
Frans pergi ke rumah nenek dengan berjalan kaki diantar Tania, sepupunya Kenzo. Mereka mengobrol sepanjang jalan menuju rumah baru nenek yang tidak jauh dari rumah lamanya.
"Oh iya, Frans. Elu mau lanjut kuliah di mana?" tanya Tania tanpa menatap padanya.
Frans pun sama, menjawab pertanyaan Tania tanpa menoleh sedikitpun. "Keknya gue lanjut di Jerman aja deh, Tan. Soalnya, Kakek nggak ada yang nemenin."
Sontak wajah Tania menoleh ke arah pemuda itu. "Waaaah, kalo elu ke luar negri, gue kesepian dong!" selorohnya sembari cengengesan.
Pemuda tersebut terkekeh sambil ikut menoleh. Lalu, ditariknya tubuh Tania merapat dengan tubuhnya kemudian tangannya mengacak-acak rambut panjang gadis tersebut hingga membuat si empunya protes. "Kalo elu nggak mau kangen gue, sebaiknya elu bareng gue aja kuliahnya di Jerman!" cetusnya membuat Tania bersemangat.
"Serius? Elu nggak keberatan kalo gue ikut bareng elu?" tanya gadis itu antusias dan Frans hanya mengangguk. "Yeah, makasih sayang! Eh, Frans." ralat Tania keceplosan.
Seulas senyuman terukir manis di bibir Frans. Tanpa ingin membantah perkataan Tania, Frans justru menggandeng tangan gadis itu. "Kenapa? Elu beneran sayang sama gue?" seketika Tania mendongak menatap Frans yang akan berkata lagi. "Gue juga sayang kok sama elu," cetusnya sembari tersenyum menggoda.
Tania tersentak menatap pemuda yang biasa bersikap dingin itu. Tingkah laku Frans tidak seperti biasanya_dingin dan cuek. Sekarang Frans menjadi pemuda yang pandai bergurau dan senang menggoda.
Frans meninggalkan Tania di belakang yang masih termenung menatap punggungnya. Pemuda itu lantas menoleh sebab Tania belum juga menyusul langkahnya. "Hei, gadis! Mau diem di situ terus? Enggak mau jalan gandengan sama gue?" selorohnya lagi menggoda.
Lagi. Tania termenung lalu memalingkan wajahnya yang memerah ke samping. "Tahu ah, elu nyebelin." desisnya tersipu sedangkan Frans terkekeh genit.
Mereka terus berjalan menyusuri gelapnya malam menuju rumah baru nenek. Jalan pintas yang Tania katakan dan sekarang mereka lalui, memang lebih dekat dibanding harus memutar jalan besar.
Rumah nenek sudah terlihat dari bagian belakang karena memang jalan pintas itu mengarah langsung ke dapur rumah.
"Kita sampai Frans, ayo masuk!" ajak Tania kepada Frans lalu memanggil neneknya saat mengetuk pintu dapur rumah. "Nek ... Nenek!" Namun nenek tak menyahuti panggilan cucu perempuannya itu. "Nek ... Nenek!" panggilnya lagi seraya mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci. "Nenek lupa mengunci pintu lagi," gerutunya seraya mengajak Frans masuk.
Saat mereka masuk ke dalam, terdengar deru motor dari halaman depan.
"Ada tamu?" Tania mempercepat langkah menuju ruang tamu untuk melihat tamu yang datang diikuti Frans yang setia mengekor di belakangnya.
Ternyata, ia tidak sempat melihat tamu yang datang tadi sebab mereka keburu pergi dengan motornya.
__ADS_1
"Siapa yang datang, Tan?" tanya Frans penasaran.
"Enggak tahu gue. Keknya mereka baru aja pergi," jawab Tania menutup kembali gorden yang disingkap tadi. "Si tengil pasti di kamar depan. Yuk, ikut gue!" ujarnya kembali mengajak Frans.
Tok tok tok
Tania mengetuk pintu kamar meminta izin si pemilik sebelum masuk. Terlihat Kenzo sedang berbaring lemah dengan mata terpejam dan dibalut selimut tebalnya.
"Kenzo!" seru Frans seraya melangkah mendekati ranjang.
Si pemilik nama pun membuka mata seketika kala mendengar suara temannya. "Emh, Frans!" desisnya lirih.
