Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 95. HARUS PERGI


__ADS_3

Selama tiga hari berturut-turut, Dara datang ke kantor Windu saat jam makan siang dengan membawa makan siang untuk suaminya itu. Sekarang di dalam ruangannya itu telah di masukkan sebuah meja makan minimnalis dengan dua kursi di sebuah sudut ruangan, atas permintaan Windu.


Windu sebenarnya sangat senang akhirnya Dara menjadi sangat perduli dengan pekerjaan dan semua kegiatannya, jadi selama asistenya Ricky belum kembali bekerja dia tidak keberatan Dara menemaninya setiap jam makan siang.


Hanya saja dia kadang kuatir dengan Dara yang sedang dalam kondisi hamil trimester pertama menuju trimester kedua itu, dia takut membuat istrinya itu menjadi terlalu lelah, tetapi Dara tampaknya bertekad untuk mendampingi sang suami selama dua minggu ke depan, dia sama sekali tak mengeluh selalu dartang pada jam 11.30 WIB tepat dengan senyum secarah matahari pagi.


Windu melirik kearah jam di pergelangan tangannya, sudah lewat lima belas menit dari seharusnya Dara muncul di pintu itu seperti biasanya.


Sebelum Windu mengambil ponselnya untuk menghubungi Dara, tiba-tiba pintu di ketuk.


"Ya, sayang...masuk saja pintu tidak di kunci." Suara Windu terdengar di buatnya sekeras mungkin, supaya Dara mendengarnya.


Pintu itu terbuka dan sejenak wajah Windu menjadi memerah karena yang muncul bukan Dara tetapi Fuji, wajahnya juga sedikit berubah pias karena samar dia mendengar Windu menyahut dari dalam dengan kata sayang.


"Maaf, pak...saya mengantarkan surat dari ruangan pak Danuar untuk bapak." Dengan langkah malu-malu dia menuju ke meja Windu.


"Oh, bawa saja kemari." Windu tak bergerak dari belakang meja kerjanya, sedikit salah tingkah karena mengira Fuji adalah Dara.


Dengan wajah sedikit menunduk Fuji mengangsurkan sebuah surat beramplop cokelat kepada Windu.


"Letakkan saja di situ." Ucap Windu tanpa menoleh sama sekali, dia terlihat sibuk berusaha menghubungi Dara yang belum datang-datang juga.


"Tapi, pak..." Fuji tampak ragu, amplop itu masih berada di udara menunggu Windu untuk menyambutnya.


"Sekretaris pak Danuar meminta tanggapan bapak segera setelah membaca surat ini, dan saya akan menyampaikannya segera ke ruangan pak danuar." Sahut Fuji dengan takut-takut.

__ADS_1


Sekarang Windu mendonggakkan wajahnya, menatap langsung pada Fuji yang membalas tatapannya dengan cara yang sedikit berbeda. Tatapan itu tak menunjukkan kalau dia sebenarnya malu untuk bertemu pandang dengan Bosnya itu.


"Hmm..." Windu mengambil amplop surat itu dari tanggan Fuji dengan sedikit penasaran.


Tanpa berbicara lagi di robeknya amplop surat itu dan membaca isi dari surat itu. Alisnya bertaut, sebuah undangan untuk pertemuan dari organisasi ikatan pengusaha yang akan di selenggaran di Bali tiga hari lagi dan tertera Pak Danuar sebagai salah satu pembicaranya.


Windu menatap sesaat pada Fuji yang masih berdieri mematung di depan meja bosnya itu, bukankah surat ini di tujukan kepada papaku, kenapa menyerahkan kepadaku?"


"Surat itu memang untuk pak Danuar tetapi menurut sekretarisnya, pak Danuar tidak bisa menghadiri pertemuan itu, jadi meminta untuk Pak Windu yang mewakilkan beliau." Jawab Fuji cepat.


Windu sedikit terkejut mendengarnya, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi papanya itu.


"Hallo..."


"Hallo, pa...aku sudah membaca surat undangan itu."


"Tapi pa, aku tidak siap untuk pergi." Tolak Windu dengan suara berat.


"Win, pertemuan ini penting, perusahaan kita dipercayakan untuk menjadi pembicara dalam peretemuan ini, dengan demikian berarti perusahaan kita di anggap bagus lho. Jadi papa harap kamu tidak mengecewakan papa untuk mewakili papa dan nama perusahaan kita."


