
Happy reading
💕💕💕💕💕
Reyhan dan Diana sudah tiba di salah satu butik kenalan Adinda. Mereka memutuskan untuk mengikuti saran Adinda setelah seharian kemarin model-model gaun dari butik kenalan Soraya ditolak Diana dengan berbagai alasan.
Sampai di dalam ternyata Adinda dan Dimas sudah menunggu mereka.
"Halo, Rey, Di, akhirnya kalian datang juga," sapa Adinda yang beranjak dari tempat duduknya disusul Dimas.
"Oh, hai Din, maaf kami terlambat. Tadi harus bujuk Reyhan dulu." Diana meringis malu.
"Gak apa, kami juga baru sampai. Oya, kenalin suami aku, Dimas." Adinda menunjuk Dimas.
"Dimas." Mengulurkan tangan.
"Diana," balas Diana ramah.
"Halo, pengantinnya sudah datang," sambut wanita bertubuh ramping yang menghampiri mereka.
"Nah, Rey, Diana, kenalin ini Tisya, yang punya butik," jelas Adinda.
"Halo, Mbak Tisya," sapa Diana yang tersenyum ramah, sedangkan Reyhan hanya berdehem.
"Halo, Diana, jangan panggil 'Mbak' dong, panggil Tisya aja biar akrab." Mereka tergelak bersama sebelum memasuki ruangan.
Diana dan Adinda masuk terlebih dulu yang dipimpin Tisya, sedangkan Reyhan dan Dimas berjalan di belakang mereka.
"Gimana kabar loe, Rey? Sehat?" tanya Dimas dengan tawa mengejek.
"Hah, parah." Reyhan menggeleng lemah. "Kenapa menjelang acara pernikahan wanita selalu berubah menjadi macan?" keluhnya.
Dimas tergelak. "Apa Diana juga seperti itu?"
"Pake nanya lagi," sewot Reyhan. "Dari kemarin gue diajak berantem. Dia minta pendapat, dikasih pendapat malah gak diterima, tapi baru gue bilang 'iya' disalahin lagi." Reyhan berdecak mengingat bagaimana cerewetnya Diana ketika memilih gaun pengantin di butik langganan Soraya kemarin, juga mengenai menu jamuan dan dekorasi ruangan, Diana tidak henti-hentinya mengajak Reyhan berdebat soal itu.
"Haha, itu belum seberapa. Gue bahkan didiemin selama lima hari sama Adinda pas milih gaun pengantin dulu." Dimas menepuk-nepuk bahu Reyhan.
Reyhan sudah membuka mulut hendak membalas ucapan Dimas, tetapi Diana sudah lebih dulu memberinya kode untuk mendekat.
"Menurut kamu ini gimana?" Diana menunjuk gaun putih panjang yang masih dipajang di manekan. "Bagus, 'kan?"
Reyhan memandang gaun yang ditunjuk Diana. Sebuah gaun lengan pendek dengan model deep off shoulder. Reyhan tidak mengerti dengan konsep 'bagus' yang disebut Diana tadi. Menurutnya gaun itu terlalu terbuka dengan bagian dada yang terlalu rendah. Dia pun bergumam pelan. "Bagus bagaimana?"
"Ini, gaunnya bagus," tunjuk Diana.
"Di, kalau kamu pakai gaun ini, pundak kamu akan kelihatan ke mana-mana. Belum lagi dada kamu," komentar Reyhan.
__ADS_1
Diana mengernyit, lalu memutar bola mata malas. "Ini aja deh kalau gitu, gimana?"
Diana beralih pada gaun di sebelah yang tadi. Gaun dengan model deep v-neck yakni, gaun dengan leher berbentuk v dengan bagian dada rendah dan punggung terbuka.
"No!" tegas Reyhan.
Jawaban Reyhan kali ini membuat Diana mengernyit kesal. "Rey," bentak Diana tak terima.
"Cari gaun yang aman aja."
"Aman gimana?"
"Ya, aman. Gak yang terbuka. Aku gak rela tubuh kamu dilihat orang lain. Hanya aku yang boleh melihatnya." Ucapan Reyhan membuat Diana merona, sedangkan Tisya hanya melongo.
"Reyhan ...." Diana meraba dada Reyhan dengan gaya erotis.
Reyhan berjengkit, dia berdehem keras, takut pertahanannya akan runtuh. "Jangan merayuku. Keputusanku sudah bulat, cari gaun yang tertutup."
Diana mencebik. "Dulu pas akad pernikahan kita, aku pakai kebaya yang model begini juga, tapi kamu fine-fine aja."
