Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Gantung Diri


__ADS_3

Mereka bertiga pun kembai melangkahkan kaki menyusuri jalanan setapak yang lenggang, mata menatap awas kesana kemari. Sesekali mereka akan mengusap lengan untuk menghalau rasa dingin, langkah mereka telah sampai kearah perkebunan warga.


"Beneran bukan manusia iki." celutuk Panjul seraya meringis karena kedinginan


"Tidak mungkin demit juga toh, wong menapak gitu." sahut Kemal


Hingga hampir sampai dipertengahan kebun, mereka pun berhenti sejenak karena telah kehilangan jejak. Sedari tadi hanya Pangeran Segoro yang diam tak bersuara, entah apa yang ia pikirkan atau bahkan mungkin saja ia tahu sesuatu.


Tes tes tes


Panjul merasakan ada tetesan cairan yang membasahi wajahnya, ia mengira itu air hujan karena masih tak sadar.


"Hujan yo." gumam Panjul


"Hujan opo toh, wong tidak ada hujan." sahut Kemal


Panjul pun kembali merasakan apakah benar tidak ada hujan, ternyata memang benar.


"Bisa dadi urine manuk?" tanya Panjul


(Apa mungkin kencing burung?)


Panjul pun mengusap cairan yang berada di wajahnya kemudian memperhatikan dengan lekat cairan yang berada diujung jari telunjuk ya, namun nihil. Ia tidak bisa melihat dengan jelas dibawah langit yang gelap, tidak kehilangan akal Panjul pun mendekatkan jarinya ke hidung.

__ADS_1


Ia mulai mencium aroma anyir, Panjul terkejut bukan main. Tidak ingin menerka nerka ia kembali mendekatkan jarinya ke hidung, Panjul pun mulai mengendus dan tidak salah lagi baunya memang bau anyir darah.


"Arghh da..darah." ucap Panjul kaget


Pangeran Segoro dan Kemal pun menoleh kearah Panjul, kemudian mereka kompak menoleh keatas. Mata mereka membelalak karena terkejut, bahkan bola mata Kemal hampir keluar saking terkejutnya.


Tampak diatas dahan pohon terlihat seseorang yang tergantung, lebih tepatnya gantung diri. Dengan kaki yang menjuntai kebawah, lidah menjulur keluar. Tidak lupa matanya juga melotot keatas, seolah melihat penampakan yang mengerikan.


Darah keluar bercucuran melalui hidung dan berjatuhan mengenai tanah yang lembab, tampak juga seluruh tubuhnya sudah membiru. Kemal dan Panjul sangat shock, hingga jangankan berlari bahkan untuk berdiri saja mereka sudah tak mampu.


"I..itu Udin toh, Udin yang sakit bareng mendiang Juki." ucap Panjul


Pangeran Segoro mengangguk mengiyakan, mereka pun semakin lemas melihat kenyataan yang terpampang didepan mata.


"Sebaiknya kalian memanggil para warga." ucap Pangeran Segoro setelah lama hening


Selepas kepergian mereka, Pangeran Segoro lekas menoleh kebelakang tepat dimana pohon beringin yang tampak besar. Hanya Pangeran Segoro yang dapat melihat, didepan sana terlihat perempuan cantik dengan kemben merah dan rok senada.


Ia adalah Nyi Danuwati, tampak Nyi Danuwati tersenyum sinis sebelum menghilang. Sementara Pangeran Segoro hanya mampu menghembuskan nafas kasar, tidak lama kemudian tatapan Pangeran Segoro tampak sayu.


"Kapan semua ini berkahir." gumam nya seraya mendongak menatap langit yang kelam seperti hatinya


"Aku hanya ingin bahagia bersamamu." gumam nya lagi

__ADS_1


Setelah lama menunggu, tampak Kemal berserta rombongan para warga datang berbondong bondong menghampiri Pangeran Segoro. Setelah sampai, mereka pun bertanya kepada Pangeran Segoro.


"Dimana mayatnya le?" tanya salah satu warga yang tadi berjaga dibalai desa


Kemal dan Panjul memang hanya memanggil warga yang tersisa dibalai desa, karena mereka merasa tidak enak bila harus membangunkan para warga.


"Diatas sana pakde." sahut Pangeran Segoro seraya menunjuk keatas


Para warga memang belum menyadari dan tidak pula melihat karena suasana cukup gelap, terlebih lagi pohon tempat Udin gantung diri lumayan tinggi.


Disaat mereka semua mendongak menatap keatas, sama seperti reaksi Kemal dan Panjul yaitu terbelalak kaget. Mereka tidak menyangka bahwa kondisi jasad Udin lumayan mengenaskan, dan lebih tidak menyangka lagi jika Udin berani melakukan ini.


"Ya Allah Gusti."


"Hiy ngeri."


"Kenapa dia gantung diri yo?"


"Pasti karena teror penghuni hutan larangan."


Berbagai sahut sahutan kini menghiasai kebun warga yang tadinya sepi, suasana tampak ramai karena suara riuh.


"Wes wes, sebaiknya kita angkat saja jasad pakde Udin." ucap Pangeran Segoro

__ADS_1


Semua warga mengangguk setuju, entah bagaimana cara Udin bisa naik keatas. Namun kembali lagi, jika itu semua tidak luput dari campur tangan makhluk goib.


...****************...


__ADS_2