
Sementara itu, ditempat dimana Nyi Danuwati bersemedi. Tampak wanita cantik nan anggun itu sudah menyelesaikan semedinya untuk mendapatkan ilmu gending kapaten, sementara untuk ilmu yang lain ia tampak masih berfikir.
"Apakah aku masih sanggup untuk menyelesaikan nya?" gumam nya lirih bertanya tanya
Sebenarnya bisa saja ia melanjutkan semedinya untuk satu bulan kedepan lagi, ia juga tidak merasakan lapar dan haus. Hanya saja, biar bagaimana pun ia sudah mengerahkan tenaganya untuk bersemedi dan ia sungguh merasakan lelah.
"Aku sungguh lelah." ucapnya lemah
Wushhhh
Tiba tiba Nyi Danuwati merasakan hembusan angin yang tak biasa, Nyi Danuwati pun mulai awas memperhatikan sekitar dengan tatapan tajam nya.
Tampak tidak jauh darinya, sekitar jarak lima langkah saja terlihat kepulan asap hitam yang sangat pekat melebihi apapun. Asap hitam itu mulai mengepul memanjang keatas dan semakin lebar, tidak lama muncul naga hijau dengan mata kuning yang tajam.
"Jika kau tidak sanggup menyelesaikan nya maka jangan dilakukan, atau kau akan celaka." ucap naga itu dengan suara besar
Nyi Danuwati pun langsung tahu siapa kira kira naga itu, ia adalah jelmaan ratu penunggu ditempat itu. Nyi Danuwati pun tahu jika tempat dimana ia bersemedi adalah tempat yang paling dikeramatkan, yang jangankan manusia sekelas penunggu pun tidak sembarangan bisa memasuki kawasan itu.
Tempat itu yang banyak dicari cari untuk mendapatkan ilmu yang sangat tinggi dan menjadi sangat sakti, namun tidak mudah menemukan nya karena tempat itu sengaja ditutup dari pandangan manusia dan sebagian demit atau penunggu.
Meskipun begitu, Nyi Danuwati tidak merasakan ketakutan sedikitpun. Buktinya, Nyi Danuwati tampak menatap mata naga itu dengan tatapan tajam seolah ingin menantang. Entah dimana hilangnya sikap lemah lembut Nyi Danuwati dulu, yang tersisa hanyalah sikap arogan yang tinggi.
__ADS_1
'Sepertinya aku memang tidak sanggup.' batinnya
"Aku tidak ingin melanjutkan." ucap Nyi Danuwati terus terang
"Pergilah." sahut naga itu mengusir
Nyi Danuwati berdecih kesal, ia menarik sudut bibirnya hingga terangkat keatas hingga seperti tersenyum sinis dan meremehkan.
"Dasar arogan, tidak seperti Nyi Danu yang mengemis untuk mendapatkan ilmu disini." ucap naga itu
"Tutup mulutmu aku bukan ibuku, aku bisa saja menghabisi mu dan berkuasa disini." sahut Nyi Danuwati
Jika naga itu mau, hanya mengedipkan mata saja mungkin nyawa Nyi Danuwati melayang. Namun sayangnya, naga itu menyukai sikap Nyi Danuwati yang kejam apalagi ia menggunakan kekuatan nya untuk menghancurkan desa.
Naga itu kemudian memilih pergi, dan dengan sengaja ia mengibaskan ujung ekornya hingga mengenai tubuh Nyi Danuwati yang langsung jatuh tersungkur kebelakang hingga muntah darah.
"Cukup untuk memberimu pelajaran hahaha." ucap naga itu disusul dengan suara tawa menggelegar
"Argh sial, dasar berengsek." ucap Nyi Danuwati setengah berteriak
Tanpa Nyi Danuwati sadari, dari sorot pancaran mata naga itu tersirat akan kepedihan. Ia bisa melihat dan tahu apa yang menimpa hidup Nyi Danuwati dulu, sebab itu ia ingin membantu dengan membiarkan ia bersemedi.
__ADS_1
"Aku harus memulihkan tenagaku terlebih dahulu." ucap Nyi Danuwati yang langsung duduk bersila
"Tunggu, aku akan memaksa para bedebah itu untuk datang kedesa." ucapnya menyeringai
Mulut Nyi Danuwati pun mulai komat kamit membaca ajian, tanpa menyebut nama hanya membayangkan wajah mereka saja ajian sihir itu langsung mengenai targetnya.
...****************...
Dari jarak yang cukup jauh, puluhan bahkan ratusan kilo meter tepatnya di sebuah perkotaan tempat dimana sebagian anak buah Ginanjar melarikan diri.
Alasan mereka meninggalkan desa bukan karena takut ketahuan, namun sejak beberapa bulan belakangan mereka kerap kali mendapatkan teror dengan didatangi para demit.
Disebuah salah satu rumah yang lumayan kecil untuk sekelas perkotaan, tampak Juki berbaring seolah tidak memiliki beban apapun. Tiba tiba muncul sebuah asap hitam yang berhembus dan masuk kedalam tubuh Juki melalui rongga hidung, tidak membutuhkan waktu lama hanya sedetik setelah asap itu masuk Juki langsung terbangun dan langsung terduduk.
Bola matanya tampak melotot lebar, setelah itu Juki berdiri dan mengambil tas besar dan menyusun semua pakaiannya. Tidak lupa mengambil beberapa uang yang tersisa, kemudian lekas ia pergi meninggalkan sebuah rumah yang sudah hampir setahun ia tinggali.
Tampak Juki berjalan dengan pandangan kosong, tatapan nya hanya lurus kedepan seperti orang linglung. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menatap aneh, namun Juki tidak memperdulikan hal itu.
Ia hanya terus berjalan tanpa berniat untuk menaiki kendaraan padahal jaraknya masih cukup jauh, hingga beberapa jam lamanya ia sampai di terminal.
...****************...
__ADS_1