Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 7


__ADS_3

🌼🍍🍍🌼


Bradd tiba di rumah saat dokter pribadinya yang dihubungi Teresa, sudah selesai memeriksa Jenny. Dengan hati berdebar, Bradd menunggu dokter Markus menyampaikan hasil pemeriksaannya.


"Jenny hanya masuk angin Bradd, putrimu itu sepertinya kurang tidur" ujar dokter Markus.


"Kurang tidur?"


"Iya, kamu harus mengawasinya dengan baik. Pastikan dia tidak tidur terlalu larut malam."


"Baik dok, terimakasih" Bradd menarik napas lega, karena yang ia khawatirkan tidak terjadi pada Jenny.


"Obatnya ada pada Teresa, aku pergi dulu ya. Selamat siang," dokter Markus menepuk bahu Bradd.


"Selamat siang," Bradd menjabat tangan dokter Markus. Dokter Markus turun ke lantai bawah, dengan ditemani Teresa, sementara Bradd masuk ke dalam kamar Jenny.


Jenny terbaring di atas ranjang, di bawah selimut tebal. Wajahnya tampak pucat, Bradd duduk di tepi ranjang, dirapikannya helaian rambut yang ada di kening Jenny.


Jenny membuka matanya perlahan.


"Daddy.... "


"Istirahatlah, kamu harus tidur, dan banyak istirahat" Bradd mengusap pipi Jenny lembut.


"Maaf, aku jadi merepotkan Daddy," ucap Jenny lirih.


"Sejak kapan ada orang tua yang merasa direpotkan oleh putrinya" sahut Bradd, diusap pipi Jenny lembut. Jenny memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut jemari Bradd di pipinya, yang kelembutannya merasuk sampai ke dalam hatinya.


"Tidurlah," Bradd mengecup kening Jenny. Ia bangkit dari duduknya, tapi Jenny menahan lengannya. Bradd kembali duduk di tepi ranjang.


"Daddy.... "


"Ya," Bradd menatap Jenny.


"Daddy ingin kembali ke kantor?"

__ADS_1


"Iya, ada apa?"


"Ehmm, tidak.... " Jenny melepaskan lengan Bradd, dan menggelengkan kepalanya. Jenny menolehkan kepala kesamping, untuk menghindari tatapan mata Bradd yang tampak menyelidik. Bradd sempat melihat rasa kecewa terpancar dari sorot mata Jenny.


"Ada apa? Katakan saja Jenny" pinta Bradd. Jenny menggelengkan kepala, tanpa mau menatap Bradd.


"Kamu tidak ingin Daddy kembali ke kantor? Kamu ingin Daddy tetap di sini?" Bradd meraih dagu putrinya, agar Jenny menatap ke arahnya.


Bradd tersenyum, ia bangun dari duduknya, dilepas jas, dan dasinya, ia lipat lengan bajunya hingga siku. Lalu ia lepas sepatu juga kaos kakinya. Setelah itu ia naik ke atas ranjang, dan berbaring di sebelah Jenny. Ia angkat kepala Jenny, lalu diletakan di atas lengannya.


Jenny menatap wajah Bradd, bibirnya tersenyum untuk daddynya.


"Terimakasih, Daddy. I love you," ucap Jenny, sebelum ia memejamkan matanya. Jenny meletakan satu tangannya di atas dada Bradd. Bradd mengusap punggung Jenny, yang berbaring dengan separuh tubuh di atas tubuhnya. Hanya sebentar saja, terdengar tarikan napas Jenny yang mulai teratur, sebagai pertanda Jenny sudah tertidur.


Perlahan, Bradd menarik tubuhnya yang dihimpit separuh tubuh Jenny. Dengan perlahan pula ia mengangkat kepala Jenny agar tidak lagi berbantalkan lengannya. Dengan sangat hati-hati, Bradd merapikan posisi tidur Jenny. Diletakan kepala Jenny di atas bantal, ditarik selimut untuk mentupi tubuh putrinya, yang kini baru ia sadari, sudah menjelma menjadi wanita dewasa secara fisiknya.


Dengan hati-hati pula, Bradd turun dari ranjang, dirapikan kemejanya, dikenakan lagi dasi, dan jasnya, juga kaos kaki, dan sepatunya. Sebelum ia meninggalkan kamar, dikecup dulu kening Jenny, dengan rasa sayang dari dalam hatinya.


🌼🌼🍍🌼🌼


Bradd tahu, Jenny marah karena ia sudah meninggalkannya.


