
Tidak terasa malam sudah berlalu dan kini digantikan oleh pagi, matahari pagi sudah lama naik dan menembus pepohonan memaksa masuk dari celah lubang ventilasi rumah warga. Begitu juga dengan pangeran Segoro, ia tampak mengerjap gerjap kan mata untuk menyesuaikan cahaya.
"Mbah." gumam pangeran Segoro kala melihat mbah Sastro didepan nya
"Njih le." sahut mbah Sastro
"Terimakasih sudah menolong ku mbah."
"Iyo, mbah cuma heran saja tidak biasanya kamu telat bangun. Mbah ketuk pintu juga tidak ada sahutan, untung tidak kamu kunci le. Pas mbah buka, mbah liat kamu duduk bersila."
"Maafkan saya mbah." ucap pangeran Segoro menunduk
"Wes tidak apa, untung mbah tepat waktu nolong kamu." sahut mbah Sastro menepuk pundak pangeran Segoro
"Wa...wanita itu mbah." ucap pangeran Segoro terbata dengan suara bergetar
Mbah Sastro hanya mengangguk pelan menanggapi.
"Ingat apa yang mbah katakan, jangan lemah." ucap mbah Sastro menatap lekat lekat netra pangeran Segoro
"Semua demi warga le, tidak masalah jika wanita itu menghabisi orang yang sudah membuatnya hancur. Namun ini? Kamu lihat sendiri toh semalam banyak anak kecil yang meninggal, mereka tidak bersalah le sebab itu jangan lemah." ucap mbah Sastro lagi
Pangeran Segoro tampak mengingat kembali kejadian semalam, dimana banyak sekali anak kecil menangis histeris karena kehilangan orang tuanya. Ada juga anak kecil yang menangis karena menjadi korban teluh, tampak beberapa anak kecil itu terbatuk batuk dan tidak lama disusul dengan muntah darah yang mengeluarkan beberapa paku kecil.
Mengingat hal itu hati pangeran Segoro teriris, belum lagi anak kecil itu meninggal tepat didepan pangeran Segoro. Hingga mbah Sastro dapat melihat tubuh pangeran Segoro yang berguncang, dan tangan yang mengepal erat.
__ADS_1
"Aku akan melindungi desa dan warga mbah meskipun aku harus mati, wanita itu ingin menjadikan desa ini tergenang darah kan? Maka aku rela jika darahku yang membanjiri asal jangan warga." ucap Pangeran Segoro bertekad
Mbah Sastro tidak mengatakan apapun, ia hanya menepuk punggung pangeran Segoro sekilas dan pergi beranjak ke dapur.
Tidak lama disusul dengan pangeran Segoro, namun baru keluar kamar terdengar pintu utama diketuk seseorang.
Tok tok tok
Tok tok tok
Mendengar ketukan pintu yang keras dan terus berulang ulang membuat pangeran Segoro terburu buru berjalan kearah pintu, ia segera menggeser batu besar dan membuka engsel pintu.
Kriettt
Pintu terbuka lebar menampakkan wajah Kemal yang tampak ngos ngosan, padahal hari masih pagi dan dihiasi dengan spoi angin tapi Kemal malah bermandikan keringat.
Hingga mbah Sastro muncul dan berdiri dibelakang pangeran Segoro.
"Ada apa le?" tanya mbah Sastro mengulangi pertanyaan Kemal
"Iku iku, anu eh para warga tiba tiba terkena penyakit aneh. Tapi bukan seperti semalam, ini beda lagi." ucap Kemal
"Aneh seperti apa?" tanya mbah Sastro
"Itu mbah, tiba tiba seluruh tubuhnya dipenuhi bentolan kecil seperti bisul kemudian pecah hingga mengeluarkan nanah dan aroma bau." ucap Kemal
__ADS_1
"Tunggu, kamu tahu darimana." ucap pangeran Segoro
Tiba tiba wajah Kemal berubah sendu.
"Ibuku juga mengalami hal sama Mar, pas aku keluar rumah ingin memanggil pak mantri para warga juga ternyata mengalami hal yang sama." sahut Kemal sedih
Tanpa berkata apapun lagi, mbah Sastro dan pangeran Segoro langsung berlalu kerumah Kemal. Pintu pun dibuka lebar, dan mereka langsung menuju kamar ibunya Kemal.
"Bude Yeti." ucap pangeran Segoro
"Arghh." Yeti ibunya Kemal tidak mampu berkata kata wanita parut baya itu hanya bisa mengeram
Tanpa menunggu lama, pangeran Segoro langsung duduk bersila. Mbah Sastro segera mengajak Kemal keluar dari kamar, ia percaya bahwa pangeran Segoro mampu mengatasi nya.
Pangeran Segoro langsung memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangan di dada, ia merapalkan mantra namun tidak bersuara. Hingga hampir satu jam lamanya, tubuh ibunya Kemal menggelinjang hebat. Namun bentolan kecil itu sudah mengempis, nanah juga sudah berhenti keluar.
Hanya menyisakan bekas nya saja, wanita paruh baya itu tampak tidak sadarkan diri.
Kriett
Pintu kamar terbuka pelan, membuat atensi kedua manusia yang duduk diruang tamu menoleh.
"Bagaimana Mar?" tanya Kemal khawatir
"Semua sudah aman, sekarang bude Yeti masih istirahat. Kamu jaga bude saja, aku dan mbah Sastro akan segera menolong warga yang lain."
__ADS_1
"Njih, matur suwun."
...****************...