"Itu dulu. Dulu karena aku belum mencintai kamu." Reyhan menahan napas, kaget dengan ucapannya barusan. "Bu—bukan begitu maksudku." Mencoba menenangkan Diana yang kini sudah berkaca-kaca.
"Aku tau, kamu dulu gak cinta sama cinta aku. Aku sadar diri kok Rey, tapi bisa gak sih, kamu gak usah ungkit itu di depan umum."
Diana memalingkan wajahnya. Mengabaikan ucapan Reyhan.
"Iya, aku salah ngomong. Maafin, ya? Maafin, dong. Kita mau pesta masak marahan terus," rayu Reyhan. Diana masih bergeming, enggan membalas ucapan Reyhan sampai terdengar ponsel Reyhan bergetar.
"Siapa?" tatap Diana curiga.
"Santi, sekretarisku," jawab Reyhan setelah merogok ponsel dalam saku jasnya.
"Kenapa Santi menelponmu? Bukankah biasanya dia menelpon Jonathan? Atau kamu mulai ada main dengan Santi?" tuduh Diana.
Reyhan mengerjap tak percaya dengan apa yang Diana ucapkan barusan. "Kamu bicara apa, sih? Kenapa jadi ngelantur? Mungkin Jonathan tidak bisa dihubungi dan ini pasti sangat mendesak, makanya Santi menghubungiku."
"Aku gak percaya. Sini, biar aku yang jawab." Diana mengambil alih ponsel Reyhan dengan paksa.
Ya, Tuhan! Tolong! Kenapa istriku jadi posesif begini.
Reyhan berdehem, sedangkan Tisya segera mengajak Adinda dan Dimas menjauh, melihat-lihat gaun pengantin. Padahal buat apa, coba? Memangnya Dimas mau nikah lagi?
Reyhan mendengkus, menahan kesal. Entah kenapa menjelang acara resepsi pernikahan, Diana berubah menjadi pembangkang dan sensitif dalam segala hal.
"Nih." Dengan wajah cemberut Diana mengembalikan ponsel Reyhan.
"Apa katanya?" tanya Reyhan hati-hati, dia takut mengulang kesalahan yang sama. Beberapa hari ini dia sudah terlalu sering dianggap salah oleh Diana.
__ADS_1
"Katanya ada investor asing yang ingin bertemu denganmu sekaligus ngajak makan siang."
"Berarti aku harus segera ke kantor," ucapnya ragu, "kamu gak apa-apa kalau aku tinggal di sini hanya bersama Adinda dan Dimas?"
"Maksud kamu, aku nentuin gaunnya sendiri? Yang nikah kita, apa aku sendiri?" Diana kembali kesal.
"Di, aku harus menemui investor itu. Atau, kita pulang sekarang dan lanjutkan besok?"
"Kenapa besok? Rey, pesta kita tinggal empat hari lagi, lho."
"Lalu, bagaimana?" tanya Reyhan serba salah.
"Ya, sudah, kamu ke kantor saja. Aku di sini sama Adinda aja."
Astaga! Dari tadi aku, 'kan sudah bicara begitu! umpat Reyhan dalam hati. Maunya apa, coba?
Ingin rasanya Reyhan tertawa sampai guling-guling di lantai sekarang. Atau, memeluk Diana hingga tulangnya remuk karena saking gemasnya.
"Kamu mau lanjutkan sekarang?" tanyanya hati-hati.
"Ya, iyalah," jawab Diana ketus.
"Aku ke kantor sekarang, ya?"
"Iya, kamu pergi saja duluan, aku gak apa-apa."
"Bener gak apa—"
"Iya, udah deh, buruan sana pergi. Tar kamu kehilangan investor, aku juga yang disalahin."
"Iya, aku ke kantor, tapi—"
"Hm, aku bakalan pilih gaun yang aman, yang tertutup sesuai keinginanmu."
"Bagus. Nanti aku suruh sopir menjemputmu ke sini." Reyhan mengecup pelipis Diana sekilas sebelum menghampiri tempat Adinda.
"Lho, Rey mau ke mana?"
"Barusan ada investor nelpon. Aku harus balik ke kantor. Titip Diana ya Din, Dim, Nona Tisya, maaf atas keributan tadi," ujar Reyhan canggung.
"Ah, tidak apa-apa Tuan, saya sudah biasa melihat pasangan pengantin yang berselisih pendapat di sini. Ini masih biasa, dulu sampai ada yang ngebanting manekan juga ada." Tisya tertawa dengan ucapannya sendiri yang dia anggap lucu.
❤️❤️❤️❤️❤️
Ayah Reyhan yang lagi galau karena tingkah konyol Ibu Diana.
Jempol jangan lupa ya guys👍dukung aku dengan tekan favorit, like, sm komen.
__ADS_1