Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kembali Ke Desa


__ADS_3

Sementara dikota, tepatnya dikediaman Purwo dan ibunya beserta seluruh pembantu dan pengawal. Mereka dikejutkan dengan keinginan Purwo yang berniat kembali kedesa untuk mencari Riana, tentu saja Nining tidak menyetujui.


"Aku ingin kembali kedesa bu." ucap Purwo


"Tapi nak, disana kamu akan tinggal dimana? Rumah beserta perkebunan kita sudah dijual semua." sahut Nining


Purwo tampak berfikir keras, ia menyadari bahwa kondisi keuangan mereka tidak seperti dulu lagi.


'Benar kata ibu, aku akan tinggal dimana nanti. Bisa saja aku akan tinggal dirumah Riana, tapi bukankah kata Harjo bahwa Riana tidak tinggal di pemukiman warga. Lalu, kemana aku harus mencari.' batin Purwo


Melihat Purwo putra satu satunya yang tersisa kini masih terdiam, ibunya langsung buka suara.


"Lagi pun nak, bagaimana jika warga disana takut melihat kamu." ucap Nining


Tentu saja Nining berkata seperti itu, mengingat dikota ini saja setiap kali Purwo berniat untuk mencari udara segar di teras, para warga yang tidak sengaja melihat Purwo akan berlari.


Mereka akan berlari sekencang mungkin dan berteriak hantu, pasalnya wajah Purwo memang sudah mengering. Tapi tetap saja, tulang kerangka wajahnya sudah terlihat dan mirip seperti zombie.


"Aku bisa memakai caping dan penutup wajah bu."


"Baik, lalu dimana kamu akan tinggal. Terlebih, kamu tidak mau beberapa pengawal ikut bersamamu."


"Mungkin aku akan menyewa rumah warga yang tidak berpenghuni."


Tampak Nining menahan dan menghembuskan nafas, ia menggeleng kan kepala. Nining tahu betul anaknya itu, jika Purwo sudah menginginkan sesuatu maka harus dipenuhi. Purwo juga keras kepala, jadi percuma saja mendebatnya karena tidak akan menang.


"Baiklah, kamu harus berhati hati." ucap Nining pasrah


Seketika Purwo tersenyum lebar, kemudian lekas ia masuk kembali kedalam kamarnya untuk berkemas. Nining menyuruh mbok Asih untuk membantu Purwo menyiapkan keperluan nya, mbok Asih pun menurut dan mempersiapkan pakaian yang akan dibawa Purwo selama tinggal disana.


Setelah kurang lebih sejam, Purwo pun sudah siap dengan tas besar yang berada disamping nya. Setelah berpamitan, Purwo pun segera pergi meninggalkan kota ini.

__ADS_1


...****************...


Sementara di desa, masih di waktu yang sama. Terlihat Damar baru sampai digapura desa Ketang, ia semalam memang memilih untuk tidur di desa Sumbul dirumah Riana.


Disaat melewati rumahnya, terlihat Kemal sudah berdiri tegak menunggu Damar sejak tadi. Damar pun memberhentikan sepeda nya tepat disamping Kemal, sementara Kemal melotot tajam kearah Damar.


"Kamu kenapa?" tanya Damar menatap aneh kepada temannya itu


Sontak pertanyaan Damar membuat Kemal mendelik sinis.


"Lah kamu yang kenapa, semalam aku panggil panggil kamu tidak menyahut padahal rumah kamu kan ini." ucap Kemal seraya menunjuk kebelakang mereka


Damar hanya meringis seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Emang mau apa toh?" tanya Damar mencoba mengalihkan pembicaraan


Benar saja, Kemal seketika mendadak lupa tentang kecurigaan nya pada Damar akhir akhir ini.


"Yowes ayo." sahut Damar


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Riana, dengan Damar membonceng Kemal. Sesampainya disana, sudah terlihat para pekerja termasuk mang Kurdi dan Mahendra.


Terlihat mang Kurdi masih tidak berani menatap Damar lantaran masih malu akan perilaku Sekar putrinya, Damar pun mencoba mengerti perasaan mang Kurdi dengan memberinya waktu.


Bukan berarti Damar juga tidak mengajak bicara, Damar akan berbicara kepada mang Kurdi jika ada perlu saja.


Segera Kemal turun dari sepeda, dan Damar memarkirkan sepedanya. Setelah itu, mereka berdua menghampiri pekerja lain.


"Sudah lama kang?" tanya Damar basa basi kepada salah satu pekerja yang lain


"Tidak kok kang Damar, baru saja mulai." sahut pekerja itu

__ADS_1


Damar hanya mengangguk dan mereka pun mulai terlihat bekerja, sementara Mahendra sedari tadi menatap Damar. Damar yang menyadari hal itu mencoba untuk tidak perduli, ia tetap melanjutkan pekerjaan nya.


...****************...


Sementara mbok Sri sudah berada dibawah bukit bersama Manto kusir pribadi Riana, mbok Sri pun naik keatas delman. Delman pun melaju, disaat melewati rumah mang Kurdi spontan mbok Sri meminta berhenti.


Tentu saja ia tahu dimana rumah mang Kurdi, mengingat dulu sebelum tragedi mengerikan itu terjadi. Mereka semua sesama pekerja mendiang lurah Pramono pasti saling tahu rumah masing masing untuk memudahkan jika ada sesuatu, mbok Sri segera turun.


"Mau ngapain toh mbak yu?" tanya Manto menatap heran kepada mbok Sri yang selalu bersikap aneh dengan mendatangi suatu tempat yang menyeramkan


"Wes diam saja toh, kamu tunggu disini." ucap mbok Sri


Mbok Sri segera melenggang pergi, sesampainya didepan pintu rumah mang Kurdi ia segera mengetuk pintu. Tidak lupa, ia memakai selendang untuk menutup wajahnya.


Tok tok tok


Pintu diketuk perlahan, tidak membutuhkan waktu lama pintu pun dibuka dari dalam.


Krieeettt


Bunyi derit pintu yang menyeramkan, setelah pintu terbuka lebar menampakkan wajah wanita muda yang kebingungan.


"Nyari siapa ya?" tanya Sekar


"Jika kamu ingin sembuh, maka minta maaf lah pada seseorang yang kau sakiti." ucap mbok Sri kemudian segera pergi


Mbok Sri meninggalkan Sekar yang masih berdiri dengan raut wajah kebingungan, ia mencoba mengingat bentuk tubuh wanita paruh baya itu. Tapi, tidak ada satupun yang dia tahu.


"Siapa dia, tidak mungkin bude Ratna. Karena bude Ratna tidak memiliki tubuh gempal seperti itu, lalu siapa." ucap Sekar


...****************...

__ADS_1


__ADS_2