
POV Riana
Keesokan harinya, dipagi buta sekali kami semua penghuni rumah ini dibangunkan oleh suara teriakan mas Purwo. Aku yang sebenernya sudah tahu apa yang terjadi sangat malas untuk melihat kekamar mas Purwo, namun demi rencana yang sudah kurancang agar berjalan mulus aku pun memutuskan untuk melihat mas Purwo.
Lekas ku langkah kan kakiku berjalan kearah pintu kamarku dan membuka knop pintu.
Krieeett
Brakkk
Setelah menutup pintu, segera aku menghampiri mas Purwo kekamar nya. Sesampainya disana, aku sudah melihat banyak abdi dan beberapa anak buah mas Purwo, segera ku langkah kan kakiku menuju ranjang milik mas Purwo.
Setelah berada disamping mas Purwo, aku bisa melihat jelas keadaannya yang menyedihkan. Wajahnya yang sudah hancur hingga mengeluarkan belatung, serta nanah dan lendir bercucuran, kulit diwajahnya yang sudah mengelupas dan mengeluarkan bau.
Sungguh pemandangan yang menyedihkan, bahkan beberapa abdi dan anak buah nya sebagian menutup hidung dan ada juga yang muntah muntah.
"Arghh sakit too..long." ucap mas Purwo merintih kesakitan
Aku hanya bisa menatapnya dengan datar, beberapa anak buah mas Purwo sudah memanggil pamong desa, mantri, bahkan dukun sekaligus.
"Argggghh." mas Purwo lagi lagi merintih bahkan tubuhnya sudah berguling guling kesana kemari.
"Kamu kenapa mas?" ucapku bertanya
Mendengar suaraku seketika mas Purwo menoleh, detik kemudian ia melotot tajam ke arah ku. Bahkan, ia menunjuk nunjuk wajahku.
"Ini semua karena ka..kauu." sahutnya menyentak
Aku hanya menatapnya datar tanpa ekspresi, sudah diberi cobaan begini bukannya tobat malah menyalahkan orang lain. Jika aku mau, aku sudah membuatnya menyusul juragan Karno.
"Ini semua karena kau, kau yang membuat aku begini." ucap mas Purwo dengan tatapan nyalang yang bisa menusuk siapa saja yang melihat nya.
Tidak beberapa lama berselang, mantri desa beserta pamong desa sudah datang. Segera pak mantri mengecek kondisi mas Purwo, pamong desa segera juga melakukan tugasnya.
Beberapa lama kemudian pak mantri selesai mengobati mas Purwo, namun ia juga masih bingung dengan keadaan yang menimpa mas Purwo sekarang.
Ia tidak tahu penyakit apa yang diderita oleh mas Purwo sampai sampai mengeluarkan belatung, setelah berbincang sejenak dan meminum teh yang sudah disediakan oleh mbok Asih mereka segera memutuskan untuk pulang.
Tidak lama setelah pak mantri dan pamong desa pulang, dari kejauhan terlihat salah satu anak buah mas Purwo yaitu Naryo datang tergopoh gopoh bersama salah satu lelaki tua.
Mungkin saja itu dukun, aku segera memasuki kamar ku takut jika dukun itu membaui aroma ku yang memiliki ilmu hitam dan menuduh ku yang bukan bukan.
__ADS_1
Tapi aku ingin melihat apa yang akan dukun itu lakukan, aku lekas memakan kembang melati yang memang sudah ku persiapkan jauh hari di kamarku untuk menghilangkan aroma tubuhku dengan sedikit merapalkan mantra agar ia tidak bisa menembus ku.
Setelah itu, bergegas aku kembali kekamar mas Purwo. Tidak berselang lama mereka pun memasuki kamar mas Purwo, Naryo yang melihatku segera membungkuk.
"Ma...Maaf non, ini emm anu." ucap Naryo
Pak Naryo memang sudah paruh baya, itu sebab nya ia memanggilku nona.
"Ini saya bawakan dukun." ucap Naryo lagi masih dengan membungkuk
"Baiklah, terimakasih." sahutku
Aku mempersilahkan dukun itu untuk memeriksa kondisi mas Purwo, dukun itu menatapku sejenak dengan lekat entah apa yang ia pikirkan.
Setelahnya, ia pun memeriksa mas Purwo. Raut wajahnya menunjukan bahwa ada yang tidak beres, segera ia menoleh kearah Naryo.
"Siapkan kendi, kemenyan, kembang tujuh rupa, ayam cemani." ucap dukun itu
Naryo segera mengangguk tanda setuju, kemudian lekas ia mempersiapkan semuanya. Kebetulan, ada beberapa tetangga yang memelihara ayam cemani.
