
Bradd tiba di rumah, ia memanggil Simon, untuk mengkonfirmasi cerita Jenny tentang Angelica.
"Nona benar Tuan, nyonya Angelica memang datang ke kampus nona."
"Simon, mulai besok akan ada dua orang yang akam memberikan pengawalan pada Jenny, nanti mereka akan datang ke sini untuk bertemu denganmu. Agar kamu tahu siapa mereka, sehingga tidak ada salah paham nantinya antara kamu, dan pengawal Jenny."
"Baik Tuan," Simon menganggukan kepala.
"Terimakasih Simon, aku ke dalam dulu."
"Ya Tuan"
Bradd menuju pintu rumah, Teresa menyambut kedatangannya.
"Selamat siang Tuan," sapa Teresa.
"Selamat siang Teresa, Jenny ada di mana?"
"Nona di kamarnya, Tuan"
"Terimakasih Teresa"
"Ya Tuan," Teresa sedikit membungkukan tubuhnya, Bradd melewatinya, dan langsung menuju tangga. Teresa tersenyum menatap punggung majikannya, sikap Bradd benar-benar terlihat bagai pria yang sedang dimabuk cinta.
'Semoga tuan Bradd, dan nona Jenny selalu bahagia," doa Teresa di dalam hatinya.
Bradd mengetuk pintu kamar Jenny, hanya sekali ketukan pintu terbuka. Tampaknya Jenny sudah menantikan Bradd sejak tadi.
"Daddy, apa aku terlihat seksi?" Jenny berputar dengan mengenakan lingerie hadiah dari Bradd di depan Bradd. Sebenarnya Bradd ingin tertawa, melihat Jenny memakai lingerie di siang bolong. Tapi, ia tidak ingin mengusik keceriaan Jenny.
__ADS_1
"Sangat seksi, Sayang" Bradd meraih pinggang Jenny, ia tarik Jenny agar duduk di atas pangkuannya. Kedua paha Jenny menjepit kedua paha Bradd. Kedua telapak tangan Jenny menangkup wajah Bradd.
"Apa yang dibicarakan wanita itu dengan Daddy?" selidik Jenny dengan tatapan tepat ke bola mata Bradd.
"Hmmm, dia ingin meminta haknya atas harta kakekmu"
"Apakah didalam pikirannya hanya ada harta, Daddy? Apakah tidak ada sedikitpun cintanya untukku," suara Jenny terdengar bergetar. Bradd tahu, sebenci apapun Jenny pada Angelica, ia tetaplah seorang anak yang pastinya membutuhkan cinta, dan perhatian dari seorang ibu. Bradd tahu, cintanya saja tidak akan cukup.
Bradd mengusap punggung Jenny lembut.
"Semua ibu pasti memiliki rasa cinta pada anaknya, Jenny. Hanya saja, terkadang rasa cinta itu tertutupi oleh banyaknya masalah yang mendera, dan harus dihadapi dalam hidupnya."
"Masalah yang dia cari sendiri, Daddy. Andai dia menikah dengan Daddy.... " Bradd menahan ucapan Jenny, dengan menyilangkan jari telunjuk di atas bibir Jenny.
"Andai dia menikah denganku, mungkin kamu tidak akan pernah ada, Jenny" ucap Bradd lembut.
"Ehmmm, andai dia tidak meninggalkan rumah saat membawaku.... "
"Daddy.... " Jenny merebahkan kepalanya di atas bahu Bradd.
"Apa kamu tidak ingin tahu siapa daddy kandungmu, Jenny?"
"Bagiku itu tidak penting Daddy, bagiku dia hanya seorang pria yang menebarkan benihnya di rahim wanita itu, tapi dia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya." Jenny mengangkat kepalanya dari atas bahu Bradd.
"Jenny," Bradd mendekap punggung Jenny, Jenny menempelkan keningnya, di atas kening Bradd.
"Aku sudah bahagia seperti ini Daddy, tidak perlu ada orang lain di dalam hidupku, cukup hanya Daddy saja." Jenny memiringkan kepala, ditangkupnya lagi wajah Bradd, bibirnya menyentuh bibir Bradd lembut. Bradd membalas ciuman Jenny, perlahan kedua tangannya menurunkan kedua tali lingerie di atas bahu Jenny. Jenny menurunkan kedua tangannya yang menangkup wajah Bradd, agar tali itu jatuh dari atas lengannya. Dan, baju tidur baru Jenny jatuh di bawah perut Jenny.
