Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Menuju Desa Ketang


__ADS_3

Keesokan paginya, sinar matahari yang menembus melalui lubang ventilasi menerpa wajahku. Menyebabkan aku setengah sadar dan menggeliat, karena tidak tahan dengan cahaya nya aku kemudian terbangun.


Lekas aku berjalan kearah pintu kamar, dan membukanya.


Krieettt


Brakkk


Setelah menutup pintu kembali, aku mencari keberadaan mbok Sri. Namun tidak ada, setelahnya aku mencium aroma masakan yang lezat.


'Pasti mbok Sri ada di dapur.' batinku


Segera aku berjalan kearah dapur, dan benar saja. Aku melihat mbok Sri tengah menyiapkan makanan, sadar akan kehadiran ku mbok Sri segera menoleh dan tersenyum.


"Kamu sudah bangun toh nduk?" tanya mbok Sri


Aku hanya mengangguk menanggapi nya, aku sadar memang aku tertidur lumayan lama mungkin seharian. Aku bersemedi ditengah malam dan selesai di pagi hari, setelah pagi aku segera pulang dan tertidur hingga bangun di pagi hari juga.


Mungkin benar, aku memang tertidur seharian penuh. Akupun mendekati mbok Sri, sementara mbok Sri masih asik memasak.


"Wess, kamu mandi dulu sana. Itu tadi sudah mbok siapkan air hangat, sudah mbok masukkan juga kembang tujuh rupa nanti mbok antarkan pakaian gantinya." ucap mbok Sri


"Njih mbok." sahutku


Lekas aku menuju kearah sumur, disana aku sudah melihat ada sebuah gentong yang berukuran besar dengan kembang tujuh rupa mengambang di atas nya.


Segera aku menanggalkan semua pakaian yang menempel di tubuh ku, dan menggantinya dengan jarik. Setelahnya aku kemudian masuk kedalam gentong, aku berniat untuk berendam terlebih dahulu.


Cukup lama aku berdiam diri didalam gentong, mungkin ada sekitaran setengah jam. Bahkan mbok Sri juga sudah bolak balik memanggilku, segera aku selesaikan rutinitas mandiku.


Setelah selesai, segera aku menyambar handuk dan memakai pakaian ku yang baru. Kemudian aku berjalan menuju dapur, disana sudah terlihat mbok Sri yang menunggu ku.


"Maaf ya mbok, lagian kenapa mbok tidak makan sendiri saja?" tanya ku


"Tidak apa apa nduk, mbok memang sengaja menunggu kamu." sahutnya


Segera aku duduk disalah satu kursi rotan, dan dengan sigap mbok Sri menyendok makanan untukku. Kami pun segera melahap makanan dalam keheningan, setelah selesai aku membantu mbok Sri membereskan peralatan makan kami.

__ADS_1


Tok tok tok


Namun tiba tiba terdengar suara ketukan pintu, aku menoleh kearah mbok Sri.


"Mungkin itu Mahendra." ucap mbok Sri


"Mahen." desisku


Mbok Sri hanya mengangguk.


"Dia sering datang kesini untuk mencari kamu." ucap mbok Sri lagi


Karena rasa penasaran, aku segera menghampiri pintu utama dan membuka kan pintu.


Krieettt


Pintu terbuka lebar menampakkan seraut wajah tampan, dengan hidung mancung, bibir merah alami, serta alis dan bulu mata yang tebal.


Ia adalah Mahen, melihatku membuka pintu seketika ia tersenyum lebar. Aku mencoba melihat matanya untuk menerawang, namun justru untuk sejenak tatapan kami saling beradu.


Spontan aku melihat kearah lain, begitu pula Mahendra. Aku menarik dan menghembuskan nafas pelan, sontak saja aksiku tidak luput dari pantauan Mahen.


"Eumm....Tidak apa apa kok." sahutku


"Ooo, terus kemarin kemarin kamu kemana?"


"Ada urusan sedikit yang tidak bisa ditinggal."


"Kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku, aku bisa saja kan menemani mu." ucapnya


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi nya, entah mengapa disaat seperti ini justru aku memikirkan mas Damar. Sadar akan pikiranku, segera aku menggeleng gelengkan kepala.


'Tidak tidak, apa yang aku pikirkan. Riana lupain Damar, lupain semua yang melemahkan mu.' batinku kepada diri sendiri


Melihatku seperti orang tidak waras justru membuat Mahendra kebingungan.


"Kamu kenapa sih, kamu sakit?" tanya nya

__ADS_1


"Tidak." sahutku singkat


"Apa kamu sibuk? Bagaimana jika kita jalan jalan." ucapnya


Aku terdiam sejenak, aku berencana untuk ke desa Ketang hari ini. Aku ingin melihat kondisi rumahku yang sudah hangus terbakar, aku ingin membangun rumahku kembali seperti sedia kala.


"Emm.. Aku punya urusan." sahutku


"Kemana, aku bolehkan nemenin kamu?" tanya nya penuh harap


Aku menatapnya sekilas dan mengangguk, kami segera berpamitan kepada mbok Sri. Kemudian kami pergi menuju desa Ketang dengan menggunakan kuda milik Mahendra, itulah sebabnya aku tidak mau jika ada yang ikut denganku.


Jika hanya aku sendiri, dengan menggunakan kekuatan ku aku bisa sampai hanya beberapa menit saja. Sekarang, aku harus mengusir rasa bosan diatas kuda.


...****************...


Setelah sekian lama, akhirnya kami sampai di gapura desa Sumbul. Dan kami segera menuju kearah rumahku yang sudah terbakar, setelah sampai aku segera turun dari kuda dan diam sejenak meratapi kehancuran keluarga ku.


'Tidak, aku tidak boleh lemah.' batinku


Aku kemudian menarik dan menghembuskan nafas kasar, kemudian aku memasuki pekarangan rumahku. Dijam segini memang sepi, semua warga sudah pergi bekerja.


"Siapa yang tega melakukan ini." ucap Mahen tidak habis pikir


Aku hanya diam tak bergeming, aku tidak suka membahas hal yang bisa saja melemahkan ku.


"Terus apa yang ingin kamu lakukan." ucap Mahen


"Aku ingin membangun kembali rumah ini seperti sedia kala." sahutku kali ini aku menoleh kearah nya sekilas


"Aku akan mendukung apapun yang ingin kamu lakukan." ucapnya seraya tersenyum lembut


"Tapi aku tidak bisa melakukan itu secara langsung." sahutku


"Kalau itu serahkan saja semua kepada Mahendra." ucapnya tersenyum jumawa sembari menepuk dadanya


Aku hanya tersenyum sekilas melihatnya, dia seperti tidak kenal lelah untuk membuatku tersenyum walaupun aku tidak pernah menanggapi nya.

__ADS_1


Tiba tiba.


"Nyari siapa ya?"


__ADS_2