
"Pak Windu, tidak usah berpura-pura lagi, seorang laki-laki tidak apa-apa untuk sedikit nakal, itu normal. Menikmati hidup di sela kesibukan itu menyenangkan, aku akan menjadi kelincimu yang manis..." Fuji mengedipkan matanya sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir merahnya, lalu mendekat dengan sikap berani, mengulurkan jemarinya hendak menyentuh dada Windu.
"Lepaskan tangan kotormu dari tubuh suamiku!"
Suara itu tidak keras, hanya seoerti geraman yang dingin tetapi seperti petir tidak hanya di telinga Windu tetapi membuat Fuji hampir terjengkang.
Dara berdiri di depan pintu yang setengah terbuka, tatapannya begitu tajam menusuk lurus pada Fuji.
Fuji melongo dengan wajah merah merona seperti kepiting rebus.
"Dara...!"
"Bu Dara...?"
Windu dan Fuji menyebut nama perempuan dengan dress putih longgar itu hampir bersamaan.
Dara melangkah dengan pasti melewati pintu itu, matanya yang berbinar tajam itu tak berkedip.
"Turunkan tanganmu!" Tangannya meraih tangan Fuji yang masih berada di udara, karena hendak meraih dada Windu yang masih sedepa dari hadapannya.
__ADS_1
Tangan Fuji di hempaskan Dara dengan gaya yang jijik.
"Aku tahu, kamu akan melakukannya. Karena dari caramu menatap suamiku, kamu begitu tak hormat." Dara berucap tanpa sedikitpun menoleh pada Windu yang masih terpana melihat istrinya yang datang begitu tiba-tiba.
"A...aku...aku..." Fuji gelagapan seperti baru saja melihat hantu.
"Ku kira kamu cukup pintar untuk bersikap profesional, sayangnya aku salah besar memberimu kesempatan membuktikan bahwa pendapatku keliru. Seekor ular tetap seekor ular, dia akan mematukmu saat kamu lengah." Dara menarik sudut bibirnya dengan sikap mencemooh.
"Mungkin pendapat orang lain tidak seberapa penting bagimu karena kamu tak punya harga diri sehingga tak bisa menilai seburuk apa sebenarnya dirimu. Mungkin kamu pikir bisa menggoda suami orang, menidurinya dan menawarkan kesenangan semalam akan membuatmu memilikinya, setara dengan semua yang harus kamu lakukan bahkan dengan merendahkan dirimu. Tetapi sadarkah kamu bahwa berusaha menjadi perebut suami orang secara tidak langsung kamu telah gagal menghormati dirimu sendiri?" Dara berdiri tepat di antara Windu dan Fuji. Tatapannya dingin merasuk seolah ingin menguliti Fuji.
"Sekarang aku tidak perlu mengada-ngada dengan sikap curigaku karena dengan melihatmu secara langsung berusaha menawarkan dirimu pada suamiku, aku punya alasan untuk membuat proposal lisan, memintamu berhenti dari pekerjaanmu sekarang dan mungkin jika tak berlebihan, kamu harus mengemas barangmu dari kantormu." Dara mengucapkannya dalam suara datar, menoleh pada Windu yang tampak masih terpesona dengan istrinya itu.
"Sayang, apakah kamu mempunyai sepatah dua payah kata untuk mantan asistenmu ini?" Dara menoleh sesaat pada Windu, tersenyum dengan lebar.
Tangannya menepuk lembut dada Windu seperti sedang membersihkan sesuatu.
"Untunglah tangannya tidak sampai menyentuhmu, jika tidak aku harus merendammu dalam bak mandi satu malam ini." Kelakar Dara tanpa memperdulikan Fuji yang gemetaran di hadapannya.
"Anda...anda salah Paham..." dengan susah payah Fuji mengucapkan kalimat itu.