Bradd mengangkat Jenny, dan membaringkan Jenny di atas ranjang. Lingerie yang menyangkut di pinggul Jenny ia loloskan, dengan gerakan perlahan. Bradd mendorong tubuh Jenny, agar Jenny tengkurap. Bibir, dan lidah Bradd menyusuri punggung Jenny, terus kebawah, dengan meninggalkan kecupannya yang menyisakan warna merah.
__ADS_1
"Daddy," punggung Jenny terangkat, Bradd menyusupkan kedua tangannya kebagian dada Jenny, Jenny menolehkan kepala, Bradd langsung mengulum bibir Jenny. Jenny memutar tubuhnya, kini ia telentang di bawah tubuh Bradd yang membungkuk.
Jemari Jenny mencoba melepas satu persatu kancing kemeja Bradd. Setelah semua kancing terbuka, kemeja Bradd lepas melewati kedua tangannya. Kali ini mereka bermain dengan santai, tidak terburu-buru, meski Bradd nantinya harus kembali ke kantor lagi. Bradd mencumbui Jenny dengan sangat hati-hati. Lidah, dan bibirnya bermain santai mencecap dan memberikan jejak di putihnya kulit Jenny. Desahan Jenny seperti memberi semangat baginya untuk terus memberi Jenny kenikmatan yang tidak pernah Jenny terima sebelumnya.
Jenny hanya mampu memejamkan matanya, kedua telapak tangannya meremas sprei di bawahnya. Tidak ada jeritan, atau teriakan. Singa lapar itu kini terlihat sudah jinak, sehingga memperlakukannya dengan sangat lembut. Hanya desahan, dan lenguhan yang ke luar dari sela bibir Jenny.
Jenny tidak tahu lagi, berapa kali sudah ia mencapai orgasmenya. Mungkin sprei kini sudah basah oleh semburan dari rasa nikmat yang melambungkannya, sedangkan Bradd, melepas celananya saja belum.
"Kamu puas, Sayang?" bisik Bradd di telinga Jenny, sebelum daun telinga Jenny ia gigit perlahan.
"Belum puas kalau si kecil Bradd belum masuk Daddy" sungut Jenny pura-pura kesal. Bradd terbahak mendengar jawaban Jenny.
"Jadi kamu memginginkan si kecil Bradd berada di dalam tubuhmu, hmmm," Bradd meremas dada Jenny lembut.
"Daddy pasti lebih mengerti hal itu dari akukan. Please Daddy, jangan permainkan aku," rengek Jenny.
"Aku sedang berusaha memberimu kepuasan Jenny, bukan sedang mempermainkanmu"
"Hhh, baiklah, apa sebaiknya sekarang kita mandi, lalu makan siang, mungkin kita harus melupakan si kecil Bradd sialan itu!" ancam Jenny.
"Hey, jangan memaki seperti itu, Honey!" Bradd menarik ujung dada Jenny dengan perasaan gemas.
"Jadi maunya Daddy apa?"
"Mauku, tentu saja memuaskan si kecil Bradd, Jenny"
"Orang tua labil! Tadi aku memohon, Daddy justru mempermainkan aku, sekarang di an... hummp" Bradd menyumpal mulut Jenny dengan pagutan bibirnya. Sementara kedua tangannya tergesa melepas celananya, yang terasa sesak sejak tadi.
'Siapa yang ingin melupakan Bradd kecil Jenny, kamu tidak boleh, dan tidak akan pernah bisa melupakan, atau menolak Bradd kecil. Hanya dia yang berhak merasakan nikmatnya surga yang ada di dalam tubuhmu. Argghhh, gadis kecilku ini, sekarang membuat apa yang selama ini selalu mampu aku tahan, kini tidak lagi mampu aku kendalikan. Si Bradd kecil bertingkah sangat nakal sejak mengenal sentuhanmu, Jenny, sangat nakal!'
__ADS_1
🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