
Windu membaringkan tubuhnya dengan enggan di atas tempat tidur, dia sebenarnya tidak terlalu lelah, hanya fikirannya sefikit terbagi pada istrinya yang sekarang sedang hamil di rumah.
Di raihnya ponselnya dan menghubungi kontak Dara lewat Video call.
"Hallo, assalamulaikum sayang..." Windu langsung menyambar tak sabar saat wajah sang istri sudah terpampang di layar handphonenya.
"Hai, wallaikumsalam suami..." Dara menyambut sambil tersenyum lebar.
"Aku baru saja sampai." Windu melaporkan diri dengan tingkah jenaka.
"Cepat sekali."
"Penerbangannya tidak sampai dua jam, perjalanan dari Bandara ke Nusa Dua juga lancar jaya tidak sampai sejam. Jadi, tengah hari sudah sampai hotel." Jawab Windu.
"Kak Windu sudah makan?"
"Aku masih kenyang."
"Ini jam makan siang, lho...makan sana." Dara tampak menerima video call itu sambil tangannya sibuk mengerjakan sesuatu.
"Aku rindu si jajang meongmu..." Goda Windu.
"Akh, bohong...kalau bener suka dengan masakan koreaku kenapa tidak di habiskan kemarin makanannya?"
"Aku sedang diet, sayang. Kasihan perut calon papa muda ini lebih buncit dari perut istrinya sekarang, gara-gara kamu jejalin nadi goreng tiap malam." Oceh Windu membuat Dara tergelak.
Windu begitu menyukai tawa Dara yang lepas itu, rasanya seperti sedang melihat tawa seorang anak yang polos.
"Oh, ya...bagaimana penerbanganmu?" Tanya Dara setelah tawanya reda.
"Biasa saja."
"Kok, biasa saja?"
"Ya, bagaimana lagi? kalau tidak ada kamu semuanya biasa saja."
"Waaaa...kak Win gombal." Sahut Dara sambil tertawa.
"Ini tidak gombal sayang, aku serius." Windu manyun,
"Sebenarnya kamu itu sedang apa? Dari tadi tanganmu tak bisa diam?" Tanya Windu.
"Oh..aku...aku sedang melipat baju."
"Melipat baju? Bukankah banyak orang lain di rumah yang bisa melakukannya. Aku kan' sudah bilang jangan mengerjakan hal-hal yang tidak perlu."
"Aku bosan tiduran terus sayang, nanti aku bisa sebesar gajah, jadi aku melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja." Dara berdalih.
"Aku harus bersiap-siap dulu. Sekarang matikan saja ponselnya." Dara mencibirkan bibirnya pada Windu yang menatapnya dengan mesra. Dia tahu suaminya itu sedang berdrama.
__ADS_1
"Tapi, aku masih rindu."
"Aaaa...kak Win, nanti malam bisa telpon lagi. Aku sedang terburu-buru."
"Terburu-buru kemana?"
"Terburu-buru...mau makan ke bawah, sudah di panggil mbak Parmi ini."
"Ooooh....ya, sudah kalau begitu, makan yang banyak, ya."
"Kak Win juga makan yang banyak. Assalamualaikum..."
"Wallaikumsalam..." Hampir belum selesai Windu menyahut, panggilan itu di matikan secara sepihak dari Dara.
Windu menggeleng-gelengkan kepalanya duduk di tempat tidurnya, menghadap dinding dari kaca yang mengarah ke arah pantai itu.
Pemandangan indah terbentang di depan matanya, hotel yang di tempatinya ini bukan sembarang hotel.
Hotelnya sekarang masuk dalam kelas bintang lima ini, sudah barang tentu memperhatikan secara detail kebutuhan para kliennya tidak hanya menyediakan ruang meeting yang mewah yang nantinya menjadi tempat perhelatan yang akan di hadiri Windu. Beragam kebutuhan seperti kapasitas ruang meeting, hingga menu untuk rehat pun disajikan secara sempurna, selain kamar besar yang bagus.
Kamar besar Windu ini viewnya langsung ke arah pantai.
Tempat ini, tak hanya dianugerasi alam yang eksotik, pelayanan yang sempurna, serta nyaman.