"Aku salah paham? Bagaimana bisa aku salah paham dengan apa yang kulihat dengan apa yang kudengar? Kenapa kamu masih tidak sadar bahwa kamu telah membuat dirimu itu menjijikkan. Saking menjijikkannya, aku bahkan tak punya selera meski hanya sekedar menjabak atau menamparmu meski itu sebenarnya sepadan untuk meluapkan perasaan marahku padamu. Sudahlah Fuji, tak perlu berkelit untuk memanipulasi apa yang terjadi. Seorang pelakor tetaplah pelakor, kamu tak akan mendapatkan apapun ketika merebutnya dari orang lain. Aku hanya tak habis pikir, kenapa ada orang seperti kamu di dunia ini? Lihat saja, kamu tak akan mendapatkan apapun meski kamu sudah merendahkan dirimu sebegitu rupa. Dia, adalah suamiku, milikku dan akan selamanya begitu. Jadi pergilah sebelum aku berubah fikiran dan mengusirmu dengan kasar dari sini." Sekarang Dara tak lagi bersikap lunak, matanya nampak nyalang pada Fuji.
__ADS_1
Fuji mundur beberapa langkah dengan gentar,
"Aku...aku...aku hanya khilaf...seharusnya aku tidak begini, aku hanya mabuk, akh...kenapa aku menjadi bodoh begini?" Fuji meracau tak jelas, dia baru menyadari betapa fatal apa yang dilakukannya sekarang, bahkan dalam sekejab dia telah kehilangan pekerjaannya dan karier yang telah berusaha di bangunnya hampir dua tahun terakhir.
"Pintu di sebelah sana, aku rasa aku tak perlu menunjukkannya padamu. Tapi jika kamu masih berada di depanku lebih dari semenit lagi, maka aku terpaksa akan menyeretmu keluar dari sini! Percayalah, aku orang yang sangat sabar, tapi aku bukan orang yang pandai berpura-pura baik jika aku tidak menyukainya. Jadi, keluarlah dari kamar ini sekarang juga! Dan jangan pernah muncul lagi di depanku!!" Suara Dara meninggi setengah membentak, rahang kecilnya itu menegang seolah benar-benar sedang melawan amarahnya, seperti bom yang siap meledak.
Fuji tak berani lagi berkata-kata, dia berjalan ke arah pintu dengan tergesa, tanpa berani melihat wajah Dara. Kilatan malu, marah dan takut seolah berkumpul membuat pias wajahnya seperti orang bodoh.
Dara mengikuti langkah Fuji dan begitu perempuan itu melewati pintu, Dara membantung pintu itu dengan keras.
Windu yang sedari tadi hanya terpana dengan istrinya itu, tak bisa menghilangkan rasa terkejut dan terpesonanya pada adegan yang di tunjukkan Dara di depan hidungnya.
Istrinya itu benar-benar sangat pandai memanajemen emosinya saat berhadapan dengan perempuan yang notabene sedang berusaha merayu suaminya itu
"Sayang...bagaimana bisa kamu berada di sini, sekarang?" Akhirnya kata-kata yang sedari awal ingin di lontarkannya ketika melihat Dara muncul di pintu kamarnya itu terucap juga.
"Apakah kamu keberatan aku berada di sini sekarang? Jika aku terlambat sedikit, mungkin saja serigala betina itu sedang berusaha menidurimu." Dara melengos dengan wajah masam hendak melewati Windu tetapi Windu menyergapnya dan memeluk istrinya itu dengan gemas dari belakang.
"Sayang, aku tidak akan sudi ditiduri oleh serigala..." Windu tertawa, berusaha mencairkan suasana yang mendadak terasa canggung itu. Kejadian barusan benar-benar membuat Windu merasa bersalah dan serba salah.
( Aaa...akhirnya Dara tiba, ya...harapan para readers kalau Dara ikut ke Bali akhirnya terkabul juga...😂 Apakah Dara akan marah dengan Windu ? Yuk tetap ikuti Crazy UP Dara malam ini😅)
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...