Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Menagih Janji


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, tidak terasa sudah seminggu hari hari mereka jalani dengan begitu saja. Seperti saat ini, terlihat Ginanjar memacu kuda miliknya untuk terus menaiki bukit.


"Aku harus segera menemui Ki Ageng." gumam nya


Kemudian ia kembali memacu lebih cepat kudanya, derap langkah kuda menghiasi kesunyian hutan di pagi ini. Hingga hampir satu jam ia diatas kuda, akhirnya tempat yang dituju sampai juga.


Ginanjar lekas turun, dan mengikat tali kekang kudanya di salah satu pohon yang cukup besar. Kemudian ia segera berjalan menuju gubuk milik Ki Ageng, hanya sekali dorongan pintu pun terbuka lebar.


"Bagaimana Ki?" tanya Ginanjar setelah duduk berhadapan dengan Ki Ageng


"Aku tidak bisa menyentuh siapapun, tapi aku sudah meminta bantuan kepada Nyi Warsih." sahut Ki Ageng


"Nyi Warsih." ucap Ginanjar membeo seraya mengernyitkan alis


"Nyi Warsih adalah penunggu hutan keramat, dia adalah guruku." sahut Ki Ageng menjelaskan


"Tapi mengapa belum ada yang terjadi Ki, aku harus membuat wanita itu menderita." ucap Ginanjar dengan geram


Ki Ageng tampak diam tak bergeming, terlihat ia seperti berfikir keras.


"Begini saja, kamu ikut denganku menemui Nyi Warsih." ucap Ki Ageng setelah lama diam


"Tapi, apa tidak bahaya Ki?" tanya Ginanjar dengan raut wajah ragu dan takut

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Nyi Warsih tidak akan menyakitimu."


"Yasudah, ayo."


Dengan membonceng Ki Ageng diatas kuda, mereka pun pergi meninggalkan gubuk reot menuju hutan keramat. Sepanjang jalan, hanya terdengar suara Ki Ageng mengarahkan jalan. Sementara Ginanjar sendiri, ia hanya manggut manggut mengikuti.


Hingga setengah jam mereka diperjalanan, tampak didepan sana hutan keramat sudah terlihat.


"Berhenti disana saja." ucap Ki Ageng seraya menunjuk salah satu pohon yang sangat tinggi


Ginanjar hanya mengangguk, setelah sampai mereka segera turun dari kuda. Kemudian Ki Ageng berjalan lebih dalam lagi, setelah selesai mengikat tali kekang kudanya segera Ginanjar berlari menyusul Ki Ageng.


Ki Ageng kemudian duduk bersila diikuti oleh Ginanjar, Ki Ageng mengatupkan kedua tangannya didepan dada seraya merapalkan ajian untuk memanggil Nyi Warsih.


"Ada apa kau memanggil ku." ucap Nyi Warsih


"Ma..maafkan saya Nyi, saya hanya ingin menagih janji Nyi untuk mencelakai orang yang disayang oleh perempuan itu." ucap Ki Ageng dengan takut takut


"Berani kamu wahai manusia." ucap Nyi Warsih tersirat raut amarah diwajahnya


"Sekali lagi maafkan saya Nyi, bukankah selama ini saya adalah murid Nyi yang paling bisa diandalkan. Saya juga setia dan saya sudah membantu Nyi untuk mendapatkan tumbal, anggap saja permintaan itu hadiah untuk saya Nyi." sahut Ki Ageng


Tampak raut wajah Nyi Warsih berubah, sedangkan Ginanjar hanya diam menyimak.

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan?" tanya Nyi Warsih


"Masih seperti dulu Nyi, saya ingin membuat orang yang disayang oleh Riana celaka bahkan jika bisa meninggal." sahut Ki Ageng


"Mengapa tidak langsung menyerang Riana saja Nyi, bukankah Nyi penunggu hutan keramat." ucap Ginanjar langsung menimpali


Seketika Nyi Warsih terpaku, bahkan rahangnya sudah menegang pertanda ia sedang marah. Melihat hal itu, Ki Ageng segera memelototi Ginanjar dan memberikan isyarat untuk diam.


"Maafkan kelancangan anak muda ini Nyi." sahut Ki Ageng cepat


"Aku tidak bisa menyentuhnya cah bagus, kau tidak perlu tahu alasannya. Aku hanya bisa menyentuh orang terdekat nya saja, karena benang merah itu tidak terlalu sakti bagiku." ucap Nyi Warsih


"Baik Nyi, lakukan saja." sahut Ginanjar pasrah


Tampak Nyi Warsih menghembuskan nafas dari mulutnya, anehnya hembusan nafas yang keluar seperti asap hitam yang mengepul. Kemudian berputar putar didepan wajah Nyi Warsih, terlihat Ginanjar dan Ki Ageng terkesiap.


Mereka berdua berdecak kagum melihat pemandangan didepan sana, terlihat juga mulut Nyi Warsih komat kamit entah merapalkan apa karena tidak terdengar.


Kemudian, asap hitam itu melayang terbang dan hilang.


"Kalian tunggu saja." ucap Nyi Warsih


...****************...

__ADS_1


__ADS_2