Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 140


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Hari ini Diana dan Reyhan sudah diizinkan pulang oleh dokter. Setiba di rumah, Reyhan menuntun Diana.


"Selamat datang Tuan dan Nona," sapa Bi Sumi yang sudah menyambut mereka di depan pintu.


Diana membalas dengan tersenyum dan mengangguk. Begitu juga dengan Reyhan.


"Bi, bantu saya bawa tas Diana ke dalam," pinta Soraya.


"Baik, Nyonya." Bi Sumi segera beralih menuju mobil, sedangkan Reyhan dan Diana memasuki rumah.


"Rey, aku ingin ke taman belakang," pinta Diana.


Reyhan tersenyum dan mengangguk. Mereka menuju gazebo yang terletak di dekat kolam renang.


"Bisa tinggalkan aku sendiri?" tanya Diana tanpa menoleh.


"Baiklah, jika butuh sesuatu panggil aku." Reyhan mengangguk, lalu bangkit dan mengecup dahi Diana sebelum masuk ke dalam rumah. Berat bagi Reyhan meninggalkan Diana yang kondisinya masih terguncang, tetapi Reyhan juga sadar jika Diana butuh waktu sendiri.


Diana menekuk kedua lututnya, dalam sepi dia menangis lagi. Rasa sakit kembali menyeruak, entah sampai kapan dia akan begini.


Hari-hari berat Diana dan Reyhan jalani bersama. Keduanya tampak baik-baik saja di depan orang lain. Namun, setiap waktu kesunyian yang menemani. Mereka akan bersedih kembali, merenungi semua yang telah terjadi. Sudah seminggu semenjak Diana keluar dari rumah sakit, Reyhan bekerja dari rumah. Dia tidak ingin Diana merasa sendiri.


"Tuan," panggil Bi Sumi.


"Ada apa?" tanya Reyhan menatap heran, begitu juga dengan Soraya dan Tuan Wijaya. Mereka sedang makan malam bersama tanpa Diana. Diana memilih makan malam sendirian di kamar dan Reyhan tidak ingin protes. Dia memberi kebebasan asal bisa membuat nyaman Diana.


"Maaf, sepertinya Nona menangis lagi." Bi Sumi menunduk sedih.

__ADS_1


"Diana," ucap Soraya pilu. Matanya sudah berkaca-kaca dan seketika naf*su makannya menghilang.


"Coba kau hibur Diana, Rey," pinta Tuan Wijaya.


Reyhan menghela napas berat. Dia bangkit, lalu menuju kamar mereka. Di depan pintu dia mendengar isak samar dari Diana.


"Sayang, boleh aku masuk?" tanya Reyhan dari luar pintu.


Diana segera mengusap air matanya. "Ya," jawabnya singkat.


Reyhan membuka pintu, menghampiri Diana yang duduk di ranjang dengan kedua lutut ditekuk. Netranya mengamati keadaan Diana yang berantakan.


"Kau menangis?"


Diana menggeleng cepat. "Kelilipan."


Reyhan terkekeh kecil, dia membungkuk untuk mengecup bibir Diana sekilas. "Hei, kau bisa menangis di depanku. Aku ada di sini untuk membantumu bangkit." Mengusap rambut Diana.


"Apa aku terlihat aneh?" goda Reyhan. Diana menggeleng. "Tunggulah di sini, aku akan meminta Bi Sumi membuatkanmu coklat hangat."


"Terima kasih," ucap Diana sebelum mengecup bibir Reyhan.


Reyhan bangkit dan mengacak rambut Diana. "Aku tinggal sebentar." Diana mengangguk.


Keluar dari kamar Reyhan bersandar di dinding luar kamarnya. "Maafkan ayah, Irish. Ayah gagal membuat ibumu tidak menangis," isak Reyhan. Dia merasa sangat menyesal dan bersalah karena gagal menepati janjinya pada putri mereka. Di depan Diana dia berusaha tetap tegar, dia tidak ingin Diana bertambah sedih lantaran melihatnya sedih. Biar bagaimanapun Diana orang yang paling terluka dalam hal ini.


Reyhan menghapus sudut matanya yang mengeluarkan air. Lalu, bergegas menuju dapur. Tanpa dia sadari, Diana mengetahui semua, Diana mendengar yang Reyhan ucapkan dan juga melihat dia menangis.


Diana tidak menyangka, Reyhan yang dikenalnya sebagai sosok datar dan dingin, malam ini menangis untuk anak yang belum sempat dilihatnya. Diana yang berdiri di dekat pintu membekap mulut agar suara isakannya tidak terdengar. Seminggu ini dia merasa dirinya telah egois karena tenggelam dalam kesedihannya sendiri dan mengabaikan Reyhan. Padahal, yang merasa kehilangan bukan hanya dirinya, tetapi Reyhan juga. Reyhan juga tengah mengalami kesedihan yang sama. Namun, pria itu menyembunyikannya dengan tetap terlihat ceria di depan Diana.


"Rey," panggil Diana dari depan pintu dapur.

__ADS_1


Reyhan yang tengah mengaduk cokelat hangat menengok ke arah pintu dan sedikit kaget melihat Diana yang tidak dia sadari kedatangannya. "Kenapa kau ikut ke sini? Aku bilang, 'kan ...."


"Aku merindukanmu." Diana segera memeluk Reyhan dari belakang, mencium punggung pria itu dalam-dalam.


"Hei, aku sedang mengaduk cokelat, nanti tumpah bagaimana." Reyhan terkekeh geli dengan perlakuan impulsif Diana.


"Aku hanya ingin memeluk suamiku, apa itu tidak boleh?"


"Tentu saja boleh, tapi tidak harus sekarang."


"Bodo. Kenapa kau yang membuat sendiri?" Diana mengintip dari balik punggung Reyhan.


"Bi Sumi sudah tidur, aku tidak enak membangunkannya." Reyhan membalik tubuhnya dan mengulurkan cokelat hangat itu pada Diana. "Ayo, habiskan! Cokelat bisa membantu menenangkan pikiran."


Diana hanya menyunggingkan seulas senyum, dia menerima gelas dari tangan Reyhan dan meminum isinya hingga tandas.


"Sudah, terima kasih Hubby," ucapnya manja.


Reyhan mengulum senyum, lalu mengangkat tubuh Diana dan membopongnya ke kamar. Tatapan Reyhan begitu lekat hingga Diana meleleh. Perlahan dia menunduk untuk meraup bibir Diana. Reyhan mencium Diana saat menapaki anak tangga. Menikmati bibir Diana yang selalu membuatnya mabuk.


"Hubby," sela Diana saat ciuman mereka semakin panas.


"Hm?"


"Beberapa minggu ini dokter melarang kita untuk melakukan itu," terang Diana ragu.


Reyhan mengernyit, tetapi detik berikutnya dia tersenyum simpul. "Memangnya kita akan melakukan apa?" Reyhan mencubit cuping hidung Diana, "dasar omes."


❤️❤️❤️❤️❤️


Hai guys, jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like sama komen udah bisa kok menambah semangat aku.

__ADS_1


See u on next chapter ya guys. Lope2 sekebon toge 😘😘😘


__ADS_2