"Elu kenapa?" Frans bertanya dengan nada khawatir.
"Gue cuma pusing sama sakit perut aja," sahutnya lirih.
"Asam lambung lu kumat," cetus Tania yang ternyata diangguki Kenzo. "Tuh 'kan, udah gue bilang, kalo elu harus banyak makan biar sehat. Elu sih ngeyel!" selorohnya mencibir.
Mata Tania membelalak diikuti lirikan tajam. "Elu kata gue itu kardus, seenaknya mau di lakban!" suaranya meninggi karena kesal.
"Elu bukan kardus, tapi radio butut yang sering berkoar di malam hari." ujar Kenzo terus mengejek.
Tania mendekat lalu menjewer telinga Kenzo hingga pemuda tersebut berteriak. "Dasar adik sepupu lucknat,"
Dan terjadilah perdebatan antara kakak dan adik sepupu itu di depan Frans, membuat pemuda tersebut jengah sebab keduanya tidak ada yang mau mengalah.
Walaupun Kenzo sedang sakit, tapi pemuda itu selalu bersemangat jika meladeni perdebatan kakak sepupunya tersebut.
Frans menggelengkan kepala. "Apa kalian nggak capek setiap kali bertemu langsung berantem? Gue pusing dengernya," Frans melerainya.
"Dia duluan yang mulai!" Kenzo dan Tania saling menunjuk satu sama lain.
__ADS_1
"Haish. Elu 'kan lagi sakit, Ken. Bisa-bisanya nyisain tenaga buat berantem sama Tania." Tania tertawa puas melihat Kenzo dimarahi Frans. "Elu juga Tan, dia 'kan lagi sakit. Kenapa elu malah pancing emosinya," kini giliran Kenzo yang cekikikan. "Dasar bocah," ejeknya kemudian sembari melangkah keluar kamar.
Seketika suasana menjadi senyap selepas kepergian Frans dihiasi lirikan mata Kenzo dan Tania. Namun, tidak lama kemudian gadis itu keluar mengikuti langkah Frans.
Frans melakukan panggilan telpon kepada Khanza untuk mengabarinya bahwa Kenzo sudah ketemu. Kini wanita tersebut bisa tenang dan tidak mengkhawatirkan adiknya lagi.
Setelah mengabari Khanza tentang keberadaan adiknya, Frans duduk termenung di ruang tamu. Pemuda itu kini sedang memikirkan kondisi Kayla sebab gadis tersebut dikabarkan sakit.
Frans sungguh mengkhawatirkan kondisi tubuh Kayla saat ini. Entah bagaimana keadaannya setelah seharian menempuh perjalan jauh dalam kondisi sakit.
Pemuda tersebut menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya kasar. Pikirannya tertuju hanya pada Kayla, gadis pujaannya.
Merasa ada yang memperhatikan, wajah Frans pun menoleh ke samping. Di sana sudah berdiri Tania dengan secangkir teh hangat di tangan sembari memperhatikannya. "Ngapain elu liatin gue kek gitu?!"
Tania mendengus. "Liatin doang nggak boleh!"
"Jangan! Takutnya elu jatuh cinta sama gue. 'Kan bahaya," sahut Frans asal namun membuat Tania tersipu.
Deg
Gadis itu langsung memalingkan wajah ke arah lain karena merasa canggung. Memang benar dia sangat mencintai Frans, tapi Tania tidak tahu cara mengungkapkannya.
Larangan Frans hanya dianggap sebagai guyonan oleh Tania. Toh, apa salahnya jika mencintai seseorang? Bukankah itu sah saja, walaupun yang disukai kita tidak membalas.
Tania menyukai Frans sejak mereka dibangku SMP. Frans yang selalu jahil kepadanya, membuat Tania terbiasa dengan gangguan dari pemuda itu hingga mereka tidak bertemu beberapa tahun sebab Kenzo sang adik sepupu dari Tania tidak pernah mengajak Frans untuk berlibur ke Bandung lagi.
Gadis itu sangat merindukan sosok Frans yang jahil, dingin, sombong, dan juga cuek. Dalam hati Tania sangat-sangat mengagumi Frans si pemuda cuek itu.
'Andai elu tahu kalo gue udah jatuh cinta sama lu dari dulu, Frans.'
...Bersambung ......
__ADS_1