
Happy reading
💕💕💕💕💕
“Apa yang ada di pikiranmu tadi Laura? Kenapa kamu melakukan hal sebodoh itu?” umpat Jonathan berapi-api.
Jonathan dan Laura berada di sebuah ruangan rahasia. Ruangan berukuran 3m x 4m, bernuansa remang-remang, dan tanpa jendela. Ruangan itu hanya mendapat penerangan dari lampu kecil yang menggantung di langit-langit ruangan. Ruangan yang biasa dan sengaja dia ciptakan untuk menyeselesaikan tugas rahasia dari Reyhan untuk orang-orang seperti Laura. Orang yang menganggu ketenangan hidup Reyhan.
“Aku hanya ingin mengambil hakku kembali.” Laura yang masih terduduk di kursi kayu menjawab dengan santai.
__ADS_1
“Hak apa yang kamu maksud? Kamu sudah tidak punya hak atas Tuan Reyhan dan Tuan Rangga!” geramnya. Dia sangat kesal karena Laura masih belum menyadari statusnya.
“Tidak! Reyhan masih suamiku dan Rangga masih putraku. Aku tidak pernah datang ke pengadilan ataupun menandatangani surat perceraaian kami.” Laura bertambah ngotot.
Jonathan mengurut pelipisnya dengan tangan kiri sembari memejamkan mata. “Sadarlah Laura, hentikan kekonyolanmu ini. Tuan Reyhan sudah tidak menginginkanmu lagi.”
Entah apa yang harus Jonathan lakukan untuk menyadarkan Laura. Dia merasa di posisi yang sangat sulit sekarang. Sebesar apa pun kesalahan yang Laura lakukan, dia tetap tidak bisa membencinya. Dia tidak bisa menghukum wanita yang masih sangat dia cintai. Itu yang menjadi kebodohan terbesar Jonathan. Dia terlalu lemah jika menyangkut Laura. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Laura kembali bebas dan mengusik hidup Reyhan. Itu sama halnya dengan menggali lubang untuk diri sendiri. Hari ini karena kebaikan hati Diana, Laura masih diizinkan bernapas jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi.
“Aku menyesal sudah membantumu untuk kabur. Seandainya waktu itu aku mencegahmu, mungkin saat ini kamu masih tetap bersama Tuan Reyhan dan Rangga.” Wajah Jonathan terlihat muram. Ya, Laura tetap bahagia bersama Reyhan bukan bersamanya. Setidaknya itu lebih baik daripada dia harus dihadapkan pada pilihan sulit seperti sekarang. Memilih antara cinta dan kebenaran.
__ADS_1
“Kamu tahu sendiri bagaimana cinta Tuan Reyhan terhadapmu waktu itu, begitu pula sekarang, seperti itu juga rasa cinta Tuan Reyhan terhadap Nona Diana. Sekeras apa pun usahamu, kamu tidak akan bisa menggoyahkan hati Tuan Reyhan kembali. Justru dirimu yang akan mendapat masalah besar.” Jonathan mencengkeram kedua bahu Laura saking gemasnya.
Kini Laura terdengar terisak. “Kamu salah Jo, harusnya kamu bukan mencegahku untuk kabur dari Reyhan, tapi mencegahku untuk menikah dengan Reyhan.”
Jonathan mendekati Laura dan mengangkat dagunya sehingga, mereka bisa saling bertatapan lekat. Dalam suasana lampu yang remang-remang, dia masih bisa melihat guratan kesedihan di wajah Laura. “Apa maksud kamu?” Menautkan kedua alisnya.
Laura terdengar terisak. “Aku pergi bukan demi diriku sendiri, tapi demi Rangga. Aku berjuang mengumpulkan uang demi masa depannya.” Dia menyusut sudut matanya yang terus mengeluarkan cairan bening. “Kamu pikir Tuan Reyhan akan tetap memberi hak Rangga jika dia tau siapa Rangga yang sebenarnya.” Laura tercekat. Air matanya mengalir semakin deras.
Jonathan melepas genggamannya di dagu Laura, wajahnya seketika berubah pias. Tangan dan kakinya tiba-tiba terasa lemas. Dia mengerti. Sangat mengerti apa yang Laura maksud barusan. Rangga? Oh, tidak!
__ADS_1
Jonathan kembali membelakangi Laura dan menjambak rambutnya sendiri. “Arrgghhhhh, brengsek!!!”
❤️❤️❤️❤️❤️