Fikiran Windu melayang pada Dara, betapa senang jika mereka berdua bisa menghabiskan waktu di sini menikmati deburan ombak sambil berpelukan sepanjang malam.
Sejak menikah mereka tak pernah benar-benar bepergian, seperti orang honeymoon, beberapa tahun terakhir Dara sibuk dengan kuliahnya. Tidak pernah benar-benar berlibur seperti ini.
Windu membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Dia terlelap di siang bolong.
...***...
Suara handphone Windu berbunyi berkali-kali membangunkan Windu.
Dari Fuji!
"Ya..."
"Pak, kurang sejam lagi acara pembukaan."
Windu melihat ke arah jam tangannya sudah hampir jam 4.
"Pembukaannya jam berapa?"
"Jam 16.30 WIB. Ada perubahan waktu, di majukan dari seharusnya karena di harapkan sebelum magrib sudah harus selesai."
Windu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku mandi dulu."
__ADS_1
"Saya sudah siap, saya harus tunggu di mana?"
"Tunggu di mana? Apa maksudmu?"
"Apakah aku harus menunggu bapak di kamar bapak sementara bapak bersiap?" Tanya Fuji dengan berani.
"Untuk apa kamu menunggu di kamarku? Bukankah kamu punya kamar sendiri?"
"Siapa tahu, pak Windu butuh bantuan saya."
"Aku tidak membutuhkan apa-apa. Terimakasih." Tukas Windu.
"Aku akan keluar setengah jam lagi."
Windu menutup telponnya dengan tanpa permisi, dia merasa sedikit jengah dengan sikap Fuji.
...***...
Acara pembukaan itu berlangsung lancar, sekitar 50-an pengusaha hadir dalam acara itu, bahkan beberapa orang dikenal Windu sebagai partner perusahaan mereka.
Mereka break untuk sholat dan makan malam sebelum kemudian terlibat acara ramah tamah, kegiatan seminarnya di lakukan besoknya, seharian, lebih ke arah berbagi pengalaman.
Fuji yang menggunakan gaun selutut saat ramah tamah itu, sedikit berbeda dan terlihat seksi serta mencolok. Dia menempel di belakang Windu, senyumnya tampak sepanjang malam itu menghias bibir. Kadang kala dia mengobrol dengan beberapa orang.
Fuji benar-benar menikmati pertemuan itu dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebagai asisten Windu, dan bersosialisasi dengan beberapa orang yang tampak tertarik dengan pesona dan kemolekannya.
Tepat jam 09.00 malam, acara ramah tamah itu berakhir. Semua orang tampaknya tak sabaran untuk melakukan kegiatannya sendiri untuk menikmati malam yang indah di Nusa Dua.
Seperti halnya Windu yang tak sabaran ingin kembali ke kamarnya dan mencoba menghubungi istrinya lagi.
Yah, Windu benar-benar tidak fokus saat berada di aula acara, fikirannya tertuju pada Dara yang dari selepas magrib tadi tak bisa di hubungi olehnya.
Saat dia menghubungi, handphone Dara berada di luar Service Area, dengan kata lain kontaknya sedang tidak aktif.
Dia sudah menelpon berkali-kali tapu benar-benar tak bisa di hubungi.
Bahkan Windu telah mencoba menelpon papanya, tapi meskipun aktif tidak di angkat. Windu tak heran, karena papanya memang jarang mengangkat telpon, jika merasa penting baru dia menghubungi.
Tapi anehnya, semua orang seperti sedang ingin mempermainkan perasaan Windu, bahkan mbak Parmi, sopir mereka, juga tak bisa di hubungi, orang-orang yang mungkin untuk tempat Windu menanyakan kabar istrinya.
Andai dia punya nomor kontak semua orang yang bekerja di rumah mereka mungkin satu persatu akan menerima telpon darinya.
"Ada apa sih dengan mereka semua?"
Terlihat Windu mulai gusar, dia makin kesal karena dia tidak tahu harus berbuat apa.
(akhirnya othor menunaikan rangkaian crazy UP hari ini🤗 jangan lupa beri dukungan dan semangat untuk author tetap slalu crazy Up sampai tamat😅)
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...