Hingga tidak lama akhirnya semua yang diminta oleh dukun itu sudah dipenuhi, segera Naryo dan beberapa centeng yang lain mengatur tata letak alat media ritual itu.
"Matikan lampu, cahaya nya cukup dari penerangan lilin saja. Dan, sebagian keluar saja agar saya bisa konsentrasi." ucap dukun itu
Segera lilin itu ditaruh mbok Asih didepan dukun itu, lekas dukun itu duduk bersila dan menaruh beberapa sasajen kedalam kendi.
Kemudian ia membakar kemenyan hingga aroma kemenyan memenuhi ruangan dan menyesakkan dada, apalagi dengan asap kemenyan yang sangat tebal.
Segera dukun itu menekuk kaki dan sayap ayam cemani kemudian menyayat leher ayam cemani hingga mengeluarkan darah segar, segera darah itu ia tampung kedalam kendi yang sudah berisikan sasajen.
Kemudian dukun itu mulai memejamkan mata, dengan bibir yang komat kamit. Cukup lama ia menjalankan ritual hingga tiba tiba ia membuka mata lebar, bersamaan dengan itu pula.
Pyaarrrr
Kendi yang berisi sasajen itu pecah, hingga mengagetkan beberapa orang yang tersisa didalam kamar. Tubuh dukun itu memang masih tetap berada diposisi semula, namun dari mulut dan hidungnya mengeluarkan darah segar.
"Tidak bisa." ucap dukun itu tiba tiba yang membuat orang yang didalam kamar saling berpandangan
Mas Purwo yang memang sadar sedari tadi lekas menyahut.
"Tidak bisa apa mbah." ucap mas Purwo
__ADS_1
Seketika dukun itu melotot kearah mas Purwo dengan tatapan nyalang.
"Kamu sudah berurusan dengan orang yang salah." sahut dukun itu seraya menunjuk mas Purwo
"Memang nya apa yang terjadi mbah?" ucap mbok Asih memberanikan diri bertanya setelah sedari tadi hanya berdiam diri.
"Dia telah berurusan dengan orang yang salah." ucap dukun itu lantang
Kemudian dukun itu kembali menoleh kearah mas Purwo.
"Kamu telah salah, kamu tidak bisa disembuhkan. Kamu telah berani mengusik ketenangan orang lain, dukun yang kau suruh untuk menyakiti wanita itu kini dalam keadaan sama seperti mu. Dukun itu tidak ingin menderita sendiri, itu sebabnya ia juga membuat mu begini." ucap dukun itu panjang lebar seraya menyeringai seram
Seketika wajah mas Purwo menjadi tegang, ia tiba tiba gelagapan.
"Too..Tolong sembuhkan saya mbah." ucap mas Purwo memohon
"Tidak bisa, kamu tidak hanya berurusan dengan satu orang." sahut dukun itu tegas
"Tolong mbah." ucap mas Purwo lagi
"Tidak bisa, saya tidak mau mati konyol karna menolong mu. Sudah saya katakan kau tidak hanya berurusan dengan satu orang, tapi kau juga berurusan dengan penguasa hutan keramat dan tidak hanya itu saja." ucap dukun itu
Seketika aku menoleh kearah dukun itu, rupanya dukun itu bukan dukun sembarangan. Ia bisa tahu tentang Nyi Warsih, dan mungkin saja ia juga tahu tentang keris milikku dengan kalimat nya tadi yang mengatakan bahwa 'tidak hanya itu saja'.
Untunglah ia tidak bisa menembus ku, wanita yang dimaksud itu. Segera dukun itu keluar dari kamar ini tanpa memedulikan suara mas Purwo, tanpa menunggu lagi segera dukun itu pulang dengan diantar oleh Naryo.
Aku mendekati mas Purwo dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun, dengan wajah dingin dan tatapan kosong. Dikamar ini hanya ada aku dan mas Purwo saja, karena mbok Asih sudah kembali ke dapur dan anak buahnya sudah keluar.
Aku mendudukkan bokong ku ditepi ranjang tepat disamping mas Purwo, segera ku dekat kan bibirku ke telinga mas Purwo.
"Enak?." ucapku berbisik dengan menyeringai seram
Seketika mas Purwo kaget dan melotot, tapi tidak bisa menutupi bahwa ia ketakutan.
"Ini belum seberapa mas." ucapku lagi berbisik ditelinga nya
"Aku akan membalas lebih sakit lagi." ucapku
Kemudian segera aku keluar dari kamar mas Purwo, sebelum menutup pintu aku masih menoleh kearah mas Purwo dengan senyum misterius.
Segera aku menutup pintu dan memasuki kamarku.
__ADS_1
...****************...