu. Namun setiap kali menoleh, hanya ada kegelapan yang terhampar.
Hingga akhirnya mereka sampai digapura desa Ketang, mereka memang meminta untuk diturunkan didepan gapura saja mengingat mereka berbeda jalur arah dengan pemilik kuda itu.
"Terus kita tidur dimana malam ini?" tanya Mamat
"Ya dirumah sampeyan toh, mosok dirumah ku nanti kalau emak bapakku curiga pie?" sahut Yayan balik bertanya
Mamat hanya memutar bola matanya malas, mereka pun kini berjalan menyusuri jalanan desa Ketang yang sangat sepi.
"Iki kok sepi yo? Lebih mirip desa mati, apa kita salah desa?" tanya Mamat
__ADS_1
"Ora mungkin salah desa."
"Lah terus, biasanya juga ada yang ngeronda."
"Wes lah tidak usah dipikirin." ucap Yayan seraya mempercepat langkah kakinya
"Apa sampeyan tidak memiliki rencana malam ini?" tanya Mamat seraya menyeringai
"Opo?" tanya Yayan dengan menaikkan sebelah alis
"Mumpung desa lagi sepi, bagaimana jika kita mencuri ternak warga malam ini. Agar tujuan kita cepat selesai dan langsung pulang ke kota, aku yo ndak mau berlama lama disini." ucap Mamat
Yayan tampak berfikir sejenak, kemudian ia pun setuju dan menganggukkan kepala.
"Yowes, tapi kita mulai beraksi nanti tengah malam saja." sahut Yayan
Mamat pun setuju dan mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Mamat yang terletak tidak jauh dari ujung desa.
Cklek cklekk
Kriett
Pintu rumah Mamat pun dibuka lebar, menampakkan isi rumah yang masih rapi namun sangat berdebu. Bahkan debunya cukup tebal, bagaimana tidak? Rumah itu sudah ditinggal hampir setahun lamanya.
Merasa sangat lelah, mereka pun memutuskan untuk langsung merebahkan tubuh diatas kasur tanpa perduli seberapa kotornya. Bahkan, mereka sampai terbatuk batuk karena debu masuk kedalam rongga hidung mereka.
Uhuk uhuk
"Reged banget." gumam Mamat seraya terbatuk batuk
(Kotor sekali)
Merasa tidak nyaman, Mamat pun memutuskan untuk membersihkan kamar miliknya meskipun tubuh sangat lelah dan minta untuk dibaringkan.
Lagipula Mamat juga takut jika tertidur karena merebahkan tubuh, padahal tengah malam tinggal sebentar lagi. Maka jadilah Mamat melakukan bersih bersih dimalam hari, meskipun tidak seluruhnya hanya membersihkan kamar miliknya saja. Karena Mamat berfikir ia tidak akan lama disini, jadi tidak perlu membersihkan rumah.
""Biarlah Yayan membersihkan kamarnya sendiri." gumam Mamat
Rumah Mamat memang memiliki dua kamar, satu kamar untuk mendiang kakek dan neneknya dulu. Sementara satu kamar lagi milik Mamat, yaitu kamar yang ditempati Mamat sekarang.
__ADS_1
...****************...