Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kebengisan Nyi Danuwati


__ADS_3

"Lancang sekali kau memasuki area istanaku dasar kakek tua." ucap seseorang dari belakang dengan suara lemah mendayu tapi mengerikan


Jika ada manusia yang mendengar suara itu, entah ekspresi apa yang akan mereka tunjukkan. Ekspresi terkagum dengan suaranya yang sangat mendayu, atau ketakutan karena masih ada kesan horor yang terselip dari suara yang lembut itu.


Sontak mbah Bayan langsung berbalik badan dan menoleh kepada seorang wanita cantik, tampak Nyi Danu dengan berpakaian ratu keraton.


"Jadi kekacauan yang terjadi di desa Ketang karena ulah Nyi sendiri." ucap mbah Bayan


"Hahahaha." Nyi Danu sontak tertawa menggelegar


"Jangan campuri urusanku kakek tua, pergilah dari sini sekarang juga. Atau, kau tidak akan bisa keluar lagi." ucap Nyi Danu dengan suara mengerikan


"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengembalikan janin yang kau curi Nyi." sahut mbah Bayan


"Aku tidak akan mengembalikan apapun karena aku tidak mencuri apapun."


"Tidak usah berbohong Nyi aku tahu persis siapa dirimu, dulu saja kau menipu mbah Sastro suamimu sendiri agar kau bisa menang melawan pertarungan. Jadi, mungkin saja sekarang kau menipuku."


"Kurang ajar, berhenti mencampuri urusanku Bayan. Dan jangan pernah kau sebut nama itu di depan ku. Lebih baik kau pergi sekarang, atau anakku akan menyerang mu."


Mendengar hal itu, seketika mbah Bayan mengernyitkan alis bingung. Pasalnya, ia tahu jika mbah Sastro dan Nyi Danu tidak memiliki anak.


"Sekali lagi aku peringatkan, pergilah Bayan. Kau tidak akan mendapat apapun selain kematian disini, aku menyuruhmu pergi karena aku masih menghargai mu sebagai orang kepercayaan Sastro dulu. Jika bukan, aku sudah membunuh mu...


Dan, semua kekacauan yang terjadi didesa bukan ulahku. Tapi anakku, sebab itu aku peringatkan untuk pergi. Karena jika. anakku sudah menyerang mu, akupun tidak bisa membantu." ucap Nyi Danu lagi kala melihat mbah Sastro masih diam tak bergeming


Seketika mbah Bayan merasa ragu, ia bingung harus tetap bertahan atau pergi. Karena setahu mbah Bayan, mereka tidak memiliki anak. Namun, pancaran mata Nyi Danu tampak tidak ada kebohongan.


Dengan perasaan bimbang, mbah Bayan mencoba untuk pergi saja. Karena tiba tiba ia merasakan aura negatif sangat kuat, namun baru selangkah ia berjalan.


Bughhh


Ia terpental akibat tendangan seseorang, hingga cairan kental berwarna merah keluar dari mulutnya. Namun mbah Bayan masih ingin melihat siapa yang menyerang nya, disaat ia menoleh kebelakang seketika ia terbelalak.


Mbah Bayan melihat seorang wanita yang sangat cantik, dengan memakai kemben berwarna merah dan jarik yang senada serta selendang berwarna emas. Mahkota emas dengan dihiasi permata yang memancarkan cahaya berkilauan melekat di kepala nya, serta dikelilingi bunga mawar merah darah serta ronce melati yang menghiasi kiri kanan rambutnya.

__ADS_1


"Cah ayu nduk, Rii...riana." ucap mbah Bayan terbata


"Aku adalah Ratu Nyi Danuwati." ucap Nyi Danuwati


Seketika mbah Bayan lagi lagi dibuat bingung ia merasa jika wanita yang menyerang nya adalah Riana, tapi disisi lain juga bukan. Riana yang ia kenal adalah gadis yang ceria, ramah, semua sifat kebaikan melekat pada dirinya. Namun Riana yang ada dihadapan nya sekarang adalah wanita yang kejam, bengis.


"Berani kau memasuki area istana ini." ucap Nyi Danuwati


Wajahnya memang masih wajah Riana, hanya saja raut wajahnya sudah berubah menjadi dingin tanpa ekspresi. Bahkan aura jahat nya sangat kuat, tatapan matanya tersirat akan tatapan membunuh.