"Marah sama Daddy ya?" Bradd duduk di samping Jenny, lalu mengacak rambut di puncak kepala Jenny. Jenny menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban dari pertanyaan Bradd.


"Tapi wajahmu kenapa ditekuk begitu, Jenny?"


"Tidak apa-apa, Daddy."


"Bagaimana kalau malam ini makan di luar dengan Daddy?"


"Aku sedang tidak selera makan, Daddy"


"Kenapa?"


"Badanku masih terasa tidak enak."

__ADS_1


"Obatnya sudah diminum?"


"Sudah," Jenny menganggukan kepala.


"Daddy mandi dulu ya"


"Hmmm," Jenny menjawab dengan menggumam saja.


Perubahan sikap Jenny sangat terasa sejak pulang dari pelariannya. Bradd merasa putrinya itu semakin manja, tatapannya terasa berbeda dari biasanya, begitupun gerak tubuhnya di saat mereka bersama. Namun Bradd tidak tahu, apakah itu hanya perasaannya, ataukah memang seperti itu adanya.


🌼🌼🍍🌼🌼


Bradd masih disibukan dengan pekerjaannya. Ia duduk di kursi kerja yang ada di dalam ruangan kerja yang ada di sebelah kamar tidurnya. Laptop masih terbuka di atas meja di hadapannya.


Bradd menatap jam yang ada di sudut bawah layar laptopnya. Angka yang tertera menunjukan pukul 01.25 dini hari.


Bradd mengangkat dan membentangkan ke atas kedua tangan, lalu menggerakan tubuh untuk meregangkan pinggang yang terasa pegal. Di matikan laptop, lalu ia beranjak meninggalkan kursi, dan mematikan lampu, sebelum ke luar dari ruangan kerjanya.


Bradd menuju kamar tidur, tangannya sudah memegang gagang handel pintu, ketika ia teringat pesan dokter Markus, agar memperhatikan Jenny, yang sakit karena kurang tidur.


Bradd menuju kamar Jenny, ia ketuk perlahan, dan memanggil nama Jenny, namun tidak terdengar jawaban dari dalam. Perlahan Bradd memutar handel pintu, ternyata tidak terkunci. Bradd membuka pintu, ia masuk ke dalam kamar tidur Jenny, lalu kembali menutup pintu kamar, sebelum mendekat ke tempat tidur.


Bradd baru menyadari, kalau samar terdengar suara dari laptop Jenny yang terbuka, dan berada di samping tubuh Jenny yang tertidur. Bradd terdiam sejenak, melihat posisi tidur, dan pakaian tidur Jenny yang sangat menantang. Satu kaki Jenny ditekuk, kaki lain tetap lurus, namun kedua pahanya terbuka lebar, memperlihatkan area sensitifnya yang masih terbungkus celana dalam warna merah muda.


Bradd mendekat, saat merasa ragu akan penglihatannya. Keningnya berkerut, saat mendapati celana dalam putrinya itu terlihat basah. Tatapan Bradd naik kebagian atas tubuh Jenny. Satu tangan Jenny ada di atas perut, yang satu lagi pada posisi menggenggam sebelah buah dadanya. Mata Bradd mengerjap, bagian atas tubuh Jenny tanpa tertutup apapun. Dada Jenny yang bulat indah terpampang menggoda imannya.


Suara dari laptop mengalihkan fokus Bradd. Bradd mengambil laptop Jenny, lalu melihat ke layar laptop, ingin tahu apa yang sebenarnya tadi ditonton putrinya.


Hati Bradd terkesiap, saat menyaksikan adegan di film yang ada di laptop Jenny. Film untuk dewasa, si pemeran sedang bercinta dengan ganasnya. Bradd segera mematikan latop Jenny, sebelum ia benar-benar tegoda.


Laptop Jenny diletakan kembali di atas ranjang, agak jauh dari tubuh Jenny. Perlahan ditariknya selimut, untuk menutupi tubuh Jenny yang hampir polos. Bradd tidak bisa mengingkari, ada getaran di dalam hatinya, ada rasa panas menjalari tubuhnya, saat melihat keindahan tubuh Jenny.


Bradd segera ke luar dari dalam kamar Jenny, sebelum ia tak mampu lagi menahan dirinya. Meski Jenny sudah seperti putri kandungnya, tapi Jenny bukanlah darah dagingnya. Hal itulah yang mungkin membangkitkan sisi terdalam dari dirinya.


🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2