"Tapi..."


"Tema yang di minta hanya tentang pengelolaan dan pengembangan bisnis garmen di dalam Negeri, untuk materi itu papa yakin kamu sudah menguasainya tidak hanya sekedar teori tetapi juga sudah pada implementasinya. Tentu saja kamu pasti lebih pintar dari papa dalam penyampaiannya. kamu adalah penerus usaha ini, kepada siapa lagi papa mengharapkan pengaderan estafet kepemimpinan jika bukan kepadamu. Dan papa rasa kamu sudaqh cukup mampu untuk memimpin perusahaan ini jika papa akan pensiun." Suara itu terdengar begitu lugas membuat Windu tak bisa berkata apa-apa.


"Oh, iya...untuk ke sana biar sekretaris papa yang mengurus persiapan keberangkatanmu besok menggunakan jet papa saja, kamu tinggal berangkat kapanpun kamu siap, beritahu ke Dewi dia kan mengurusnya. Bawalah seseorang jika kamu rasa perlu untuk mengurus keperluanmu di sana. Tentu saja, yang paling penting persiapkan materimu dengan baik, karena kamu adalah wajah perusaan kita di sana jadi bersikaplah dewasa dan bertanggungjawab. Okey, papa rasa itu saja nak, sampai bertemu di meja makan malam nanti."

__ADS_1


Panggilan itu di tutup tanpa sempat Windu mengucapkan apa-apa yang berarti papanya tak mau mendengar alasan apapun.


Windu menantap ponsel di tangannya bergantian dengan wajah Fuji yang masih berdiri dengan tertunduk di depan mejanya.


"kamu belum pergi?" pertanyaan itu terdengar agak gusar, Windu masih sedikit bingung dengan keberangkatannya yang mendadak itu.


"Tapi, sekretaris pak danuar menunggu jawaban dari bapak." sahut Fuji dengan tergagap.


"Aku tidak perlu menjawab apapun, aku sudah menelpon papa."


"Ibu Dewi masih menunggu di luar."


"Katakan saja pada bu Dewi,  siapkan semuanya aku akan berangkat menghadiri konfrensi itu mewakili papa." Windu mengibaskan tangannya tanpa menoleh lagi, memberi isyarat Fuji untuk keluar dari ruangannya.


Bukan masalah bagi Windu jika dia yang akan jadi pembicara yang kini sedang membuatnya tiba-tiba puyeng tetapi dia masih enggan keluar kota untuk meninggalkan Dara yang sedang hamil muda itu. Dia menikmati merawat dan meladeni isterinya yang tiba-tiba manja luar biasa dengannya itu. Dan hal lain yang sedikit menganggu adalah Ricky asisten dan teman yang biasanya mengurus segala sesuatunya untuk dirinya jika sedang dinas di luar kota sekarang sedang cuti. Windu sedang mempertimbangkan menghubungi Ricky, berharap temannya itu bisa memajukan masa cuti lebih cepat.


Fuji menganggukkan kepanya dan berbalik, tampak sekali dia terlihat sedikit kesal dengan sikap bosnya yang dingin luar biasa itu. Bahkan sang bos itu sama sekali tidak betah melihatnya, rasanya sia-sia dia telah ke salon membuat penampilannya lebih kinclong untuk terlihat lebih menarik.


Yah, Fuji adalah perempuan yang terbiasa di puja oleh orang-orang-orang karena kecantikan dan kemolekannya, dia tidak pernah menerima penolakan dari siapapun. baru saat menjadi asisten sementara Windu dia merasa kecantikan dan kelebihan yang sangat di banggakannya ini tak berarti apa-apa.


Windu begitu dingin seperti balok es yang begitu susah mencair tetapi beberapa hari yang alau dia baru merasakan betapa irinya pada perempuan bernama Dara, istri dari bosnya itu. saat Windu berhadapan dengan istrinya itu, dia melihat kilat cinta yang luar biasa, dia begitu hangat dan romantis hanya dalam sekali menatap wajah istrinya itu.


(Hari ini akak coba mulai Crazy UP selama seminggu, ya, menjelang tamat😅😅😅 Doakan akak Othor kuat😂😂 Jamgan lupa VOTE dan dukungannya untuk memberi semangat othor🙏😆)


__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...


__ADS_2