"Siapa pun yang memasuki istana ini akan mati." ucap Nyi Danuwati lagi penuh dengan kebengisan


"Me..mengapa kamu jadi berubah nduk?" tanya mbah Bayan


Ia memang tidak mengetahui semua ini, yang ia tahu bahwa jika mbah Sastro sudah menampakkan diri dan itu artinya sudah waktunya.


"Kalian yang membuatku berubah kakek tua, semua warga yang tidak tahu diri yang membuatku berubah." sahut Nyi Danuwati seraya menyeringai seram


Saking seramnya, semua yang melihat akan bergidik ngeri.


"Apa maksud kamu nduk?" tanya mbah Bayan


Bughhh


Satu tendangan yang bersarang tepat didada membuat mbah Bayan tersungkur kebelakang, darah yang tadi keluar lewat mulut sekarang bertambah di hidung.


Ciihh


"Ilmu mu masih se ujung kuku tapi kau berani datang kesini, atau kau memang sudah bosan hidup hah." ucap Nyi Danuwati sinis


"Sudah nak, biarkan saja dia." ucap Nyi Danu


"Tidak ibu, manusia seperti ini harus diberi pelajaran. Dulu sewaktu aku berada di alam manusia mereka mengusik ketenangan ku, sekarang dialam goib pun mereka mengusik ku." sahut Nyi Danuwati


Tanpa perasaan iba, Nyi Danuwati menyeret tangan mbah Bayan memasuki istana. Mbah Bayan yang memang sudah tidak bertenaga pun hanya pasrah, karena ia memang tidak memiliki ilmu apapun selain merogoh sukmo.

__ADS_1


Brakk


Sebuah ruangan berjeruji dibuka, kemudian Nyi Danuwati melempar tubuh mbah Bayan kedalam ruangan itu.


Brakk


Kreek krekk


Pintu yang mirip dengan gerbang pagar besi pun ditutup kencang, kemudian dikunci. Setelah itu Nyi Danuwati pergi dari sel meninggalkan mbah Bayan sendiri, ia melangkah menuju singgasana nya.


...****************...


Sementara di alam manusia, tampak tubuh mbah Bayan mengejang hingga membuat suara kerusuhan. Karena memang rumah disana rata rata rumah panggung atau gubuk membuat suara apapun terdengar jelas, seketika warga yang masih menunggu diluar berlari kekamar yang ditempati oleh mbah Bayan dan Minah.


Tok tok tok


"Mbah buka pintunya." ucap mang Kurdi karena tidak bisa dibuka sebab memang dikunci mbah Bayan


"Kita dobrak saja." usul suami Minah


Setelah menyetujui, mereka pun serempak mendobrak pintu kamar.


Brakk


Sekali dobrakan saja membuat pintu kamar terhempas, karena memang pintunya tidak seberapa kuat. Setelah pintu terbuka lebar, mereka melihat Minah yang duduk di ranjang ketakutan hingga menggigil seraya menunjuk kearah mbah Bayan.


Sontak mereka mengalihkan pandangan kearah yang ditunjuk Minah, seketika mereka terkejut melihat tubuh mbah Bayan mengejang hebat. Mulut dan hidung mengeluarkan darah yang banyak, serta seluruh tubuhnya pun menjadi pucat dan kebiruan.


"Mbah apa yang terjadi mbah." ucap mang Kurdi seraya berlari menghampiri tubuh mbah Bayan


Namun percuma tidak ada yang bisa menjawab, karena jiwa mbah Bayan masih berada di alam lain.


"Bawa saja mbah Bayan kekamar sebelah kang, kamar itu kosong kok tidak ada yang menempati." ucap suami dari Minah kepada mang Kurdi


Mereka pun membantu mengangkat tubuh mbah Bayan dan membawa nya kekamar sebelah, mereka pun menidurkan mbah Bayan diatas kasur yang terbuat dari papan.

__ADS_1


"Duh pie iki." gumam mang Kurdi frustasi


Kembali ditatap nya tubuh mbah Bayan yang semakin membiru, mang Kurdi cemas melihat kondisi mbah Bayan dan tidak tahu juga harus melakukan apa.


__ADS_2