Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Bersih bersih


__ADS_3

Hingga keesokan paginya, pangeran Segoro dan yang lain beserta para warga memakamkan warga yang tidak dapat diselamatkan. Tidak ada tawa riang seperti biasanya, hanya ada wajah sendu melihat keluarga, teman, tetangga yang sudah terbujur kaku dengan kondisi tubuh membiru.


Mereka para lelaki memandikan mayat lelaki, dan wanita memandikan mayat wanita. Setelah semua selesai proses pemandian, serta mensholatkan dan lain lain kini mereka mengantar jenazah ketempat peristirahatan terakhir.


"Aku berencana setelah pulang dari sini aku beserta anak dan istriku mau pergi dari desa ini saja kang." ucap Jamal warga desa Ketang yang ikut membantu proses pembangunan rumah Nyi Danuwati


"Loh kenapa?" tanya mang Kurdi


"Seram kang, aku takut terjadi sesuatu sama anak dan istriku." sahut Jamal


"Yowes lah kalau sudah seperti itu keputusan sampean."


Kini mereka tidak bicara lagi kala sudah sampai di pemakaman, tampak terlihat begitu banyak lubang liang lahat. Mungkin ada sekitar lima puluhan lebih, sungguh pemandangan yang menyedihkan.


Beberapa warga lelaki langsung turun dan masuk kedalam liang lahat untuk menerima mayat, hingga cuaca di pagi hari sudah merangkak menjadi siang. Kini semua jenazah sudah selesai dimakamkan, mereka pun segera pulang.


Mbah Sastro memilih untuk bersama pangeran Segoro beristirahat barang sejenak dirumah pangeran Segoro dulu.


"Kita beristirahat dirumah saya saja mbah." ucap Pangeran Segoro


"Wes, ayo."


Mereka pun berjalan beriringan bersama mbah Sastro, Kemal, dan Mahendra. Sementara mang Kurdi rumahnya sudah beda jalan mereka sering bertemu dipertengahan jalan, sedangkan mbah Bayan sudah sampai terlebih dahulu.


"Mbah Bayan sudah bercerita semalam mbah, tapi saya ingin bertanya." ucap Kemal tiba tiba memecah kesunyian


"Tanyakan lah le, jika mbah tahu akan mbah jawab." sahut mbah Sastro


"Emm... Mengapa mbah Sastro memilih Damar?" tanya Kemal


Namun mbah Sastro hanya tersenyum menanggapi.

__ADS_1


"Sudah takdirnya." ucap mbah Sastro


Setelah sampai didepan rumah, pangeran Segoro menyuruh Kemal dan Mahendra mampir.


"Ayo mampir dulu." ucap pangeran Segoro


"Ealah gaya, wong rumahku itu kok tepat disamping rumahmu." sahut Kemal seraya menunjuk rumah yang memang berdampingan dengan rumah pangeran Segoro


Mungkin hanya berjarak sekitar enam langkah, rumah di desa memang berbeda dengan dikota zaman dulu. Bahkan, ada juga rumah yang jarak nya lumayan jauh dari tetangga.


Pangeran Segoro hanya meringis menanggapi celotehan Kemal.


"Pikun, Mahendra tuh ajak." ucap Kemal mendelik sinis


"Nanti saja aku datang, mumpung masih siang aku ingin pulang dulu mandi dan makan hehehe." sahut Mahendra langsung menimpali


"Makan dan mandi kan bisa disini." ucap pangeran Segoro


Pangeran Segoro hanya menatap punggung Mahendra yang sudah pergi, sebagai seorang lelaki dan juga sekarang pangeran Segoro memiliki ilmu. Ilmu kanuragan, ilmu kebatinan, serta ilmu ilmu yang lainnya membuat pangeran Segoro semakin jelas melihat Mahendra masih memikirkan Riana alias Nyi Danuwati.


Sebenarnya pangeran Segoro merasa risih melihat pria lain mencemaskan pujaan hatinya, sebab perasaan pangeran Segoro pun begitu. Ia teramat sangat merindukan Nyi Danuwati, bahkan ia berharap orang pertama yang ia temui kala menginjakkan kaki ke desa ini adalah Nyi Danuwati.


"Wes, aku pasti mampir nanti sekarang aku mau makan dulu." ucap Kemal


"Sama saja seperti Mahendra." sahut pangeran Segoro


Namun Kemal tidak perduli, ia segera masuk kedalam rumahnya setelah berpamitan kepada mbah Sastro. Pangeran Segoro lekas mengajak mbah Sastro masuk kedalam rumahnya, terakhir kali memang tidak terkunci.


Kriettt


Bunyi derit panjang pertanda pintu sedang dibuka, setelah pintu terbuka lebar debu langsung menyapa mereka hingga mereka berdua terbatuk.

__ADS_1


Uhuk uhuk


"Debu nya banyak juga mbah." ucap Pangeran Segoro cengengesan


"Iya, karena rumah ini ditinggal sudah berbulan bulan." sahut mbah Sastro


Niat hati ingin beristirahat, namun mereka harus dihadapkan dengan kenyataan yaitu membersihkan rumah.


"Sudah, biar saya saja mbah." ucap Pangeran Segoro


"Ora, wong mbah juga belum capek."


"Saya juga tidak mbah, apa demit memang tidak merasakan capek yo." ucap pangeran Segoro


Mbah Sastro hanya menggeleng kepala pelan seraya tersenyum, mereka memang tidak merasakan lelah. Hanya semalam mereka merasa kelelahan hebat, itu juga karena mengeluarkan seluruh ilmu bukan karena sesuatu seperti membersihkan rumah atau berjalan jauh.


Segera mereka membersihkan rumah, hingga tidak lama terlihat kedatangan Kemal dari luar sana.


"Loh lagi bersih bersih yo, biar saya bantu mbah." ucap Kemal


Jadilah mereka membersihkan rumah bertiga.


...****************...


Maaf telat up nya ya readres dan bab nya juga cuma segini, soalnya author lagi banyak kerjaan maklum menjelang tahun baru hehehe 😁


Dan aku mau ngucapin, sebelumnya maaf juga karena telat.


Buat umat Kristiani selamat hari Natal, dan selamat menyambut tahun baru 💓


See you😚

__ADS_1


__ADS_2