
Bradd menghentikan usapan, saat telinganya mendengar suara erangan Jenny.
'Ya Tuhan, ini harus dihentikan. Meski tubuhku merespon, tapi hatiku belum bisa menerima ini. Jenny bagiku, adalah putriku, yang harus aku jaga, bukan istri yang pantas untuk aku tiduri.'
Bradd membopong tubuh Jenny, Jenny menyembunyikan wajah dilekukan leher Bradd. Bradd membaringkan tubuh Jenny di atas tempat tidur. Lalu dipungut selimut dari lantai, ia tutupkan ke atas tubuh Jenny. Bradd duduk di tepi ranjang, ia bisa melihat sorot kecewa dalam mata Jenny.
Bradd menggenggam jemari Jenny, lalu ia kecup dengan lembut.
"Tidurlah Jenny, Daddy tidak akan kemana-mana."
"Janji ya Daddy"
"Iya sayang, tidur ya." Bradd bangkit dari duduknya, diambil laptot dari atas ranjang Jenny. Ia letakan di atas meja. Lalu kembali ia mendekati Jenny, tubuhnya membungkuk, satu kecupan ia berikan di kening Jenny.
"Selamat tidur ya, Daddy menyayangimu."
"I love you, Daddy," Jenny menatap wajah Bradd yang berada di atas wajahnya. Bradd tersenyum, lalu mengecup pipi kanan Jenny.
"Tidurlah," ucap Bradd lembut.
"Jangan kemana-mana ya Daddy"
"Iya, Daddy ada di kamar sebelah ya. Selamat malam, selamat tidur Jenny."
"Selamat tidur, Daddy, i love you"
"I love you too."
Bradd menunggu Jenny memejamkan mata, baru ia pergi dari kamar Jenny. Bradd tahu, emosi Jenny masih sangat labil. Ucapannya belum bisa dipegang, keiginannya masih berubah-ubah. Bradd mengingatkan dirinya sendiri, agar tidak mengambil kesempatan dalam kelabilan sikap Jenny.
Bradd diam sejenak di ambang pintu, ditolehkan kepalanya untuk menatap Jenny. Jenny benar, dia memang sungguh sudah dewasa, namun belum bisa mengatur emosinya.
Bradd menutup pintu, lalu berlalu dari kamar Jenny, untuk kembali ke dalam kamarnya.
Baru saja Bradd ingin melepaskan pakaian, saat ponselnya berbunyi.
"Mary!" Bradd mengernyitkan keningnya, tapi ia enggan menerima telpon dari Mary.
Bradd mengacuhkan panggilan ponselnya, namun saat ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk, Bradd tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Bradd
__ADS_1
Tolong bantu aku, aku sedang menuju rumah sakit, tapi mobilku bannya bocor, aku tidak bisa menggantinya dengan ban serep sendiri, Bradd. Dan aku tidak tahu harus minta bantuan siapa. Kamu tahukan, aku baru pindah lagi ke kota ini. Tolong bantu aku Bradd'
Bradd menatap lekat layar ponselnya, ia sedang mempertimbangkan sesuatu, lalu ia menulis pesan untuk Mary.
'Kamu di mana?'
Mary menuliskan posisinya saat ini, jalan yang sangat dikenal oleh Bradd.
'Oke, tunggu saja di sana'
'Terimakasih Bradd'
Bradd mematikan ponselnya, ia ke luar dari dalam kamarnya, lalu setengah berlari menuruni anak tangga. Teresa yang selalu siaga menyambutnya di dasar tangga.
"Tuan"
"Panggilkan Simon, Teresa"
"Baik, Tuan."
Teresa ke luar melalui pintu di samping kiri rumah, di mana kamar Simon berada.
Tidak begitu lama, Teresa datang bersama Simon.
"Ya Tuan"
"Salah satu temanku sedang perlu bantuan. Ban mobilnya bocor, dan dia tidak bisa mengganti sendiri ban mobilnya. Dia harus segera ke rumah sakit, anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Aku ingin kamu pergi menemuinya, bantu dia mengganti ban mobilnya."
"Siap Tuan, tapi di mana?"
Bradd menyebutkan di mana Mary berada.
"Siap Tuan"
"Kamu jangan pergi sendiri, bawa Neil bersamamu," Bradd menyebut nama supir pribadinya.
"Siap Tuan"
"Pergilah sekarang Simon"
"Baik Tuan"
__ADS_1
Simon berlalu, tinggal Bradd bersama Teresa yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan diantara Bradd, dan Simon.
"Tuan"
"Ya"
"Apa Mary yang Tuan maksud, adalah Mary Smith?"
"Ya, kamu mengingatnya, Teresa?"
"Maaf, Tuan. Setahu saya, Mary tidak memiliki anak. Saya pernah bertemu pekerja di rumah orang tuanya. Dia mengatakan, Mary menikah dengan seorang pemilik teater keliling. Mary menjadi salah satu pemain di teater keliling tersebut. Tapi mereka memang tidak pernah singgah untuk pentas di sini."
Bradd menatap Teresa dengan rasa tidak percaya.
"Kamu yakin akan hal itu, Teresa?"
"Seperti itulah yang dikatakan pegawai di rumah orang tuanya," jawab Teresa. Bradd mengepalkan kedua telapak tangannya, ia merasa marah karena Mary sudah membohonginya.
"Apa maksud Mary membohongiku!"
"Sebenarnya, apa saja yang sudah Mary ceritakan pada Tuan?"
Bradd menceritakan secara singkat, apa saja yang sudah dikatakan Mary padanya.
"Ya Tuhan, apa sebenarnya tujuan Mary?"
"Aku juga tidak tahu, Teresa. Sebaiknya besok kamu datang ke rumah orang tuanya, cari informasi sebanyak mungkin dari temanmu yang menjadi pegawai di sana. Aku ingin tahu, seperti apa hidup Mary sebenarnya, dan apa yang membuat Mary membohongiku selama ini," suara Bradd terdengar sangat geram.
"Baik Tuan, besok saya akan datang ke sana. Tuan sendiri harus waspada, kita tidak tahu, apa yang mereka inginkan sebenarnya."
"Itu pasti Teresa, kita harus punya bukti yang benar-benar kuat dulu, sebelum kita lapor Polisi."
"Saya setuju, Tuan"
"Baiklah Teresa, terimakasih atas informasimu, aku kembali ke kamarku dulu."
"Baik Tuan, selamat malam, dan selamat tidur, Tuan."
Bradd menganggukan kepala, lalu ia menaiki tangga, menuju kamarnya. Saat ini perasaannya geram, sekaligus penasaran. Jika yang dikatakan Teresa benar, maka apa motif Mary masuk kembali dalam hidupnya, dan membohonginya. Itu benar-benar membuat Bradd harus berpikir keras.
Bradd tiba di depan pintu kamarnya, kepalanya menoleh untuk menatap pintu kamar Jenny. Ada keinginan kuat di dalam hatinya, untuk melihat apa yang sedang dilakukan putrinya. Sudah tidur, ataukan masih asik menonton film dewasa.
__ADS_1
Rasa ingin tahu itu, membuatnya melangkah menuju kamar Jenny. Ditempelkan telinganya di daun pintu, untuk mendengarkan suara-suara dari dalam. Tapi, ia tidak mendengar apa-apa, Bradd lebih lekat menempelkan telinganya. Ia tidak menyadari kalau kenop pintu berputar, dan....
🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